Salah satunya yaitu es Dawet Majapahit ini yang terletak di Jalan Raya Mlirip No. 14, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
Suwartono, 66, penjual es Dawet Majapahit ini mengaku telah menggeluti jualan es dawet ini selama 10 tahun. Awal mula usaha ini dimulai karena dirinya yang telah pensiun dari pekerjaannya dahulu.
Sehingga untuk memenuhi kebutuhannya dia membuka usaha Es Dawet Majapahit. Alasan dinamainya Es Dawet Majapahit sendiri adalah karena dirinya lahir di Mojokerto.
’’Usaha ini sudah sejak saya pensiun. Namanya es Dawet Majapahit itu karena saya lahir di Mojokerto. Selain itu, bahan dawet yang digunakan itu sagu, jadi namanya es dawet sagu Majapahit,’’ ujarnya.
Dia menjelaskan, adanya perbedaan antara es dawet miliknya dengan es dawet lain, yaitu terletak pada isiannya. Es dawet bikinannya hanya berisi dawet sagu saja. Beda lagi dengan es dawet lainnya yang berisi berbagai macam isian. Segelas es dawet dijualnya dengan harga Rp 4 ribu.
’’Sebenarnya sama saja. Yang membedakan hanya dari isi saja. Kalau saya ini isinya hanya dawet sagu saja, kalau es dawet lainnya, es dawet kudus yang di sebelah sana, isinya ada tape ketan, ketela pohong, dan susu. Kalau ini hanya dawet sagu, gula merah dengan santan saja,’’ jelasnya.
Dawet yang memiliki cita rasa yang manis dan gurih, serta dawet putih yang kenyal ini ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk membuatnya. Diperlukan sekitar setengah jam untuk membuat dawetnya, kalau gula satu jam.
’’Gulanya kalau mau habis baru ngerebus sekitar 1 jam-an. Kalau dawetnya, gak sampai satu jam, setengah jam sudah jadi,’’ ujar pria asal Mlirip tersebut.
Pria dua anak ini juga menjelaskan, kalau terkadang sepi pembeli dan bisa hanya mendapat sedikit hasil penjualan. Tetapi jika Ramadan biasanya ramai pesanan.
’’Kalau Lebaran itu banyak. Bisa dapat Rp 400 ribu. Kalau setiap hari omzetnya Rp 125 ribu atau Rp 150 ribu, itu juga sama gorengannya juga,’’ jelasnya. (Firza Aulia Ningrum/fen)
Editor : Fendy Hermansyah