
Oleh : Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa & PDT
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."
(QS Al-Hujurat ayat 6)
Media sosial telah menjadi ruang publik baru. Di sana orang berbicara, berdebat, menyampaikan kritik, membangun citra, bahkan membentuk opini publik. Persoalannya, kemudahan berbicara tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan dalam bersikap.
Laporan Digital 2026: Indonesia mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, setara 62,9 persen populasi. Rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia di media sosial mencapai 21 jam 50 menit setiap minggu. Angka tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh ruang digital dalam kehidupan kita.
Namun, ada paradoks yang patut direnungkan. Dalam Digital Civility Index Microsoft 2020, Indonesia berada di peringkat 29 dari 32 negara dan wilayah yang disurvei terkait pengalaman dan keadaban interaksi digital. Kajian Universitas Pasundan yang menggunakan data tersebut juga mencatat berbagai bentuk kejahatan berbahasa di media sosial, mulai dari penghinaan, pencemaran nama baik, fitnah, ancaman, hingga ujaran kebencian.
Ironinya, kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi tidak selalu dibarengi dengan kemajuan kedewasaan. Penguasaan teknologi informasi seyogianya tidak hanya membuat seseorang semakin cakap menggunakan teknologi, tetapi juga semakin dewasa dalam menggunakannya.
Di sinilah kecerdasan perlu dipahami secara lebih luas. Cerdas bukan semata-mata memiliki banyak pengetahuan atau mampu menyusun argumentasi dengan cepat. Kecerdasan juga tercermin dari kemampuan memahami konteks, mengendalikan emosi, menerima perbedaan, mempertimbangkan akibat, dan memilih cara yang tepat dalam menyampaikan pikiran.
Orang yang cerdas mungkin mampu menemukan kesalahan orang lain. Tetapi orang yang matang tahu bagaimana menyampaikan kritik tanpa merendahkan. Orang yang cerdas mampu memenangkan perdebatan. Tetapi orang yang dewasa memahami bahwa tidak setiap perdebatan harus dimenangkan.

