RADARMOJOKERTO - Awas jangan bermain api nanti sakit hati.
Tampaknya peribahasa itu tak berlaku bagi muda-mudi santri Pagar Nusa, Ranting Pondok Pesantren Al Hidayah, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.
Di bulan Ramadan ini, puluhan santri riang gembira mengisi waktu luang dengan bermain api.
Gelak tawa dan saling umpan bola api ini dilakukan setelah mengaji dan usai berlatih pencak silat.
Hamim, salah satu santri mengatakan, permainan tersebut adalah sebuah harmoni, menyatukan, sekaligus berolahraga.
”Belajar menjaga solidaritas, insya Allah mendapat berkah dan rahmat Allah di bulan Ramadan,” ujarnya, Sabtu (23/3) malam.
Tak banyak yang dilakukan untuk sekadar menggulirkan permainan sepak bola api tersebut.
Namun, sebelum memulai permainan mereka berdoa dan tawasul.
Tawasul ditujukan kepada para guru, aulia dan Nabi Muhammad SAW.
Bola api sendiri terbuat dari buah kelapa kering lalu direndam dengan minyak tanah selama dua hari, agar minyaknya meresap dan tak mudah padam.
"Ya panas, namanya juga bermain api. Tetapi alhamdulillah tidak melukai," imbuh Hamim.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Akmal Basayiban mengungkapkan, permainan sepak bola api ini memang sudah menjadi tradisi santri.
Hanya saja, lanjut dia, para santri memainkan bersamaan di bulan Ramadan.
”Ini permainan yang positif, bukan pamer kekuatan atau takabur,” tandasnya.
Editor : Moch. Chariris