Dikonfirmasi terpisah, Direktur Perumdam Mojopahit Mojokerto Fayakun mengaku baru mengetahui adanya keluhan tersebut. Pihaknya menjelaskan, proyek galian pipa tersebut bukanlah kewenangan instansinya. Lantaran proyek itu bukan pekerjaannya.
''Itu bukan proyek kami. Untuk yang di Dlanggu itu dari APBN,'' ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, dihubungi lewat telefon.
Pihaknya menegaskan, proyek tersebut merupakan pengerjaan pipa untuk air bersih. Akan tetapi, pengerjaannya bukan dari Perumdam melainkan dari PUPR yang bersumber dana APBN.
Pihaknya menambahkan, berdasar informasi yang diketahuinya, bekas galian proyek itu sebenarnya ditutup. Karena, kata dia, akan diaspal sehingga bekas galian tidak menganga sehingga menganggu aktivitas warga atau sekolah.
''Iya itu mau ditutup (diaspal) kok. Itu proyek dari APBN nanti kalau sudah selesai baru diserahkan ke Perumdam. Memang untuk (pipa) air,'' tambah Fayakun.
Sebelumnya diberitakan, jalur bekas galian pipa PDAM di Mojokerto dikeluhkan. Salah satunya berada persis di depan gerbang SMP Negeri 1 Dlanggu, Jalan Raya Dlanggu-Gondang.
Akses jalan masuk ke sekolah tersebut kini terdapat lubang seperti parit. Padahal, setiap hari akses itu jadi jalur keluar masuk pengantar dan siswa ke sekolah.
Anang Susilo, guru setempat mengatakan, pengerjaan bekas galian pipa PDAM di depan tempatnya bekerja belum tertutup sempurna. Beberapa bulan lalu, sebenarnya pengerjaan jalur pipa sudah ditutup rapi. ''Beberapa bulan lalu sudah tertutup rapi dilakukan oleh warga sekolah,'' kata dia kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.
Itu, kata dia, dilakukan demi keamanan pengendara dan penghuni sekolah yang keluar masuk melewati gerbang sekolah. ''Kini, empat hari lalu digali lagi oleh petugas atau kontraktor PDAM. Alasannya, mau ditutup aspal. Namun sampai hari keempat ini belum ada tanda-tanda pengerjaan,'' beber Anang.
Pihaknya meminta agar jalur itu segera diperbaiki atau jika memang ingin diaspal, agar segera diaspal. ''Kami bingung harus lapor siapa kalau masalah seperti ini,'' keluhnya.
Dirinya menyebutkan, akibat kondisi itu, membuat tidak nyaman pihak yang ingin keluar masuk ke sekolah. Seperti, pengantar siswa, guru, dan masyarakat yang ke SMPN 1 Dlanggu. ''Akses jalan masuk itu dilubangi seperti parit. Dampaknya membuat kurang nyaman, itu sudah berlangsung selama 4 hari,'' sebut Anang.
Dihubungi terpisah, Kabid Trantibmas Satpol PP Kabupaten Mojokerto Mahendra WW mengaku, keluhan masyarakat atau sekolah itu bisa dilaporkan ke saluran pengaduan milik Pemkab Mojokerto. Yakni, www.damarmojo.lapor.go.id. ''Bisa dilaporkan ke aplikasi ini agar dapat segera ditindak lanjuti,'' ungkapnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah