25.8 C
Mojokerto
Thursday, February 2, 2023

Saat Belanda Menerapkan Wajib Militer di Mojokerto

Jaring Pemuda di Kecamatan untuk Direkrut Jadi Pasukan Perang

MASA pemerintahan kolonial, di Mojokerto pernah diterapkan wajib militer. Perekrutan prajurit secara masal itu menyasar kalangan pemuda putra daerah alias pribumi. Penjaringan dilakukan dari aparat pemeritahan di tingkat kecamatan untuk kemudian akan ditugaskan bergabung dengan pasukan perang.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pemberlakuan wajib militer berlangsung sekitar tahun 1941. Kebijakan itu menyusul langkah pemerintahan Hindia-Belanda yang memutuskan bergabung dengan sekutu dalam perang terbuka melawan Jepang.

Di samping persenjataan, kolonial juga mempersiakan pasukan dengan membentuk milisi pribumi. Sehingga, terang dia, Mojokerto yang kala itu masih diduduki pemerintahan kolonial memberlakukan wajib militer. ”Yang menjadi sasaran utamanya adalah pemuda di masing-masing kecamatan. Mereka direkrut untuk dijadikan sebagai milisi pribumi,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, warga yang telah genap berusia 18 tahun diharuskan mengikuti wajib militer. Demikian dengan usia di atasnya hingga rentang 24 tahun juga diwajibkan bergabung menjadi milisi melalui tahap seleksi. ”Semua pemuda harus ikut wajib militer, tak ada perkecualian,” tandasnya.

Baca Juga :  Pencuri Besi Pedestrian Milik Kota Mojokerto Ditangkap

Meski sempat mendapat tentangan, namun kebijakan yang dikenal denngan Inheemsche Militie itu tetap digulirkan. Bahkan, dari tahap penjaringan awal, sebanyak 360 pemuda dinyatakan layak untuk mengikuti seleksi.

Para pemuda yang berasal dari berbagai penjuru desa di Mojokerto itu kemudian diberangkatkan ke Surabaya. Yuhan menyebut, calon milisi pribumi itu dilepas dari Stasiun Mojokerto menuju Stasiun Gubeng.

Di Kota Surabaya, para pemuda Mojokerto menjalani seleksi bersama putra daerah lainnya. Masing-masing dilakukan tes fisik di RSUD dr Soetomo atau dulu masih bernama Centrale Burgerlijke Ziekenhui (CBZ) Karangmenjangan.

Anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menyebutkan, seleksi rupanya tak cukup hanya dengan tes fisik. Penentu kelolosan akan ditetapkan dari tes kesehatan, mental, dan wawancara. ”Peserta akan langsung digugurkan jika ditemukan ada kecacatan pada fisiknya,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kelurahan Purwotengah, Angkat Jejak Sejarah Masa Kecil Soekarno

Yuhan menambahkan, perekrutan prajurit melalui wajib militer terus berlangsung hingga Oktober 1941. Selain menjadi penentu kelolosan, rangkaian tahap seleksi juga menentukan posisi dari milisi pribumi.

Sayangnya, imbuh dia, ratusan pemuda Mojokerto yang sudah menjalani tahap seleksi tersebut urung dikirim ke medan prang. Penyebabnya, kata Yuhan, saat proses penggemblengan masih berjalan, Jepang sudah meletupkan perang Asia Timur Raya yang sempat berhasil menyudutkan pasukan sekutu. Kemudian di tahun 1942, pasukan negeri matahari terbit mengambil alih kekuasaan dari kolonial di Mojokerto. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/