Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Muhammad Albarraa

Berawal Santri Moderat Kini Abdi Negara

24 Oktober 2021, 10: 05: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Berawal Santri Moderat Kini Abdi Negara

WABUP: Muhammad Albarraa seorang santri yang kini menekuni jalur politik (Khudori/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

SEJAK awal sosok Muhammad Albarraa ini bukan dari kalangan politisi. Awalnya dia dikenal sosok santri moderat. Siapa sangka, putra sulung dari KH Asep Saifuddin Chalim, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah ini, kini jadi pengabdi negara sekaligus pelayan publik.

Itu setelah saat Pilkada 2020 lalu, Gus Barra-sapaan akrab Muhammad Albarraa memenangi Pilkada bersama Bupati Ikfina Fahmawati. ’’Semua ini merupakan amanah dan pengabdian bagi saya,’’ ungkap pria kelahiran Surabaya, 11 November 1986 ini.

Dia mengaku, menjadi politikus tak pernah terfikirkan. Apalagi, direncanakan. Namun, berjalannya waktu, dia harus memenuhi keinginan orang tua untuk terjun ke dunia politik. Kini, mantan Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tahun 2015 di Mesir lantas menduduki jabatan politik Wakil Bupati hasil pilkada 2020.

Baca juga: Wes Ngunu Ae Rek!

Meski disadari namanya saat itu masih belum dikenal masyarakat luas. Berkat dukungan dan restu orang tua, hal itu bukan menjadi persoalan serius. Berjalannya waktu, masyarakat banyak yang menerima dan antusias atas kehadirannya. Gus Barra saat ini berada di dunia politik dan lingkungan birokrasi. ’’Perpolitikan di Timur Tengah secara passion sebenarnya sudah ada, saya pernah jadi tim sukses Jokowi-JK di Mesir. Hanya saja saat itu saya membatasi diri dari poltik. Sebab pada waktu itu, saya menyakini plot saya di pesantren,’’ jelasnya.

Suami Shofiya Hannak Albarraa ini mengaku sudah memiliki passion politik sejak mengenyam pendidikan S-1 di Universitas Al-Azhar Mesir pada 2005 hingga 2011. ’’Ketika saya kuliah, dunia perpolitikan memang sudah menjadi perbincangan sehari-hari dengan teman-teman. Baca koran juga setiap hari,’’ tandas Gus Barra.

Bahkan, ketertarikannya mempelajari dan mengamati birokrasi semakin kuat saat peristiwa runtuhnya Muhammad Husni Said Mubarak pada 2011. Saat itu, Hosni Said yang berkuasa selama 30 tahun di Mesir ditumbangkan oleh gelombang demonstrasi besar. Kebetulan, saat itu, Gus Barra menjadi Ketua Himpunan Alumni Ammanatul Ummah (HIMA) di Kairo, Mesir bersama adik-adik kelasnya yang berasal dari Ponpes Amanatul Ummah. ’’Saat di Mesir saya memang senang mengamati perkembangan politik di Mesir. Terkait sepak terjang Husni Mubarak hingga runtuh, saya ada di sana,’’ ucapnya.

Makin kesini, dia kian menikmati dunia politik. Selain bisa mengabdi pada negara, juga bisa banyak membantu sesama. Benar saja, berbagai program bantuan sosial di tengah pandemi Covid-19 ini terus dilakukan. Di lingkup Pemkab, Gus Barra juga dipercaya sebagai Ketua Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) Kabupaten Mojokerto.

Terbaru, Minggu, 17 Oktober 2021, Gus Barra juga resmi dilantik menjadi Ketua Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia (IAAI) Jawa Timur oleh Ketum IAI Cabang Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi. Amanah baru ini tentu menjadi kado Gus Barra di Hari Santri Nasional 2021. ’’Langkah ke depan, kita punya PR (Pekerjaan Rumah) dari Grand Syekh Al Azhar untuk menyebarkan Islam moderat dan Islam yang bisa membaur dengan semua orang dan terbuka. Dan tentunya diterima semua orang,’’ kata ayah empat anak ini.

Islam moderat sendiri merupakan satu karakter ke-Islaman yang menekankan pada pemikiran dan sikap keagamaan yang nir kekerasan dan ekstremisme. Meski harus melaksanakan tugas sebagai Ketua IAAI Jawa Timur, Gus Barra tetap meyakini waktu yang dimilikinya sebagai Wakil Bupati Mojokerto tak akan terganggu. Sebab, pengabdian dan pelayanan terhadap publik tak bisa terpisah dalam mengemban amanahnya. ’’Insya Allah bisa berbagi waktu, karena sifat organisasi dakwah kepada umat, dan akan melakukan dakwah seluruh Jawa Timur dengan berkoordinasi dan bekerjasama dengan DMI dan alumni Al Azhar di masjid-masjid seluruh Jatim untuk berdakwah,’’ paparnya.

Selain itu, ke depan, juga bisa memberikan penguatan sektor ekonomi antar pesantren yang dimiliki para alumni. Dimana, para santri sebagai salah satu penggerak ekonomi pesantren. ’’Alumni kita banyak punya pesantren, jadi kami juga menggerakkan ekonomi syariah antar pesantren untuk saling menguatkan link satu sama lain,’’ tegasnya. (ori/fen)

(mj/ori/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia