25.8 C
Mojokerto
Thursday, February 2, 2023

Di Mojokerto Ada Permukiman Abad Ke-14 di Area Situs Raja Ketiga Majapahit

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Teka-teki Situs Klinterejo dan Bhre Kahuripan (Tribuana Tunggadewi, Raja ketiga Majapahit) perlahan terkuak. Seiring rampungnya ekskavasi lanjutan pada dua objek cagar budaya di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, tersebut. Arkeolog menyebut, dua situs yang masih satu area tersebut merupakan kompleks bangunan suci yang dikelilingi permukiman.

’’Ada beberapa temuan yang mengindikasikan jika di sekeliling area situs ini ada permukiman,’’ ungkap Ketua Tim Ekskavasi sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim M Ichwan. Hal tersebut salah satunya dibuktikan dengan adanya temuan fragmen genting di sekitar struktur pagar keliling. Pecahan genting kuno tersebut tersebar di hampir di seluruh penjuru.

Hal itu menandakan jika sebelumnya ada bangunan beratap di titik tersebut. Ditambah, adanya sejumlah temuan sumur kuno atau jobong di sisi barat laut situs. Yang identik dengan adanya bangunan untuk menunjang kegiatan sehari-hari masyarakat saat itu. ’’Sejauh ini hipotesisnya seperti itu. Tapi, seperti kompleks bangunan suci pada umumnya, permukiman ini ada di luar pagar keliling,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Viral Video Diduga Hakim Wahyu Bocorkan Vonis Ferdy Sambo

Sebab, seperti kompleks candi pada umumnya, permukiman terdekat dibangun di luar area bangunan suci tersebut. ’’Umumnya seperti itu. Bangunan profan biasanya ada bagian luar area situs. Prinsipnya, di dalam area bangunan suci tersebut hanya untuk kegiatan keagamaan saja,’’ tambahnya.

Namun, pihaknya belum bisa menjelaskan detil soal hunian kuno di sekitar situs berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi tersebut. Terlebih terkait adanya indikasi permukiman bagi kalangan tertentu di era Majapahit. ’’Kita masih belum mengkaji lebih lanjut untuk itu. Apakah itu hunian masyarakat biasa atau bangsawan,’’ terang Ichwan.

Menurutnya, masih banyak teka-teki yang belum terjawab pada candi yang didirikan era Raja Hayam Wuruk tersebut. Sebab, sebaran struktur kuno area situs terbilang kompleks. Alhasil, masih perlu dilakukan pengkajian dan ekskavasi lanjutan pada kedua situs yang masih satu area tersebut. ’’Sejauh ini mungkin baru sekitar 40-50 persen saja yang berhasil diidentifikasi hasil dari ekskavasi (hingga tahap V). Masih perlu pengkajian lebih lanjut,’’ tandasnya. (vad/ron)

Baca Juga :  Empat Tahun Gagal Capai Target PAD Sektor Wisata Kabupaten Mojokerto

Artikel Terkait

Most Read

Ditinggal Angkat Jemuran, Motor Raib

Kosmetik Produk Sari, Bakal Dimusnahkan

Adik Tewas, Kakak Luka Ringan

Artikel Terbaru

/