Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

CERPEN: Selembut Hati Nia

Moch. Chariris • Minggu, 14 Juli 2024 | 15:15 WIB
Photo
Photo

Oleh: YEFA NADIN KANAYA

Hawa pagi itu sangat sejuk. Nyanyian burung yang indah, titik-titik air di daun dan tumbuhan masih terilihat, semalaman hujan deras. Terlihat seorang anak gadis sedang duduk meringkuk di teras rumah dengan tatapan kosong. Diam. Membisu.

Angin lembut sedang memainkan rambut hitam panjangnya. Kulitnya sawo matang, manis, tinggi tubuhnya setara anak kelas 3 SMP. Rahmania Alexandra, nama gadis itu. Dia gadis yang pintar seni. Memang dia suka melukis dan bermain gitar. Dia juga periang. Namun, semenjak kematian bundanya sebulan yang lalu dia menjadi pendiam, cuek, dan suka menyendiri. Seorang pria gagah dan tinggi menghampirinya.

”Nia, ayah berangkat kerja dulu. Kamu siap-siap sekolah ya?”
Hening. Tak ada jawaban. Herman menghela napas panjang, lalu berangkat ke tempat kerja.
”Bun, Nia kangen.”
Nia menyalahkan Herman atas kematian Bundanya. Karenanya, ia selalu cuek dan tidak peduli pada laki-laki itu dan menganggapnya seperti orang asing.

***
Nia sedang belajar untuk ujian besok. Sementara ayah dan ibunya hendak pergi belanja.
”Nia mau nitip apa?” tanya Nurul, bunda Nia.
”Hmm, roti bakar aja bun!”
”Oke, ayah sama bunda pergi dulu ya.”
”Hati hati, bun.”

***

”Telur, susu, daging, tepung, roti bakar. Apa lagi ya?”
”Ayah mau kebab dong, bun.”
”Ayah jangan sambil liat handphone nyetirnya.”
”Aman kok, bun.”
”Eh, Ayah awas!!”
TINNNN! Sebuah truk pikap menabrak mobil mereka.

***
Sudah tiga jam sejak mereka pergi. Nia mulai khawatir. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dariluar. Nia harap itu orang tuanya. Saat membuka pintu, betapa terkejutnya gadis itu, ada polisi di depan rumah. Pria berseragam itu bertanya dengan wajah serius.

”Apa bener adik, Rahmania Alexandra?”
”Iya saya sendiri. Ada apa ya pak?” tanya Nia, bingung.
”Mohon maaf. Orang tua adik mengalami kecelakaan sejam yang lalu.”

Jantung Nia rasanya berhenti.
Ia mematung. Matanya berkaca-kaca. Ia diantar salah satu tetangganya menuju rumah sakit.
Dari petugas dia mengetahui bahwa ayahnya kritis, sementara ibunya sudah meninggal. Nia berlari melewati lorong rumah sakit yang sunyi dan panjang. Mencari keberadaan wanita itu. Ia masuk ke sebuah ruangan. Tubuh bundanya ditutupi selembar kain.
”Bunda, Nia masih butuh bunda. Jangan tinggalin Nia!”

Ia menggenggam tangan ibunya yang mulai dingin, sambil sesekali mengusap tangisnya yang deras.

***
Nia mengaduk sarapannya yang sudah dingin. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan. Ia melihat Lena di balik pintu. Gadis jangkung berponi itu tersenyum.
”Nia, ayo kita sekolah!!”
”Aku siap-siap dulu. Masuk dulu Lena.”

Ia menunggu di meja makan, melihat makanan di piring Nia masih utuh walau sudah diaduk. Lena paham apa yang terjadi, hubungan ayah dan anak itu belum mencair. Lena selalu ada di kala susah dan senang. Lena juga yang menemani Nia saat ayahnya dirawat.
Setelah menunggu beberapa lama, Nia muncul dengan seragam rapi.

”Kamu nggak sarapan dulu? Wajahmu pucat,” tanyanya, khawatir.
”Aku nggak nafsu makan, Lena.”
”Kamu masih marah sama ayahmu?”
”Hmm.”
”Ikhlasin Nia, mungkin sudah takdir ibumu.”
”Sudahlah, ayo kita berangkat!”

***
Pantai saat sore hari sangat ramai. Nia duduk diam menatap laut. Senja mulai merambat ke peraduan. Nia melirik sebuah keluarga yang sedang bercanda tawa. Nia teringat kenangannya di pantai ini bersama ayah-ibunya, semacam dejavu. Tiba-tiba, ayahnya duduk di sampingnya.

”Kamu sudah makan? Sejak tadi ayah mencarimu.”
Tidak ada jawaban.
”Jangan diam, nak. Bicara sama Ayah.”
”Gara-gara ayah, bunda meninggal.”

Herman menghela napas.
”Nia, ayah juga sedih dan merasa sangat bersalah. Tolong ikhlaskan bundamu, ya?”
”Kalau ayah hati-hati, mungkin tidak akan begini. Aku muak sama ayah.”

Lelaki itu temenung, lalu pergi.
Nia menangis sedu sedan. Seorang wanita bersayap kemudian duduk di sisinya. Rambut panjangnya dibelai angin. Tubuhnya seringan udara.
”Cantik nggak senja itu?”

Suara tak asing itu membuatnya menoleh. Sosok wanita itu tersenyum manis menghadap Nia.
”Bunda!”
Gadis itu langsung memeluk ibunya, tapi hanya udara yang dia rasakan.
”Nia kangen sama bunda.”
”Iya, nak. Bunda juga kangen sekali sama Nia.”

Nurul menatap senja, kemudian berkata:
”Dengarkan Bunda. Jangan benci ayah. Maafkan ayahmu. Bunda nggak bisa istirahat dengan tenang kalau keluarga bunda seperti ini.”
”Tapi, ayah yang membuat bunda jadi seperti ini,” ucap Nia dengan suara serak.
”Itu benar. Tapi, ayahmu sudah menyesal dan selalu menangis di kamar menyalahkan dirinya. Ayah selalu kuat di hadapanmu. Ingat, besok ulang tahun Ayah?”
Nia mengangguk. Menyeka air matanya dengan lengan baju.
”Jadi, mau ya maafin ayah?”
”Iya, Nia maafin ayah.”
”Nah, gitu anak bunda.”
Nia tertawa kecil
”Kalau gitu, bunda pergi dulu ya.”
”Bunda nggak bisa di sini aja?” Nia meminta.
”Nggak bisa, nak. Ini memang sudah takdir bunda. Sampai bertemu di alam selanjutnya.”
”Nia sayang bunda.”
Nia menoleh, ibunya sudah pergi.

***

Esoknya, Nia menyiapkan kue ulang tahun di meja makan. Menyalakan lilin di atas kue. Mendekor ruangan dengan balon dan pita.

Terdengar derit pintu dari kamar. Laki-laki itu melihat dengan mata terpana. Nia tersenyum manis sambil menyanyikan lagu.
”Selamat ulang tahun Ayah.”
Herman membisu.
”Nia, minta maaf sudah jahat sama ayah. Nia sayang Ayah.”
Herman langsung memeluk erat anak gadisnya itu.
”Iya, ayah maafin. Maafin ayah juga ya.”
Laki-laki itu menangis. Terharu, senang, sedih. Campur aduk.
”Iya, Nia maafin. Nia sayang sama ayah.”
Nia menyeka air matanya.
”Ayah juga sayang sekali sama Nia.”
”Ini hadiah terbaik yang pernah ayah dapat.”

***

Siangnya, mereka mengunjungi makam bunda.
”Hai bunda, Nia sudah baikan lagi sama ayah. Hari ini, Nia sama ayah mau ke festival. Merayakan ulang tahun ayah. Semoga bunda senang.”
Nia menatap makam ibunya sambil menaruh bunga mawar cantik.
”Terima kasih bunda, sudah bikin keluarga kita damai lagi. Bunda memang yang terbaik.”
”Ayah, sini ngobrol sama bunda.”
Herman teresenyum kecil.


”Hai, bun, ini Ayah. Kami kangen sama bunda, semoga bunda tenang di sana. Kami sayang banget sama bunda.”
Herman memeluk Nia, sambil mengecup keningnya.
”Ih ayah, geli tau.”
”Biarin, kamu kan anak gadis ayah yang paling cantik sedunia.”
Herman dan Nia bertukar tawa.
”Oh, iya bun, Nia punya sesuatu buat bunda, taraa!”
Nia menunjukkan lukisannya yang indah.
”Ini lukisan baruku, tentang keluarga kita. Sudah lama aku tidak melukis. Ini ada Nia, ayah, dan bunda. Kulukis dengan sayap yang cantik. Bagus kan?”

Nia meletakkan lukisan itu di atas makam.
”Kami pergi dulu. Kami sayang bunda. dadah!”
Bunda sedang melihat keluarganya dari atas awan. Senang mereka sudah berdamai lagi.
”Sampai berjumpa lagi,” ucap Nurul, tersenyum manis.
19 Januari 2024


*) Penulis adalah Yefa Nadin Kanaya siswi kelas VIII SMPN 2 Kota Mojokerto, kelahiran Mojokerto, 4 Maret 2011. Hobi melukis. Juara harapan 1 lomba menulis pantun dalam rangka HUT ke-106 Kota Mojokerto.

Editor : Hendra Junaedi
#cerpen