Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masih Ada Waktu?

F
Penulis: Fendy Hermansyah❯
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT.
Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT.

Advertisement

 

Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc.,M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT

Ada dua kata yang sering membuat banyak urusan tidak pernah benar-benar selesai: "nanti saja." 

Advertisement

MAU mulai olahraga, nanti saja. Mau membaca buku yang sudah dibeli berbulan-bulan lalu, nanti kalau ada waktu. Mau menghubungi orang tua, sebentar lagi. Bahkan untuk urusan ibadah, kita kadang menggunakan kalimat yang sama. Nanti kalau sudah tidak sibuk. Nanti kalau hati sudah tenang. Nanti kalau umur sudah sedikit lebih tua.

Masalahnya, “nanti” adalah waktu yang tidak pernah tercantum di kalender. Kita punya Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya. Ada Januari sampai Desember. Tetapi tidak pernah ada tanggal bernama nanti. Anehnya, banyak rencana penting justru kita simpan di sana.

Manusia memang punya kebiasaan merasa masih memiliki banyak waktu. Ketika masih muda, kita membayangkan usia tua masih sangat jauh. Ketika sehat, sakit seperti urusan orang lain. Ketika sedang bersama keluarga, kita merasa pertemuan berikutnya pasti masih ada. Karena merasa waktu tersedia begitu panjang, banyak hal baik akhirnya mudah ditunda.

Advertisement

Padahal, kalau dipikir-pikir, sebagian penyesalan terbesar dalam hidup sering lahir dari sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan lebih awal. Al-Qur'an beberapa kali menggambarkan penyesalan manusia ketika kesempatan untuk berbuat telah selesai. Allah Swt. berfirman: “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Menariknya, yang diminta dalam ayat itu adalah tambahan waktu. Bukan tambahan harta. Bukan pula jabatan. Manusia hanya ingin sedikit kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dahulu sempat ditunda. Tetapi waktu memiliki watak yang agak keras. Ia tidak pandai menunggu.

Setiap hari kita mendapatkan jatah yang sama: dua puluh empat jam. Orang kaya mendapat dua puluh empat jam. Orang miskin juga demikian. Pejabat, pedagang, guru, petani, semuanya memiliki jumlah waktu yang sama. Yang berbeda adalah bagaimana waktu itu digunakan.

Tentu tidak semua penundaan buruk. Ada keputusan yang memang perlu dipikirkan. Ada pekerjaan yang harus menunggu keadaan. Tidak semua hal harus dilakukan tergesa-gesa. Tetapi kita juga tahu, ada banyak penundaan yang sebenarnya bukan karena belum siap. Kita hanya malas memulai.

Advertisement
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto

Artikel Terkait

Organizational Change Capability; Kunci Sukses BUMDes

Organizational Change Capability; Kunci Sukses BUMDes

SELAMA bertahun-tahun, keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sering diukur dari besarnya penyertaan modal, banyaknya unit usaha yang dimiliki, atau nilai aset yang berhasil dihimpun. Padahal, berbagai fakta di lap

Kelelahan Menjadi Hebat

Kelelahan Menjadi Hebat

Ada satu penyakit zaman yang jarang dibicarakan di mimbar-mimbar keagamaan, tetapi diam-diam dirasakan oleh banyak orang: kelelahan karena harus terus menerus berusaha menjadi yang terhebat.

Refleksi Muharam, Ibu sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Refleksi Muharam, Ibu sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

BULAN Muharam bukan sekadar penanda bergantinya angka dalam kalender Hijriah, akan tetapi juga banyak kemuliaan di dalamnya. Momentum Muharam mengajak setiap muslim untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, mela

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer