Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Horor dari Hutan Sukamati

Fendy Hermansyah • Minggu, 23 Juli 2023 | 16:10 WIB

Ilustrasi cerpen Horor dari Hutan Sukamati
Ilustrasi cerpen Horor dari Hutan Sukamati
Oleh: Herumawan P.A

     Cerita dibuka dengan pemandangan temaram sebuah hutan belantara yang angker bernama Sukamati. Mitosnya hutan ini tempatnya orang gantung diri di sebuah pohon tua tinggi besar. Biasanya sebelum naik ke dahan yang paling tinggi, ada “ritual” menguratkan pesan terakhir memakai pisau atau benda tajam lain di kulit pohonnya.

     Tampak seorang pemuda menapaki masuk ke dalam hutan. Wajahnya sayu campur sedih, kecewa dan marah. Pakaiannya compang-camping. Ada luka sayatan, luka goresan di pipi, pelipis mata, kedua tangan, kedua kaki, pundak, punggung dan dadanya. Jemari jemari ada bekas luka yang belum mengering, sesekali masih mengucurkan darah. Di tangan kirinya membawa tali tambang, sedangan tangan kirinya membawa pisau dapur. Langkahnya lunglai, tak ada gairah hidup lagi, terus berjalan memasuki hutan.

     Tibalah ia di sebuah pohon tua tinggi besar, tampak banyak goresan kalimat-kalimat bernada keputus asaan hidup, kekecewaan dan kemarahan kepada orang, makian, hinaan tergurat/terukir di situ, memakai benda tajam. Dengan pisau dapur yang dibawanya, ia menguratkan beberapa kalimat keputus asaan hidup dan pembalasan dendam pada mereka yang sering mengejek dan membully-nya. Selesai menguratkannya, ia mengigit pisau dapur lantas naik ke atas pohon, lalu nangkring di salah satu dahan pohon yang cukup besar dan kuat, berjarak satu setengah meter dari tanah. Menghela nafas panjang. Kemudian mengikat salah satu ujung tambang di dahan, sedang ujung tali tambang lainnya ia buat simpul yang bisa dimasukan ke leher, ia ikat kuat.

     Kemudian ia berdiri, coba menjaga keseimbangan agar tak jauh. Simpulnya ia masukan ke leher. Ia memejam mata, tampak air mata mengalir pelan di sudut kelopak mata. Ketika membuka mata, tatapannya kosong seolah ia sudah benar-benar pasrah. Sedikit kemudian, ia melompat terjun dari dahan. Tubuhnya menegang, meronta tapi itu hanya sebentar. Tak sampai sepersekian menit, tubuhnya sudah tak bergerak lagi, diam kaku. Pisau yang sedari tadi digigitnya sudah terjatuh ke bawah sewaktu tubuhnya menegang tadi.

 Ibu dan sang kakak perempuannya bersama warga desa datang terlambat. Ibu dan kakak perempuan menjerit histeris melihat adiknya terbujur kaku tergantung di dahan pohon.

     "Dino… Dino…. Dino." Keduanya terus menerus memanggil Dino nama adiknya itu. Beberapa warga naik ke atas dahan, memotong tali tambang dengan pisau dapur yang ditemukan di bawah. Beberapa warga di bawah dengan sigap menangkap jasadnya. Lalu dibawa ke desa untuk dimakamkan.

     Sang kakak perempuan masih terus menjerit histeris, "Adikku…" coba ditenangkan warga tapi malah meronta kemudian sang kakak memarahi beberapa warga seusia adiknya, memaki mereka sebagai biang kematian adiknya. Sang ibu berusaha memenangkannya dibantu Ki Sapto, orang yang dituakan di desa. Dan berhasil. Sang kakak perempuan berangsur tenang apalagi setelah minum jamu bikinan Ki Sapto.

     Ki Sapto memerintahkan warga memutup semua akses masuk ke hutan. Dan langsung dilakukan para warga. Mereka merintangi jalan masuk ke hutan memakai kayu, papan panjang, dahan-dahan pohon, kursi dan meja yang sudah tak terpakai. Ki Sapto puas melihat kinerja warga yang sigap melaksanakan perintahnya.

     Seminggu kemudian, di kota. Di sebuah rumah kost-kostan, tujuh orang mahasiswa yang sedang ada masalah satu sama lain, mencoba meredakan masalah yang terjadi diantara mereka dengan merencanakan liburann akhir tahun. Mereka adalah Sarah, Johan, Rudi, Shinta, Darmo, Mas Ragil dan Wanda. Johan sedang ada masalah hutang piutang dengan Rudi yang belum diselesaikannya, keduanya sudah lama tak bertegur sapa. Johan juga sedang bermasalah dengan Mas Ragil karena merebut cinta Wanda, cewek gebetannya. Shinta tak suka dengan Wanda karena ia sebenarnya mencintai Johan. Sedangkan Rudi memendam kekecewaan kepada Sarah gegara cintanya ditolak. Sementara Darmo memendam iri dan kekekacewaan kepada enam temannya yang ia nilai egois, sombong, lebay dan norak.

     Sarah inginnya liburan di pantai atau gunung. Johan mengusulkan untuk liburan ke Deea Serojo tempat Hutan Sukamati berada setelah ia baca koran seminggu lalu ada kasus bunuh diri dan juga beberapa kasus bunuh diri beberapa hari sebelumnya, ia ingin menyelidikinya dan memakainya untuk dasar penelitian skripsi yang baru ditulisnya. Agar lebih menyakinkan, Johan beritahu kalau ia punya kerabat jauh yang tinggal di sana, namanya Ki Sapto. Sarah tetap tak setuju tapi ia kalah suara dengan Johan, Rudi, Darmo dan Shinta yang memilih liburan yang diusulkan Johan. Sedang Mas Ragil dan Wanda tak peduli mau liburan dimana karena sedang dimabuk cinta.

     Pada hari yang sudah ditentukan, ketujuhnya berangkat ke Desa Serojo untuk liburan. Walapun masih kesal, Sarah memutuskan tetap ikut. Ia tak mau ada sesuatu yang terjadi kepada Wanda dan Shinta di sana. Ia ingin memastikan dua sahabat baiknya itu baik-baik saja.

     Tiba di Desa Serojo tempat di mana Hutan Sukamati berada, Johan meminta Mas Ragil yang menyupiri mobil untuk masuk ke dalam hutan yang ada di ujung desa. Johan beralasan ingin menjelajahi hutan dulu. Tapi Mas Ragil menolaknya. Johan yang masih memendam amarah terkait asmara dengan Mas Ragil, tersulut emosinya. Mas Ragil meladeninya. Keduanya bertengkar hebat. Darmo dan Rudi berusaha menengahi. Pada saat bersamaan, Gadis yang sedang berjalan-jalan bersama sang ibu, Bu Farah melihat pertengkaran hebat keduanya.

     Gadis berusaha melerai dan mengingat untuk jangan masuk ke dalam Hutan Sukamati karena angker, banyak penduduk desa yang bunuh diri di sana. Gadis lantas bercerita Dino adiknya baru bunuh diri di dalam hutan itu, seminggu lalu. Johan tak mau tahu. Gadis minta maaf sudah turut campur. Tapi Rudi malah memarahinya. Bu Farah yang membela sang anak juga kena semprot. Akhirnya Rudi memutuskan yang menyetir mobil. Mobil Rudi dan rombongan segera berjalan ke rumah Ki Sapto, seorang kenalan Johan, tempat mereka tinggal selama liburan.

     Nuri dan Darsih sepasang kembang desa yang tahu ada pemuda ganteng sedang liburan di desanya datang ke rumah Ki Sapto untuk berkenalan. Johan yang dasarnya otak mesum senang sekali terutama ketika melihat kemolekan tubuh keduanya. Johan menawari keduanya jadi model panas di kota. Nuri dan Darsih yang merasa dilecehkan marah besar. Johan tak terima dimarahi balas memaki. Sarah dan Shinta yang mendengarnya juga marah lantas ikut memarahi Johan. Rudi, Wanda dan Mas Ragil berhasil menengahi. Nuri dan Darsih pun lalu pergi dengan wajah kesal.

     Johan yang kesal pergi diam-diam tanpa izin ke Hutan Sukamati di ujung desa untuk penelitian skripsinya. Ketika kembali ke rumah, Ki Sapto, Johan tiba-tiba mengalami perubahan perilaku karena dirasuki arwah Dino yang belum bersih dari dendam, ia jadi lebih banyak diam. Wanda pun merasa aneh dengan kelakuan Johan sepanjang hari. Tapi Wanda memilih diam, tak mengubris serta tak melaporkannya kepada Sarah atau Rudi.

     Ketika senja datang, Johan mencuri sabit yang biasa digunakan membabat rumput buat makan ternak sapi milik Ki Sapto. Lalu membunuh Mas Ragil yang sedang tidur satu kamar dengannya secara keji. Kemudian darah korban dilumurkan ke seluruh pakaiannya.

     Darmo, Shinta, Sarah dan Wanda tak sengaja memergoki Johan sedang membunuh Mas Ragil. Wanda shock melihat sang pujaan hati dibunuh dengan keji. Shinta dan Sarah menyelamatkan Wanda dari amukan Johan kemudian membawanya kabur. Tapi Darmo yang ketakutan tak berkutik dan langsung dibunuh Johan. Leher Darmo digorok Johan memakai sabit, tak lupa Johan melumurkan darah korban ke seluruh pakaiannya.

     Rudi yang tiba-tiba datang memergokinya. Johan langsung menyerang Rudi. Tak mau mati konyol, Rudi balas menyerang. Ia bertarung mati-matian melawan Johan. Rudi berhasil membunuh Johan tapi ia terluka. Arwah Dino gantian merasuki tubuhnya. Kini Rudi melumurkan darah Johan ke seluruh pakaiannnya, Rudi seperti mendapat “kekuatan baru”, tak tampak lagi seperti orang yang sedang terluka.

     Rudi yang gantian kerasukan arwah Dino ingin menghabisi teman-teman sepermainan Dino yang dulu sering membully Dino. Rudi menyatroni satu per satu rumah teman-teman sepermainan Dino di desa. Lalu membunuh mereka satu per satu.

     Ki Sapto kaget bukan mendapati Mas Ragil, Darmo dan Johan tewas bersimpah darah di rumah kosong sebelah rumahnya yang tempati untuk liburan. Lalu mengabari warga desa. Bersama warga desa, Ki Sapto mencari tahu siapa yang membunuh ketiganya. Gadis dan Bu Farah ibunya yang mendengar ada ramai-ramai mencari tahu kepada Ki Sapto.

     Setelah diberitahu Ki Sapto, Gadis jadi punya pikiran ini ulah arwah sang adik, Dino. Tapi itu langsung disangkal Bu Farah sang ibu. Karena kesal, Bu Frah pergi meninggalkan Gadis, menenangkan diri di rumahnya.

     Ketika hendak menyatroni rumah teman sepermainan Dino kelima yang dulu sering membully-nya, Rudi malah bertemu Darsih di tengah jalan. Darsih yang masih marah atas kelakuan Johan saat itu, melaporkan kepada Rudi. Tapi Darsih kaget, ia masih diserang Rudi membabi buta dengan sabit. Meski terluka parah, Darsih berhasil kabur. Menuju ke rumah sahabatnya, Nuri.

     Nuri sedang mandi di kamar mandi halaman belakang rumahnya tak tahu Darsih sedang dikejar Rudi bersembunyi di dalam rumahnya yang tak terkunci. Rudi mengalihkan sasarannya. Kamar mandi Nuri yang berada di halaman belakang, didobrak pintunya oleh Johan. Nuri yang sedang mandi kaget dan berusaha memberi perlawanan. Sabit Rudi berhasil direbut Nuri lalu dipakai untuk membunuh Rudi. Arwah Dino gantian merasuk ke tubuh Nuri. Nuri melumurkan darah Rudi ke handuk yang dipakainya.

     Nuri yang gantian kerasukkan arwah Dino mencari Darsih yang bersembunyi di dalam rumah Nuri. Darsih berhasil ditemukan di dalam lemari pakaian. Tapi Darsih melakukan perlawan sekuat tenaga. Nuri berhasil dibunuh Darsih, arwah Dino gantian merasuki Darsih. Lalu melumurkan darah Nuri dilumurkan ke seluruh pakaian Darsih.

     Darsih yang kerasukan arwah Dino lantas kembali menyatroni rumah teman-teman sepermainan Dino yang dulu membully Dino dan membunuh mereka satu per satu. Total semuanya ada sepuluh orang.

     Di tengah aksi pembantaian itu, Darsih yang kerasukkan arwah Dino bertemu Shinta, Sarah dan Wanda yang hendak melaporkan kejadian pembunuhan Mas Ragil ke perangkat desa. Darsih tak suka aksi pembantaiannya diketahui orang, langsung menyerang ketiganya dengan sabit berlumuran darah.

     Ketiganya lantas berusaha mati-matian membela diri. Shinta berhasil membunuh Darsih. Arwah Dino pun merasuki tubuh Shinta. Darah Darsih dilumurkan ke seluruh pakaian Shinta. Melihat itu, Sarah dan Wanda ketakutan lalu berhasil kabur.

     Sarah dan Wanda yang lari bertemu dengan Gadis. Keduanya tampak ketakutan sekali. Gadis mengajak keduanya ke rumah. Ketika Gadis ingin menolong, Bu Farah tak mengizinkan dan menyarankan untuk menunggu Ki Sapto yang akan datang. Tapi Gadis yang tak sabaran pergi diam-diam bersama Sarah dan Wanda tanpa memberitahu sang ibu.

     Bu Farah yang tahu Gadis pergi diam-diam, punya perasaan tak enak, jadi sedih. Ketika Ki Sapto datang, Bu Farah menceritakan semuanya. Lalu keduanya mencari Gadis beserta Sarah dan Wanda.

     Gadis, Sarah dan Wanda bertemu Shinta yang sedang membunuh orang ketiga belas atau yang terakhir yang membully Dino dulu. Tahu aksinya ketahuan, Shinta langsung menyerang ketiganya. Gadis berhasil membunuh Shinta. Sementara Sarah dan Wanda terluka parah. Arwah Dino pun coba merasuk ke tubuh Gadis. Tapi Gadis berusaha keras melawannya.

     Gadis akhirnya tahu dugaannya benar, arwah Dino yang jadi dalang penyebab semua aksi pembantaian ini. Orang-orang yang dirasuki arwah Dino ternyata adalah pewaris dendam Dino untuk digunakan membalas perbuatan orang-orang yang sering membully dan mengejek Dino sejak kecil hingga sebelum ia meninggal gantung diri. Gadis terus melawan, ia tak mau dirasuki arwah Dino. Tapi arwah Dino membuka kembali ingatan Gadis tentang sang ayah yang suka memarahi dan memukuli Dino, dirinya serta sang ibu. Gadis pun marah teringat peristiwa itu.

     Arwah Dino pun berhasil merasuki tubuh Gadis. Darah Shinta dilumurkan ke seluruh pakaian Gadis. Melihat hal yang dilakukan Gadis, Sarah dan Wanda yang dalam kondisi terluka parah lantas kabur. Selesai dengan Shinta, Gadis yang dirasuki arwah Dino mengejar target berikutnya itu sang ibu.

     Sarah dan Wanda bertemu Bu Farah dan Ki Sapto yang sedang mencari Gadis. Keduanya dengan ketakutan menceritakan apa yang terjadi kepada Gadis. Bu Farah dan Ki Sapto kaget mengetahuinya. Lalu mencari Gadis ke tempat dimana Gadis membunuh Shinta.

     Di sana, Sarah, Wanda, Bu Farah dan Ki Sapto bertemu Gadis yang memang menunggu keempatnya. Bu Farah sedih melihat Gadis bukan yang biasanya. Ki Sapto memberitahu Bu Farah dan kedua orang lainnya kalau Gadis kerasukkan. Gadis lalu menjelaskan dengan gaya bicara seorang remaja lelaki kalau ia sekarang adalah Dino bukan Gadis lagi. Bu Farah tambah sedih lagi lalu memberitahu ia sangat menyesal sudah memberikan perlakuan berbeda dan tak adil kepada Dino.

     Sayangnya dendam yang ada pada arwah Dino sangat kuat, menyuruh Gadis untuk menyerang Bu Farah. Sarah dan Wanda juga ikut diserang. Keduanya mati-matian membela diri. Sementara, Ki Sapto mati-matian melindungi Bu Farah. Dalam pertarungan, Wanda pingsan karena lukanya, Sarah lantas mencoba menyadarkan Wanda sambil bersembunyi di semak-semak.

     Lewat pertarungan seru dengan Gadis, Ki Sapto kalah. Tapi Gadis tak bisa membunuh Ki Sapto dan Bu Farah karena sisi baik yang ada dalam dirinya tiba-tiba muncul. Gadis memilih terjun ke jurang. Bu Farah dan Ki Sapto tak sanggup mencegahnya. Ki Sapto lalu menggendong Bu Farah yang pingsan ke puskesmas yang ada di tengah desa.

     Tahu Gadis terjun ke jurang, Arwah Dino melepaskan diri dari tubuh Gadis yang entah pingsan atau tewas. Lalu merasuk ke tubuh Wanda yang masih pingsan di tempat persembunyian bersama Sarah. Wanda tiba-tiba tersadar dan menyerang Sarah. Tapi Sarah mati-matian membela diri. Dan akhirnya Sarah bisa membunuh Wanda dengan batu. Darah Wanda dilumurkan ke seluruh tubuh Sarah.

     Ketika mencoba menyatroni puskesmas tempat Bu Farah dirawat, bau anyir darah serta tetesan lumuran darah Wanda yang belum kering dari pakaian Sarah membuat sejumlah pasien dan orang yang menungguinya ketakutan luar biasa. Tukang parkir, Dokter, perawat hingga pengunjung pasien yang mencoba menghalangi langsung dihantam atau dilempari dengan batu-batu yang Sarah bawa.

     Sarah yang dirasuki arwah Dino bertemu Ki Sapto yang sedang menjaga Bu Farah di Rumah Sakit, keduanya saling berkelahi hingga membuat gaduh seisi Rumah Sakit. Ketika Ki Sapto hendak membunuh Sarah yang sudah terdesak, Gadis tiba-tiba muncul dan langsung membunuh Sarah. Arwah Dino pun merasuk ke tubuh Gadis lagi. Gadis yang sudah dirasuki arwah Dino tak mau melumuri pakaianya lagi dengan darah dan membunuh Bu Farah. Arwah Dino marah besar lalu mengambil alih gerak tubuh Gadis. Kemudian menyerang Ki Sapto. Kali ini Ki Sapto mengalahkan Gadis. Dan Gadis memilih kabur.

     Tapi Arwah Dino yang merasuki tubuh Gadis belum mau menyerah untuk membunuh Bu Farah. Gadis menyatroni rumah Bu Farah beberapa saat setelah Bu Farah pulang dari Rumah Sakit. Bu Farah dianiaya Gadis.

     Beruntung Ki Sapto datang. Lalu melawan Gadis. Ki Sapto yang terdesak mengeluarkan pistol yang baru kali ini dibawanya. Ketika hendak menembak Gadis, Bu Farah malah melindungi Gadis. Tembakan Ki Sapto mengenai Bu Farah, dan membuat Bu Farah meninggal. Arwah Dino puas. Ia meninggalkan tubuh Gadis, kembali ke alamnya. Dendamnya sudah terpenuhi.

     Ki Sapto yang tak bisa melupakan kesalahan menembak Bu Farah lalu kembali ke rumahnya dengan perasaan yang benar-benar hancur. Ki Sapto kemudian mengambil pistol dan menembak kepalanya sendiri. Sementara Gadis yang ditinggal Bu Farah untuk selamanya merasa terpukul.

     Dan usai pemakaman Bu Farah dan Ki Sapto, Gadis diam-diam pergi ke Hutan Sukamati. Membawa tali dan pisau dapur. Langkahnya gontai, seolah tak ada lagi harapan untuk hidup. Terus berjalan dengan tatapan mata kosong. Sampailah Gadis di depan pohon tempat Dino, sang adik dulu bunuh diri. Lalu melakukan persis sama yang dilakukan sang adik. Gadis gantung diri, tubuh tergantung di pohon. Tak ada warga yang datang menurunkannya. Entah sampai kapan.

     Polisi sendiri kesulitan menangani motif pembantaian di Desa Serojo yang menimpa tiga belas pemuda warga desa dan tujuh mahasiswa yang sedang liburan, lantaran sebagian besar warga desa diam-diam sudah pergi keluar dari desa. Suasana desa pun seperti desa mati.

     Sementara tujuh mahasiswa yang jadi korban pembunuhan langsung dibawa pergi keluarganya masing-masing untuk dimakamkan di kota.

     Berita misteri aksi pembantaian di Desa Serojo dan Hutan Sukamati pun jadi headline dan berita utama di koran maupun televisi. Jalan keluar masuk Hutan Sukamati kini ditutup aparat dari kabupaten dan perangkat desa. Walaupun begitu, orang-orang masih ada yang menerobos masuk atau lewat jalur pintas masuk ke Hutan Sukamati.

     Mereka mengunjungi Hutan Sukamati untuk uji nyali atau cari wangsit tanpa ada yang tahu sewaktu-waktu arwah-arwah korban bunuh diri seperti Dino atau yang lainnya di situ bisa saja kembali merasuki mereka yang memiliki dendam kesumat atau niat jahat.

Yogyakarta, 9 Juli 2023

 

Editor : Fendy Hermansyah
#pendek #radar #Cerita #mojokerto #jawa #pos #cerpen