alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Menemui Lailatul Qadar

Oleh: Didik Chusnul Yakin

NABI Muhammad SAW menganjurkan umatnya berusaha menemui Lailatul Qadar. Tentu saja pertemuan dengannya bukan menunggu dengan tidak tidur sepanjang malam, karena jika demikian maka orang-orang yang tidak tidurlah yang akan memperoleh kebahagiaan. Menanti kehadirannya adalah dengan jalan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT sambil menyadari dosa dan kelemahan kita. Ini yang harus dilakukan, khususnya sepanjang bulan Ramadan. Hal tersebut bila dilakukan secara sadar, ikhlas, dan berkesinambungan akan berbekas di dalam jiwa sehingga menimbulkan kedamaian, ketentraman, dan dapat mengubah secara total kejiwaan seseorang.

Lalilatul Qadar terdiri dari dua kata Lailah dan Qadar. Lailah sebagaimana kita ketahui bersama berarti malam. Sedangkan Qadar menurut H.M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al Qur’an mempunyai tiga makna. Pertama, penetapan atau pengaturan. Lalilatul Qadar sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua, kemuliaan. Malam Qadar atau Lailatul Qadar adalah malam yang paling mulia karena dipilih Allah sebagai malam turunnnya Alquran serta menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Ketiga, sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi. Bisa juga karena malam tersebut sangat sempit waktunya dan berlangsungnya sebentar sekali.

Ketiga pengertian tersebut pada hakikatnya benar. Karena malam itu malam yang mulia, yang bila diraih maka ia akan menetapkan masa depan umat manusia. Pada malam itu juga para malaikat turun ke bumi membawa ketenangan dan kedamaian. Alquran sendiri menggambarkan Lailatul Qadar sebagai malam yang sangat mulia bahkan lebih mulia dari seribu bulan.

Baca Juga :  Juara OSN Matematika Tingkat SMP

Buya Hamka dalam Renungan Tasawuf menulis kisah perjalanan relegius seorang sufi terkenal bernama Fudhail bin Iyadh. Sebelum menjadi sufi, Fudhail adalah seorang preman yang jauh dari Tuhan. Berbagai maksiat telah dilakukannya. Ia suka mengumbar hawa nafsunya. Kebiasaan jeleknya adalah keluyuran malam dan berpetualang mencari wanita untuk kesenangannya. Suatu malam, ia menyelinap ke sebuah rumah. Sayup-sayup didengarnya suara seorang wanita seperti sedang bernyanyi. Nafsunya pun bergejolak. Dipastikannya untuk melihat lebih dekat wanita itu. Ketika mengintipnya, kelihatan bahwa rupa wanita itu memang sangat cantik sekali. Namun setelah semakin jelas kedengaran suaranya, ternyata wanita itu bukan sedang bernyanyi, melainkan sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan khusyuknya.
Tepat didengarnya wanita itu sedang membacakan Surat Al Hadid ayat 16, yang artinya: ’’Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan.’’

Ayat itu seakan-akan ditujukan kepadanya. Wanita itu sendiri terus membacakan ayat-ayat Alquran dengan khusyuknya dan tidak sadar bahwa ia sedang ’’diincar’’ oleh pemuda Fudhail. Akhirnya hati Fudhail luluh oleh sentuhan ayat yang dibacakan wanita tersebut. Ia sadar selama ini dirinya bergelimang dosa dan berlumuran maksiat. Ia menangis menyesali semua kejahatan yang dilakukannya. Ia pun pergi ke masjid dan bersimpuh di hadapan Allah SWT memohon ampun. Sejak saat itu kehidupan Fudhail berubah total 180 derajat. Satu malam tersebut ternyata telah mengubah kehidupan Fudhail bin Iyadh menjadi seorang alim yang disegani.

Baca Juga :  Qirana Zhafira Pangestu, Gemar Ikuti Segala Lomba

Memang ada saat-saat dalam perjalanan hidup manusia yang dapat menimbulkan kesadaran ruhani yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi kehidupannya. Dan benar juga bahwa saat-saat tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu. Tetapi, pada bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam terakhir dimana jiwa telah diasah dan diasuh, pelbagai kemungkinan tersebut bisa menjadi lebih besar. Mungkin itulah sebabnya Nabi SAW menyatakan bahwa kehadirannya terjadi pada malam-malam terakhir bulan Ramadan.

Apabila kesadaran ruhani telah diperoleh seseorang, maka akan berubah seluruh sikap dan pandangan hidupnya. Ia benar-benar merupakan peletakan batu pertama dari kebajikan sepanjang usianya dan sekaligus ia merupakan ’’malam penetapan’’ atau Lailatul Qadar bagi kehidupan di alam fana’ dan baqa’. Sejak itu hingga akhir hayatnya yang dilanjutkan sampai di akhirat, ia akan merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Ia juga akan merasakan kehadiran malaikat yang antara lain, berfungsi mengokohkan jiwanya serta membimbing dan mendorongnya untuk melakukan kebajikan-kebajikan serta menghindari pelanggaran-pelanggaran. (*)

Penulis adalah Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kab. Mojokerto

Oleh: Didik Chusnul Yakin

NABI Muhammad SAW menganjurkan umatnya berusaha menemui Lailatul Qadar. Tentu saja pertemuan dengannya bukan menunggu dengan tidak tidur sepanjang malam, karena jika demikian maka orang-orang yang tidak tidurlah yang akan memperoleh kebahagiaan. Menanti kehadirannya adalah dengan jalan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT sambil menyadari dosa dan kelemahan kita. Ini yang harus dilakukan, khususnya sepanjang bulan Ramadan. Hal tersebut bila dilakukan secara sadar, ikhlas, dan berkesinambungan akan berbekas di dalam jiwa sehingga menimbulkan kedamaian, ketentraman, dan dapat mengubah secara total kejiwaan seseorang.

Lalilatul Qadar terdiri dari dua kata Lailah dan Qadar. Lailah sebagaimana kita ketahui bersama berarti malam. Sedangkan Qadar menurut H.M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al Qur’an mempunyai tiga makna. Pertama, penetapan atau pengaturan. Lalilatul Qadar sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua, kemuliaan. Malam Qadar atau Lailatul Qadar adalah malam yang paling mulia karena dipilih Allah sebagai malam turunnnya Alquran serta menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Ketiga, sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi. Bisa juga karena malam tersebut sangat sempit waktunya dan berlangsungnya sebentar sekali.

Ketiga pengertian tersebut pada hakikatnya benar. Karena malam itu malam yang mulia, yang bila diraih maka ia akan menetapkan masa depan umat manusia. Pada malam itu juga para malaikat turun ke bumi membawa ketenangan dan kedamaian. Alquran sendiri menggambarkan Lailatul Qadar sebagai malam yang sangat mulia bahkan lebih mulia dari seribu bulan.

Baca Juga :  Arya Fahri Rafliansyah, Bahagiakan Orang Tua dengan Prestasi

Buya Hamka dalam Renungan Tasawuf menulis kisah perjalanan relegius seorang sufi terkenal bernama Fudhail bin Iyadh. Sebelum menjadi sufi, Fudhail adalah seorang preman yang jauh dari Tuhan. Berbagai maksiat telah dilakukannya. Ia suka mengumbar hawa nafsunya. Kebiasaan jeleknya adalah keluyuran malam dan berpetualang mencari wanita untuk kesenangannya. Suatu malam, ia menyelinap ke sebuah rumah. Sayup-sayup didengarnya suara seorang wanita seperti sedang bernyanyi. Nafsunya pun bergejolak. Dipastikannya untuk melihat lebih dekat wanita itu. Ketika mengintipnya, kelihatan bahwa rupa wanita itu memang sangat cantik sekali. Namun setelah semakin jelas kedengaran suaranya, ternyata wanita itu bukan sedang bernyanyi, melainkan sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan khusyuknya.
Tepat didengarnya wanita itu sedang membacakan Surat Al Hadid ayat 16, yang artinya: ’’Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan.’’

Ayat itu seakan-akan ditujukan kepadanya. Wanita itu sendiri terus membacakan ayat-ayat Alquran dengan khusyuknya dan tidak sadar bahwa ia sedang ’’diincar’’ oleh pemuda Fudhail. Akhirnya hati Fudhail luluh oleh sentuhan ayat yang dibacakan wanita tersebut. Ia sadar selama ini dirinya bergelimang dosa dan berlumuran maksiat. Ia menangis menyesali semua kejahatan yang dilakukannya. Ia pun pergi ke masjid dan bersimpuh di hadapan Allah SWT memohon ampun. Sejak saat itu kehidupan Fudhail berubah total 180 derajat. Satu malam tersebut ternyata telah mengubah kehidupan Fudhail bin Iyadh menjadi seorang alim yang disegani.

Baca Juga :  Tasbiroh, S.Pd.I, Karakter Akhlakul Karimah Jadi Kebutuhan Siswa
- Advertisement -

Memang ada saat-saat dalam perjalanan hidup manusia yang dapat menimbulkan kesadaran ruhani yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi kehidupannya. Dan benar juga bahwa saat-saat tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu. Tetapi, pada bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam terakhir dimana jiwa telah diasah dan diasuh, pelbagai kemungkinan tersebut bisa menjadi lebih besar. Mungkin itulah sebabnya Nabi SAW menyatakan bahwa kehadirannya terjadi pada malam-malam terakhir bulan Ramadan.

Apabila kesadaran ruhani telah diperoleh seseorang, maka akan berubah seluruh sikap dan pandangan hidupnya. Ia benar-benar merupakan peletakan batu pertama dari kebajikan sepanjang usianya dan sekaligus ia merupakan ’’malam penetapan’’ atau Lailatul Qadar bagi kehidupan di alam fana’ dan baqa’. Sejak itu hingga akhir hayatnya yang dilanjutkan sampai di akhirat, ia akan merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Ia juga akan merasakan kehadiran malaikat yang antara lain, berfungsi mengokohkan jiwanya serta membimbing dan mendorongnya untuk melakukan kebajikan-kebajikan serta menghindari pelanggaran-pelanggaran. (*)

Penulis adalah Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kab. Mojokerto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/