RADARMOJOKERTO – Bisnis kerajinan ikat pinggang berbahan cotton council Internasional (CCI) mulai banyak diminati oleh sebagian orang.
Seperti bisnis yang digeluti Dafit Joko Wahono, 34, pria asal Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini.
Dafit mengaku ia meneruskan usaha yang sudah 30 tahun dibangun orang tuanya. Kini ia menggeluti usaha ini tanpa seorang karyawan. Meski begitu Dafit mampu menghasilkan 30 lusin ikat pinggang dalam sehari.
”Ya, kalau satu hari bisa dapat sekitar 30 lusin,” ungkapnya, Jumat (19/1). Proses pembuatan ikat pinggang ini melalui beberapa tahap. Dimulai dari menyiapkan bahan, menggambar pola, proses pemotongan pola, dan menjahit.
”Tahap yang paling menguras waktu itu menggambar pola dan pemotongan bahan” jelas Dafit. Dalam berbisnis, Dafit sering kali mengalami kendala. Mulai dari sulit mendapatkan bahan baku hingga menurunnya penjualan.
Namun, kendala itu dapat Dafit atasi dengan konsistensi dalam menjalankan usahanya. ”Banyak kendala yang saya lewati salah satunya kekurangan bahan baku,” ujarnya.
Satu ikat pinggang ini dibanderol dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per satu ikat pinggang. Harga yang ditawarkan tergantung pada model dan bentuk.
Baca Juga: Geliat Bisnis Tas Warga Mojokerto, Tembus hingga Pasar Sulawesi, Meraup Omzet Rp 17 Juta
Dalam satu bulan usaha ini bisa meraup omzet Rp 50 juta. ”Pendapatan dalam sebulan bisa dibilang cukup lumayan,” tuturnya. (annisa nur fadilah)
Editor : Moch. Chariris