27.8 C
Mojokerto
Saturday, December 3, 2022

Jejak Panglima Sudirman di Mojokerto, Rebut Wilayah dari Tangan Kolonial

PENAMAAN sejumlah ruas jalan di Kota Mojokerto memakai nama tokoh pejuang dan pahlawan nasional. Salah satunya Jalan PB Soedirman. Diabadikannya nama Panglima Besar TNI pertama ini bukan tanpa alasan. Karena sang jenderal pernah menapakkan kakinya di Kota Mojokerto pada masa revolusi.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, lawatan Jenderal Soedirman ke Mojokerto bermula dari kembalinya pasukan kolonial. Pada Maret 1947, panglima perang itu bertatap muka langsung dengan Bupati Mojokerto dr Soekandar. ”Pertemuan keduanya dilakukan secara tertutup,” terangnya.

Karena itu, kedua pimpinan tersebut bertemu di sebuah tempat yang dinilai aman di sebuah hotel di dekat Stasiun Mojokerto. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, tidak diketahui pasti perbincangan keduanya.

Baca Juga :  Situs Selokelir, Warisan Majapahit yang Ditemukan Mandor Kebun Asal Belanda

Namun, pasca pertemuan, Bupati Soekandar memutuskan untuk meninggalkan wilayah Mojokerto. ”Soekandar memilih memerintah dalam pengungsian di Jombang,” tandas penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini.

Kosongnya kursi peringgitan membuat Belanda mengangkat M. Pamoedji menjadi Bupati Mojokerto. Akibatnya, di tahun 1947 terjadi dualisme kepemimpinan dari dari pihak republik dan bentukan kolonial.

Didudukinya wilayah Mojokerto oleh kolonial membuat Jenderal Soedirman mengambil keputusan tegas. Komandan Divisi Narotama Kolonel Soengkono diinstruksikan untuk merebut kembali Kota Mojokerto.

Sehingga, pada Juli 1947, terjadi serangan umum terhadap Kota Mojokerto berhasil membuat tentara Belanda terdesak. ”Serangan umum tersebut berhasil kembali menguasai kota Mojokerto,” Tutur anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Baca Juga :  Misteri Jembatan Ireng, Matinya Tiga Pribumi karena Kerja Rodi

Meskipun perebutan kekuasaan tersebut tidak mampu berlangsung lama, Yuhan menyebutkan, serangan yang dilancarkan Belanda itu diperkirakan menjadi salah satu bahan pembicaraan yang dilakukan Jenderal Soedirman dan Bupati Soekandar saat pertemuan di Mojokerto.

Dikatakannya, tempat penginapan yang pernah menjadi saksi bisu pertemuan kedua tokoh perjuang revolusi itu kini telah berubah nama menjadi Hotel Slamet. Sebagai tetenger, ruas jalan hotel tersebut kemudian dinamakan sebagai Jalan PB Soedirman pada tahun 1952. ”Kunjungan Jendral Soedirman ke Kota Mojokerto tentu menjadi momen bersejarah sebagai bukti tidak menyetujui bahwa Mojokerto dikuasai musuh,” pungkasnya. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/