Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader

Peran Keluarga Kurangi Learning Loss di Tengah Pembelajaran Daring

16 Oktober 2021, 14: 20: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Peran Keluarga Kurangi Learning Loss di Tengah Pembelajaran Daring

Share this      

Oleh: Lailatul Nurul Khasanah*

Apa itu learning loss? Menurut Kemendikbudristek, learning loss adalah hilangnya kesempatan belajar karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran yang mengakibatkan penurunan penguasaan kompetensi peserta didik. Menurut Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid, learning loss adalah hilangnya kemampuan akademik pengetahuan atau keterampilan oleh peserta didik.

Istilah learning loss menjadi wacana populer seiring pandemik Covid-19, yang kurang lebih 2 tahun ini terjadi. Hamdi Moeloek, psikolog sosial Universitas indonesia mengatakan learning loss sebagai generasi yang hilang akibat suatu keadaan, dalam hal ini karena pandemi Covid-19. Generasi hilang maksudnya masa pendidikan anak terganggu, terutama saat memperoleh pendidikan tingkat TK, SD,SMP, anak-anak harus mengikuti pembelajaran daring.

Baca juga: Getol Gandeng Stakeholder

Sebenarnya learning loss ini bukan hanya hilang masa masa mendapatkan ilmu pengetahuan saja. Ada hal lain yang lebih penting dan perlu kita sikapi bersama, baik oleh tenaga pendidik maupun orang tua, hal apakah itu?  Hilangnya penanaman karakter. Itulah salah satu dampak dari hilangnya waktu belajar. Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual saja tetapi juga harus diberi pembelajaran dalam segi moral dan spiritualnya.

Pendidikan karakter di sekolah berupa memberi contoh yang jadi teladan murid diiringi pemberian pembelajaran seperti keagamaan dan kewarganegaraan. Sehingga, dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta adil segala hal.

Penanaman karakter inilah yang hilang seiring dengan diberlakukannya pembelajaran daring karena pandemik covid 19. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan masih bisa diatasi dengan googling. Misalnya, untuk mendapatkan pengetahuan tentang pengertian, macam dan contoh majas dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa bisa mencari di google. Berbeda dengan penanaman karakter, yang membutuhkan penerapan langsung dan tidak bisa ditanamkan dengan cara googling. Terkait dengan itu dibutuhkan peran aktif dari keluarga khususnya orang tua.

Aris Ahmad Jaya, motivator character building, dalam webinar bersama Direktorat Sekolah Dasar bertajuk ’’Pentingnya Peran Ayah Bunda Berkontribusi Meminimalisir Learning Loss’’ menyampaikan lima peran orang tua meminimalisir learning loss dan menanamkan pendidikan karakter anak. Pertama, kebutuhan anak. Berdasarkan pengamatan dan penelitiannya, anak membutuhkan apresiasi atau penghargaan, mengapresiasi proses lebih penting dibanding apresiasi hasil akhir.

Cara apresiasi dan penghargaan pada anak bisa dengan menggunakan kata positif, seperti Alhamdulillah kamu hebat, kamu bisa, terima kasih dan lainnya. Kita bisa menyebut apa yang kita sukai kemudian kita sampaikan alasan mengapa layak diberikan apresiasi atau penghargaan. Kedua, kebersamaan waktu yang berkualitas. Waktu bersama belum tentu membersamai, selaku orang tua harus membangun momentum kebersamaan, seperti makan bersama, bercengkrama, menikmati acara TV sambil sharing kegiatan yang dilakukan hari ini. Termasuk, mendampingi anak saat belajar, hal inilah yang dimaksud dengan membersamai.

Dijelaskan, dalam membersamai anak ada tiga tipe orang tua yaitu orang tua nyasar, orang tua bayar dan orang tua sadar. Orang tua nyasar adalah orang tua yang biasanya bersikap masa bodoh. Tidak mau tahu perkembangan dan pertumbuhan anak. Juga, kurang menghargai proses belajar anak. Tipe orang tua bayar adalah orang tua yang oursorsing. Artinya, orang tua berprinsip yang penting saya sudah bayar dan sudah merasa cukup dengan memberikan kebutuhan finansial bagi anak. Orang tua sadar adalah orang tua yang menyadari sepenuhnya anak adalah tanggung jawab mereka. Anugerah indah yang dipertanggung jawabkan pada Tuhan. Pihak ketiga seperti guru hanyalah seorang suporter atau pelatih.

Selanjutnya, peran orang tua ketiga adalah cerdas berkomunikasi. Bukan berarti pandai berbicara, tapi yang disampaikan bisa diterima. Komunikasi adalah bagaimana mampu mengerti sebelum ingin dimengerti. Mau mendengarkan sebelum ingin didengarkan. Orang tua dengan anak harus tercipta komunikasi harmonis. Yang keempat, contoh dan keteladan dari orang tua bagi anak. Masa pandemi maupun masa normal orang tua harus bisa memberikan contoh dan teladan bagaimana bersikap,disiplin, tertib yang bisa dicontoh anak. Ingat, anak adalah peniru yang baik.

Hal baik orang tua lebih efektif daripada menyampaikan banyak teori dan nasihat. Apa yang dilakukan orang tua, secara tidak langsung menjadi proses pembelajaran buat anak. Misalnya rutin salat berjamaah, memberi contoh merapikan tempat tidur, berpamitan, dan mengucapkan salam saat keluar masuk rumah. Itu teladan lewat pembiasaan yang baik.

Terakhir, kelima adalah memberi dukungan dan kepercayaan atau minimal berikan kesempatan kepada anak dalam mengeksistensikan dirinya. Orang tua berperan memberi dukungan dan kesempatan anak mengembangkan jati diri. Membuat anak lebih percaya diri dan lebih berarti baik buat dirinya sendiri maupun orang lain. Yakin bahwa anak-anak mempunyai kemampuan dan kelebihan diri masing-masing.

Sebagai tambahan, ada peran yang tidak kalah pentingnya yaitu doa. Peran orang tua dalam mendoakan kesuksesan anak, berhasil menjadi generasi yang sholih sholihah, membawa manfaat buat dunia dan akhirat.

Intinya, kebijakan pemerintah menetapkan pembelajaran daring maupun luring, keberhasilannya bukan hanya kesiapan guru sekolah dan fasilitas teknologi informasi. Tetapi, yang utama juga penguatan peran keluarga berupa kesiapan orangtua dalam membimbing dan mendampingi pembelajaran anak di rumah.

Demikian beberapa peran yang mungkin bisa dilakukan orang tua untuk meminimalisir learning loss dan menanamkan pendidikan karakter anak. Semoga kondisi negara kita Indonesia segera terbebas pandemi sehingga proses pendidikan berlangsung normal.

*Guru BK SMAN Mojosari yang juga Mahasiswa Pascasarjana BK 2020 UNESA

(mj/BAS/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia