27.8 C
Mojokerto
Saturday, December 3, 2022

Rengginang Moroseneng Mojosari, Dibuat Turun-temurun, Tembus Pasar Hongkong

DI Kecamatan Mojosari, ada satu kampung yang memiliki banyak perajin rengginang. Kampung tersebut bernama Sawahan, Kecamatan Mojosari. Bila berkunjung ke kampung tersebut, nampak di beberapa halaman rumah warga, terlihat rak-rak bambu dipenuhi rengginang yang sedang dijemur. ’’Ada 11 rumah di sini biasa membuat rengginang. Kebanyakan ibu-ibu yang membuatnya,’’ ujar Umi Mufidah,60, warga Gang 3 Sawahan, saat ditemui di rumahnya, Jumat(11/11).

Di keluarganya sendiri, ada yang merupakan generasi ketiga yang menggeluti usaha pembuatan kudapan berbahan dasar beras ketan ini. Usaha ini dimulai dari ibunya sejak 1978. Kemudian dia teruskan sejak 1998 dan kini anaknya juga sudah mulai menekuni makanan khas ini. ’’Usaha pembuatan rengginang ini turun temurun sudah lama. Di keluarga saya meneruskan ibu dan anak saya semua bikin rengginang,’’ sebutnya.

Meski di tengah pandemi, lanjutnya, Industri Kecil Menengah (IKM) yang menjadi salah satu binaan Disperindag Kabupaten Mojokerto ini tidak pernah sepi peminat. Apalagi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, permintaan rengginang mengalami peningkatan drastis. Terutama dari warga perantauan yang rindu pada makanan khas pedesaan tersebut. Dan saat ini, hampir setiap bulan bisa mengirim rengginang sebanyak 2000 bungkus untuk dikirim ke Hongkong. ’’Iya lumayan ada peningkatan. Saat ini saja saya sedang menyiapkan pesanannya,’’ kata ibu dua anak ini.

Baca Juga :  Target Dua Keping Emas Meleset, Tim Biliar Salah Prediksi

Menurut Nur Kholis, 62, rengginang merek Moroseneng yang dia diproduksinya, mempelopori rengginang dengan bentuk kemasan lebih kecil dan setelah itu pesanan semakin meningkat. Kemudian, produksi rengginang aneka rasa seperti manis jahe, rengginang rasa udang, rengginang manis ijen sudah dimulai sejak 2000. ’’Dulu ukuran rengginang itu besar setelah ada inovasi produksi di tahun 2000, kita produksi lebih kecil dan menarik pemesanan semakin meningkat,’’ ujarnya.

Untuk yang dikirim ke Hongkong, rata-rata ia bisa menghabiskan 500 kilogram sekali produksi. Untuk produksi lokal, dia menghabiskan sekitar 150 kg setiap hari. Produk khas Sawahan ini juga mudah ditemui di sejumlah daerah di Jawa Timur dan penjualan online lainnya. ’’Dulu produk kami juga ada di tempat-tempat wisata dan saat pandemi jadi penjualan lebih banyak di online,” terangnya.

Baca Juga :  Ini Rekomendasi Lokasi Wisata Seru di 5 Tempat Kelahiran Pahlawan Nasional

Untuk memproduksi rengginang Moroseneng ini, dia mempekerjakan 10 warga di kampung sebagai upaya pemberdayaan perempuan. Untuk harga, terbilang cukup terjangkau, yakni Rp 8 ribu per kotak dengan isi 16 rengginang. Bagi konsumen yang hendak menggoreng sendiri di rumah juga bisa, karena Moroseneng sebagai produsen juga menyiapkan rengginang mentah. (bas/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/