Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramadan, Madrasah Kehidupan

F
Penulis: Fendy Hermansyah❯

 

Bambang Sutrisno *)  *) Dosen Pascasarjana Universitas Wirarja Sumenep/ Mantan Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto
Bambang Sutrisno *) *) Dosen Pascasarjana Universitas Wirarja Sumenep/ Mantan Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto

SETIAP bulan Ramadan tiba segenap kaum muslimin menyambutnya dengan penuh sukacita. Sebab, di bulan ini Allah SWT membukakan pintu ampunan seluas-luasnya dan balasan kebaikan berlipat ganda bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa ramadan dengan sempurna.


Advertisement

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang artinya, setiap amal kebajikan anak adam akan dibalas sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kalilipat. Lalu Allah SWT berfirman, ’’Kecuali puasa karena sesungguhnya puasa itu untuk Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya’’.

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, Apabila datang bulan ramadan dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta dibelenggulah tangan-tangan setan. Dari sini makin jelaslah bagi kita betapa istimewanya bulan Ramadan sehingga betapa meruginya orang-orang yang menyia-nyiakannya.

Di kalangan ulama ada yang menyebut bulan Ramadan sebagai syahruttarbiyah. Yakni bulan sekolah kehidupan. Artinya pada saat umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan pada hakikatnya mereka sedang berlatih mempersiapkan mental dan menghadapi realitas kehidupan dunia yang setiap orang tanpa terkecuali pasti mengalaminya.

Advertisement

Rona kehidupan dunia yang kita jalani dalam kapasitas sebagai apa pun pada hakikatnya hanya mengandung dua pilihan. Yakni senang atau susah, kaya atau miskin, sebagai penguasa atau hanya sebagai rakyat jelata. Dalam pandangan Islam apa pun kondisi kehidupan yang kita alami, semuanya merupakan ujian yang wajib kita sikapi secara cerdas. Dalam konteks ini Allah SWT mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam surat Al Ambiya’ ayat 35 yang artinya: Dan benar- benar akan Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.

Ketika kita menjalankan ibadah puasa Ramadan yang ditandai dengan meninggalkan kebiasaan makan dan minum di siang hari. Pada hakekatnya kita sedang berlatih menghadapi kesulitan hidup yang memerlukan kesabaran dan keikhlasan. Demikian juga ketika masa berbuka tiba. Kita diizinkan kembali makan dan minum seperti biasanya. Maka, pada saat itu kita sedang berlatih menghadapi nikmatnya kehidupan yang menuntut kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita.

Terbangunnya keseimbangan sikap sabar dan syukur pada diri manusia dalam menjalani dinamikan kehidupan di dunia ini akan menjadi sumber energi positif bagi tergapainya kebahagiaan hakiki lahir dan batin.

Advertisement

Ibadah puasa Ramadan dengan segala dinamika beserta seluruh ketentuan yang berlaku di dalamnya memberikan pesan moral spiritual yang sangat mendalam. Apa pun kondisi kehidupan yang kita jalani, semuanya bersifat sementara. Susah senang, tangis dan tawa datang pergi silih berganti. Oleh karena itu, ketika diuji dengan beragam penderitaan. Maka bersabarlah dan kuatkanlah hati untuk menerimanya dengan penuh keikhlasan karena penderitaan seberat apa pun pasti akan berakhir.

Hal ini sesuai dengan janji Allah SWT melalui firman-Nya,’’ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan’’. Oleh karena itu, apabila kamu telah menyelesaikan suatu pekerjaan maka kerjakanlah yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.

Sebaliknya ketika kita sedang menjalani kehidupan yang serba ada dan bergelimangan harta, maka janganlah sombong dan lupa diri. Sebab sesungguhnya beragam fasilitas kehidupan yang kita milikihanyalah titipan Allah sekaligus bersifat sementara. Di akhirat kelak segala bentuk kenikmatan duniawi yang kita miliki. Baik berupa harta benda maupun jabatan dan kedudukan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam konteks ini Rasulullah SAW pernah bersabda dalam salah satu haditsnya: Pada hari kiamat kelak seorang hamba tidak akan pernah bisa beranjak dari tempat berdirinya sebelum ditanya empat hal, yakni tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang masa mudanya dipergunakanuntuk apa, tentang ilmunya dipergunakan apa dan tentang hatanya berasal dari mana dan dibelanjakan untuk apa.

Sebagai penutup marilah kita renungkan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah : 216, Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal apa yang kalian benci adalah baik untuk kalian dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu padahal apa yang kalian cintai itu akan berakibat buruk bagi kalian.

Semoga kita menjadi peserta didik Ramadan yang sukses dengan predikat muttaqin. (*)

Advertisement

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer