
Oleh: Hakam Al Faqih
Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang
DI tengah gempuran mobil Toyota Innova Reborn dan Alphard yang sangat masif, suasana lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang tetap konsisten dengan becak yang selalu berbaris rapi di perempatan, gang-gang kecil, bahkan di depan gerbang utama lingkungan pondok pesantren.
Penumpangnya pun beragam. Mulai dari kalangan santri, pejabat, bahkan tak jarang saya melihat beberapa alumni sepuh yang kini menjadi kiai top pun masih memanfaatkan alat transportasi becak tersebut.
Entah motif apa yang membuat beberapa pejabat bahkan kiai itu bersedia menurunkan standar sosialnya. Sehingga memilih memarkir mobil Toyota Innova Reborn miliknya dalam jarak yang lumayan jauh, kemudian menumpang becak untuk sekadar menelusuri asrama-asrama pesantren di lingkungan PPBU Tambakberas.
Sekitar 15 tahun lalu, mula-mula becak di Tambakberas hanya becak kayuh yang dioperasikan dengan menggunakan tenaga manusia. Sehingga para tukang becak ini hampir tak pernah terusik dengan berita-berita bahan bakar minyak (BBM) naik atau tarif PLN yang semakin tinggi. Apalagi, sampai membuat susah tidur.
Hal itu, setidaknya dapat dibuktikan ketika aktivitas sekolah di lingkungan PPBU Tambakberas sedang berjalan. Sepi dari riwa-riwi para santri. Lalu lalang wali santri terjeda. Dan para tukang becak tertidur pulas di atas transportasi roda tiganya.
Beberapa tukang becak legendaris yang terkenal di lingkungan PPBU Tambakberas di antaranya adalah almarhum Pak O. Sosok tukang becak yang ”ahli ngemong” pelanggan dan humoris, meskipun terkadang guyon (bercanda) dengan napas tersengal-sengal.
Namun, seiring berjalannya waktu, PPBU Tambakberas mengalami transformasi yang cukup signifikan. Meski demikian, tetap mempertahankan nilai-nilai historis yang telah ditanamkan sejak ratusan tahun lalu.



