JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gempa megathrust berpotensi mengguncang Surabaya, Jawa Timur.
Pemerintah Kota Surabaya pun sudah melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan tempat evakuasi dan membentuk tim ahli bangunan gedung.
Koordinator Early Warning System (EWS) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Surabaya Ariska Rudianto mengatakan, pemetaan tingkat risiko gempa di suatu wilayah tidak bisa hanya dari satu aspek.
Setidaknya, ada tiga aspek yang saling berkaitan dan bersifat dinamis, bisa berubah kapan saja, termasuk di Surabaya.
Tiga aspek itu adalah bahaya (hazard), keterpaparan (exposure), serta kerentanan (vulnerability). ”Untuk risiko pasti di Surabaya, perlu kajian lebih mendalam,” ujarnya.
Bila mengacu aspek bahaya, kata Ariska, risiko gempa megathrust di Surabaya terbilang menengah.
Itu disebabkan sumber gempa megathrust cukup jauh. Namun, jika dilihat dari aspek keterpaparan, metropolis masuk pada kategori tinggi. Sebab, kondisi geologi Surabaya berada di kawasan basin atau endapan.
Ditambah lagi, jumlah penduduknya yang besar dan banyak bangunan bertingkat. Pada aspek kerentanan, Kota Pahlawan masuk kategori menengah lantaran regulasi tata kota yang sudah mengarah pada wawasan kebencanaan.
”Jadi, tingkat risiko di kemudian hari bisa berubah-ubah. Misalnya, tingkat kesadaran mitigasi bencana masyarakat yang semakin baik,” jelasnya.
Kondisi keterpaparan itu terlihat saat terjadi gempa di Bawean beberapa waktu lalu. Surabaya menjadi salah satu kota yang mengalami dampak paparan cukup tinggi dibandingkan wilayah lain.
Sementara itu, kekuatan Gempa Megathrust diprediksi mencapai magnitudo 8,7.
Tapi, lanjut Ariska, ancaman risiko gempa di Surabaya tidak hanya berasal dari megathrust di selatan Jawa. ”Ada juga risiko dari sesar-sesar lain yang sudah teridentifikasi,” jelas Ariska.
Editor : Imron Arlado