RADARMOJOKERTO - Layaknya berbuat kebaikan yang akan dijanjikan dengan surga, Allah juga akan mengganjar keburukan dengan neraka.
KH Chusaini Ilyas menjelaskan, terdapat tujuh neraka yang akan dihuni manusia sesuai dengan amal dan perbuatannya.
Pertama, neraka jahanam yang menampung paling banyak penghuni di hari akhir.
Kedua, neraka jahim, sebagai tempat umat yang melupakan ibadah akibat berlomba-lomba mengumpulkan harta benda.
Ketiga, neraka wail, bagi orang yang gemar membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.
Keempat, neraka hutamah, bagi orang yang semasa hidupnya mengejar kekayaan dan percaya bahwa dengan harta ia akan kekal di dunia.
”Mereka akan didorong ke dalam neraka hutamah, yakni api yang membakar tubuh seseorang, namun yang gosong (terbakar) hatinya. Di sini manusia akan dibolak-balik di atas api.” terang Kiai Chusaini.
Kelima, neraka saqar, merupakan tempat bagi orang yang menunaikan salat tetapi salatnya bukan karena Allah SWT.
Orang yang masuk neraka saqar akan berkata, bahwa ia malas salat jika melakukannya karena Allah SWT.
Ia tidak memiliki rasa dermawan, dan tidak mau menolong satu sama lain.
Serta menyukai seseorang yang membicarakan kejelekan orang lain.
Keenam, neraka sair, merupakan neraka yang digemparkan setan agar manusia dapat dicemplungkan ke dalamnya.
Neraka ini merupakan neraka yang paling ringan hukumannya.
Akan tetapi, asapnya sama dengan wujud api di dunia.
Ketujuh, neraka ladza yang akan melepuhkan kulit penghuninya.
Namun ketika diangkat akan semakin terasa panasnya.
Sehingga para penghuni neraka ini akan memilih untuk berada di lautan api neraka ladza.
”Namun, api neraka dapat dipadamkan dengan dua hal, yakni (dengan) kalimah tauhid laa ilaaha illallah dan rasa cinta pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan neraka jahanam yang ganas pun akan menutup pintunya ketika mendengar kalimah tauhid,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto ini.
Dikisahkan, terdapat ulama sepuh yang membawa tujuh kerikil ketika wukuf di Arafah.
Ulama tersebut teringat akan semua dosanya, lalu membacakan satu per satu kerikil dengan kalimah tauhid.
Kemudian, ia dicekal oleh malikat untuk diseret ke neraka jahanam.
Ia hanya pasrah. Dilemparkannya ulama tersebut hingga ia berhenti di depan pintu jahanam dan mendengar lafaz tauhid yang lantang dan dirnya tidak tersentuh api, karena ditutupi kerikil yang dibisikkannya tadi.
Hal serupa terjadi di semua pintu, sehingga ulama tersebut terbebas dari siksa neraka.
”Oleh karena itulah di luar rukun haji, kita dianjurkan menanam kerikil yang sudah dibacakan kalimah tauhid. Layaknya tasbih, kerikil tersebut akan bersaksi kepada Allah, bahwa kita senantiasa mengucap tauhid,” pungkas kiai sepuh ini. (wilda mifta)
Editor : Moch. Chariris