KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Harga beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di Pracangan TPID Kota Mojokerto mengalami kenaikan.
Itu menyusul penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) dari sebelumnya Rp 10.900 menjadi Rp 12.500 per kilogram (kg).
Kabid Perdagangan Diskopukmperindag Kota Mojokerto Heri Setiawan mengatakan, kenaikan HET beras SPHP berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) 175/2024.
Tak tanggung-tanggung, perubahan HET yang berlaku mulai mulai per Mei ini menjadikan beras SPHP lebih mahal Rp 1.600 per kg dari harga sebelumnya.
’’Dari sebelumnya Rp 10.900, sekarang HET-nya menjadi Rp 12.500 (per kg),’’ terangnya.
Dengan naiknya patokan harga tersebut, mau tak mau dari 26 pracangan TPID di Kota Mojokerto juga turut melakukan penyesuaian harga.
Pasalnya, dalam regulasi Bapanas juga disebutkan harga pembelian di gudang Bulog turut mengalami kenaikan dari Rp 9.950 menjadi Rp 11.000 per kg atau naik Rp 1.050 per kg.
’’Karena harga ambil di gudang Bulog juga naik, maka ada yang Rp 12.300 dan maksimal Rp 12.500 (per kg),’’ urainya.
Saat ini, ungkap Heri, di masing-masing pracangan TPID juga tengah mengurangi jumlah stok beras SPHP. Selain harganya yang sedang naik, tingkat permintaan beras di masyarakat juga relatif masih rendah.
’’Karena menyesuaikan permintaan warga sekitar, akhirnya stok SPHP tidak banyak,’’ jarnya.
Demikian dengan di pasar tradisional. Tingkat pembelian juga juga masih stagnan setelah Hari Raya Lebaran. Menurutnya, lesunya permintaan tidak disebabkan karena kenaikan harga beras, tapi karena stok di tingkat rumah tangga masih tersedia.
’’Untuk stok beras di masyarakat masih ada, baik dari hasil operasi pasar, bantuan bapanas, maupun beras zakat. Sehingga, di pasar terjadi penurunan permintaan,’’ ulasnya. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi