Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ini Atap dan Gapura di Era Majapahit

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 8 Juni 2024 | 16:15 WIB
MEGAH: Candi Gapura Bajang Ratu di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto peninggalan Kerajaan Majapahit.
MEGAH: Candi Gapura Bajang Ratu di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto peninggalan Kerajaan Majapahit.

 GENTING berbahan tanah liat telah diproduksi secara masal sebagai penutup bangunan sejak era Kerajaan Majapahit di abad ke-13 hingga 16 Masehi silam. Genting dipasang pada atap rumah yang sebagian besar berbentuk tajug alias piramida bujur sangkar.

 Demikian ini merupakan temuan tim Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM), Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, saat melakukan pendokumentasian terdapat sejumlah candi di Jawa Timur dan koleksi relief di museum.

Penelitian tersebut berfokus pada tipe arsitektur atap bangunan era Majapahit. Baik bangunan rumah hunian maupun candi.

 ”Berdasarkan fakta yang kita ambil dari beberapa relief candi, kebanyakan atap bentuknya tajug. Atap ini memiliki empat sisi dengan bagian atas runcing dan melebar di empat sisi,” tutur Kepala Sub Unit Koleksi PIM Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Tommy Raditya, kemarin.

 Atap tajug memiliki ciri dasar persegi empat sama sisi dan satu puncak. Atap jenis ini umumnya masih dapat ditemui pada bangunan suci keagamaan. Seperti masjid atau cungkup makam.

Selain tajug, pengamatan terhadap benda peninggalan juga menunjukkan bangunan beratap limas yang secara bentuk bangun merupakan gabungan dua tajug.

 Tommy menjelaskan, selain bentuk atap yang menjadi kekhasan bangunan era Majapahit, pihaknya juga menemukan bahan atap rumah.

Mayoritas yang ditemukan berupa atap berbahan genting. Namun, berbeda dengan genting yang ada di zaman sekarang. Genting era Majapahit cenderung lebih polos tanpa banyak gelombang.

Genting Majapahit hanya memiliki tonjolan di bagian atas yang berfungsi sebagai cantolan ke rangka bangunan.

 Tommy menyebutkan, mengingat banyaknya artefak pecahan genting yang ditemukan dari proses ekskavasi, genting dimungkinkan sebagai bahan utama atap bangunan. Dengan demikian, hasil produksi tanah liat yang dicetak dan dibakar ini telah dibuat secara masal.

”Artinya, tidak buat genting hanya ketika mau buat rumah, tapi sudah diproduksi secara masal. Selain genting juga ada bahan atap dari ijuk, meskipun secara jejak tidak seperti genting yang banyak ditemukan pecahannya,” imbuh dia.

 Menurut Tommy, atap bangunan di era Majapahit tak hanya ditemukan pada hunian rumah, melainkan juga pada candi.

Khususnya candi gapura jenis paduraksa alias beratap. Seperti Bajang Ratu di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Atap candi ini berbahan sama dengan skruktur keseluruhan candi yang biasanya menggunakan bata atau batu andesit.

 Atap Gapura Bajang Ratu yang juga ditemukan gapura-gapura paduraksa memiliki beberapa lapis alias bertingkat.

Gapura jenis ini biasanya berfungsi sebagai gerbang masuk kompleks bangunan khusus. ”Bentuk-bentuk gapura beratap ini dipakai juga di situs-situs Islam (pasca era Majapahit),” tandas Tommy. (adi/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#trowulan majapahit #trowulan mojokerto #genting #Majapahit #arsitektur