Rabu (15/5), tempat ibadah Wihara Majapahit, Desa Bejijong Kecamatan Trowulan mulai dipersolek. Sejumlah umat mulai memandikan patung Buddha terbesar se-Asia Tenggara tersebut.
Bhante Nyanaloka Stavira salah satu pemuka agama di Maha Vihara Majapahit itu menuturkan, makna memandikan patung Buddha bermaksud menyucikan batin jelang Hari Raya Waisak.
Itu berlangsung setiap tahun sebelum prosesi puncak Waisak. Para umat menaiki patung sepanjang 22 meter, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter itu dengan hati-hati.
Selain disemprot dengan air, mereka membersihkan kerak dan lumut yang menempel pada anatomi patung.
Prosesi sakral tersebut diakhiri dengan menyiram air bunga mawar. "Itu sebagai penghormatan kita kepada Sang Budha," kata Nyanaloka.
Peringatan Waisak 2568 BE mendatang bertema "Keharmonisan Merupakan Pedoman Hidup Berdampingan Dalam Berbangsa".
Nyana menambahkan, prosesi waisak pada tanggal 23 Mei mendatang diawali dengan pradaksina. Yaitu berjalan mengitari patung budha dan wihara, lalu memandikan rupang (sidharta kecil) dan diakhiri dengan puja bakti serta meditasi di detik-detik puncak waisak yang jatuh pada pukul 21.15 WIB.
Selain dari Mojokerto sendiri, ratusan umat diprediksi akan datang dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Jombang, Madiun, dan sekitarnya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan waisak di Trowulan Mojokerto akan menjadi daya tarik wisata.
Maha Vihara Majapahit merupakan tempat ibadah sekaligus salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Mojokerto," ujar Biksu Nyana. (fan/fen)
Editor : Fendy Hermansyah