
PERJAMUAN akhir yang diadakan Yesus bersama para muridnya adalah momen yang penuh ketegangan. Di meja yang sama di mana Yesus duduk, duduk pula Petrus yang akan menyangkalnya, Yudas yang akan mengkhianatinya, dan murid-murid lain yang nantinya melarikan diri saat ia menderita.
Sekalipun tahu apa yang akan dilakukan para murid tersebut, namun Yesus tidak menanggapi ketidaksetiaan mereka dengan kemarahan atau kekecewaan. Sebaliknya, ia justru membasuh kaki para muridnya tersebut, memecahkan roti, dan membagikan cawan sebagai simbol pengorbanannya.
Di balik tindakannya yang sederhana, tersirat pesan mendalam tentang kerendahan hati (humility) yang menjadi inti dari karya keselamatan Allah. Mari kita lihat bagaimana kerendahan hati (humility) itu dijabarkan dan diteladankan oleh Yesus:
- Mengasihi Tanpa Batas (Yohanes 13:1)
Alkitab mencatat, ”Yesus tahu bahwa saatnya sudah tiba, ia mengasihi murid-muridnya sampai kesudahannya.” Sekalipun mengetahui isi dan sikap hati murid-muridnya yang rapuh, Yesus tetap saja memutuskan untuk mengasihi mereka dengan tanpa syarat. Ia membasuh kaki Yudas, sang pengkhianat, tanpa celaan.
Di sini, kerendahan hati berarti mengasihi bukan karena orang tersebut layak untuk dikasihi atau tidak, tetapi karena kasih itu sendiri adalah sifat dasariah dari Allah yang kekal. Paskah mengingatkan kita: kasih sejati tidak menakar kesalahan, melainkan memberi ruang bagi pertobatan dan pemulihan.
- Menghapus Luka dan Kebencian (Kolose 3:13; Lukas 22:19-20)
Ketika Yesus berkata, ”Inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu, darahku yang ditumpahkan bagi pengampunan dosa.” Ia sedang memperbaharui makna penderitaan. Daripada menyimpan dendam, ia menjadikan pengkhianatan sebagai jalan pengampunan. Kerendahan hati adalah keberanian untuk melepaskan sakit hati dan membuka pintu rekonsiliasi. Hari ini kita disuguhi oleh berita dunia yang penuh konflik, baik itu perang dagang maupun perang senjata antarnegara, masing-masing pihak sebegitu rupa berupaya menunjukkan kepada dunia bahwa merekalah yang terhebat.
Paskah kali ini, mengajak kita menjadi pembawa damai: mengampuni seperti Kristus mengampuni, bahkan bagi mereka yang ”tidak pantas.” untuk mendapatkan pengampunan dari kita.
- Melayani Sampai Akhir (Yohanes 13:14-15; Filipi 2:7-8)
Membasuh kaki adalah pekerjaan hamba, tetapi Yesus melakukannya sebagai guru dan Tuhan. Ia berkata, ”Aku memberikan teladan supaya kamu juga melakukan seperti yang telah kuperbuat.” Kerendahan hati bukan hanya sampai pada sekedar sikap hati, namun merupakan tindakan nyata: melayani tanpa pamrih, merendahkan diri demi kebaikan orang lain, dan setia hingga titik akhir. Di kayu salib, Yesus membuktikan bahwa pelayanannya tidak berhenti di ruang perjamuan, tetapi berlanjut hingga kematiannya.
Penutup: Kebangkitan Kristus adalah kemenangan atas keangkuhan dunia. Di dalam kerendahan hatinya, kita belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada kesediaan mengampuni, mengasihi tanpa hitungan, dan melayani tanpa batas. Di tengah kehidupan yang sering diwarnai ego dan konflik, Paskah mengajak kita meneladani Kristus: merendahkan hati, bukan untuk dilemahkan, tetapi untuk membangun kehidupan yang penuh kasih dan pengharapan.
Akhirnya, kiranya berita dan kasih Paskah kali ini menginspirasi kita semua untuk tetap tekun membangun sikap kerendahan hati dan membawa pengharapan bagi seluruh makhluk. ”Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” (Yakobus 4:10). (*)
