Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Dessy Dhalia Sari

Fokus Geluti Dunia Fashion

30 November 2021, 05: 00: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Fokus Geluti Dunia Fashion

Dessy Dhalia Sari (Dessy for jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Dessy Dhalia Sari dikenal sebagai seorang desainer. Karyanya identik dengan gaun dan kebaya yang khas. Namun, siapa yang sangka. Perempuan yang tinggal di Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari ini pernah memutuskan berhenti dari karirnya yang sangat prestise. Yakni, sebagai pegawai hotel bintang 5.

Ibu satu anak ini memutuskan terjun ke dunia fashion bukan tanpa pertimbangan matang. Dessy, panggilan akrabnya, berniat hijrah dan melepas karirnya sebagai pegawai hotel. Selain itu, dia ingin fokus mengasuh sang anak. ”Karena semakin tinggi karir, otomatis semakin banyak waktu yang terpakai untuk bekerja. Sedangkan, anak sudah mulai masuk SD. Saya tidak mau diasuh orang lain,” ujar mantan pegawai Wyndham Hotel Surabaya ini.

Faktor lainnya, Dessy sudah akrab dengan dunia butik. Almarhum ibunya, merupakan pengusaha butik sejak 1972. Kliennya banyak dari kalangan pejabat pemerintahan. ”Akhirnya, saya putuskan untuk melanjutkan usaha tersebut. Saya mulai lagi dengan nama brand JDF untuk setiap karya saya,” ulas wanita kelahiran 1 Desember 1979 itu.

Baca juga: Ingatkan Pentingnya Peran Pemuda dan Olahraga

Dessy menuturkan, setiap desainer memiliki alasan tersendiri dalam menghasilkan karyanya. Termasuk dirinya yang sangat akrab dengan kebaya dan evening gown. Pasalnya, pembuatan kedua jenis baju ini menantang kreativitasnya. ”Polanya sangat detail. Kalau kebaya dan evening gown ini butuh kreativitas yang tinggi. Sangat cocok dengan passion saya,” papar alumni Poltek API Yogyakarta ini.

Meski sudah menjadi support fashion dalam berbagai acara, Dessy tak mau berhenti belajar mendalami dunia fashion. Terbukti, dia masih kerap mengadakan kursus menjahit bersama tetangga sekitar. Atau mengajari mereka cara membuat payet. ”Fashion itu kebutuhan. Bukan lifestyle. Jadi, tidak ada salahnya untuk mengajari sesama. Fashion bisa menjadi sebagai mata pencarian, bukan hanya sekadar sandangan saja,” ungkapnya.

Disinggung terkait tren fashion saat ini di kalangan remaja, Dessy mengakui, mereka sudah  fashionable secara pribadi. Namun,  fashion itu masih berkiblat dari tren negara lain. Padahal, tren berpakaian ala lokal juga tak kalah menarik. ”Harapan saya, sebagai desainer, anak muda sekarang mau dan mampu mengembangkan tren sendiri dengan ’’berkain’’. Sebab, kekayaan budaya kain kita sangat banyak dan diakui oleh internasional. Sayang kalau tidak dikembangkan,” sebutnya. (oce/ron)

(mj/OCE/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia