SURABAYA - Aroma kopi Jawa Timur kini tidak hanya dinikmati di warung kopi atau kafe dalam negeri. Permintaan kopi dunia yang terus meningkat membuka peluang baru bagi desa-desa penghasil kopi untuk menembus pasar internasional. Momentum inilah yang ingin dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pengungkit ekonomi desa.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai komoditas kopi menjadi salah satu sektor strategis yang mampu mempercepat lahirnya desa-desa mandiri. Jawa Timur memiliki kawasan penghasil kopi berkualitas yang tersebar di Kabupaten Malang, Pasuruan, Jember, Madiun, Wonosalam di Kabupaten Jombang, hingga sejumlah wilayah pegunungan lainnya.
Menurut Khofifah, meningkatnya permintaan kopi dunia harus dijawab dengan peningkatan kualitas produksi, hilirisasi, serta penguatan kelembagaan ekonomi desa.
’’Permintaan kopi dunia terus meningkat. Ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan desa-desa penghasil kopi di Jawa Timur. Yang perlu kita lakukan adalah menyemangati petani, meningkatkan kualitas produk, dan membuka akses pasar yang lebih luas agar nilai tambahnya benar-benar dirasakan masyarakat desa,’’ kata Khofifah kala menerima audiensi dengan Jawa Pos Radar Mojokerto di gedung Grahadi, Surabaya, Senin (6/7) lalu.
Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kopi tidak lagi dipandang sekadar komoditas pertanian. Kopi merupakan bagian dari ekosistem ekonomi desa yang melibatkan petani, kelompok tani, pelaku UMKM, industri pengolahan, hingga sektor pariwisata.
Karena itu, pengembangan kopi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produktivitas kebun, pengolahan pascapanen, penguatan merek lokal, hingga promosi kopi khas daerah.
Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperluas peluang kerja bagi masyarakat desa. Ketika kopi tidak hanya dijual dalam bentuk biji mentah, tetapi telah diolah menjadi produk bernilai tambah, manfaat ekonominya akan semakin besar.
Selain itu, banyak sentra kopi di Jawa Timur juga berkembang menjadi destinasi wisata berbasis perkebunan. Pengunjung tidak hanya menikmati cita rasa kopi, tetapi juga pengalaman wisata di kawasan pegunungan yang menjadi daya tarik tersendiri.
Melalui pendekatan tersebut, kopi diharapkan menjadi penggerak lahirnya desa-desa yang mandiri secara ekonomi. Potensi alam yang dimiliki Jawa Timur dipadukan dengan inovasi, pendampingan, serta perluasan akses pasar sehingga desa mampu mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi nasional maupun global. ’’Kalau desa mampu mengelola kopi dari hulu sampai hilir, nilai tambahnya akan kembali kepada masyarakat desa. Itulah yang terus kita dorong,’’ ujar Khofifah. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah