alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Setia dalam Mengasihi

Oleh : Pdt. Widi Nugroho S.S.I*

*Pendeta di GKJW Jemaat Wates-Mojokerto
Ketua Majelis Daerah Mojokerto SB.


MENGHAYATI
peristiwa kematian Tuhan Yesus mengingatkan umat Kristen paling tidak kepada dua hal. Yang pertama, sebagai pengikut Kristus semestinya umat Kristen setia mewujudkan perilaku hidup mengasihi di dalam kehidupan ini. Mengapa? Karena itulah teladan Tuhan Yesus bagi pengikutNya. Walaupun harus mengalami penderitaan dan berkorban sampai mati, Dia tidak mundur dan tidak menghindarinya. Dia memilih tetap setia menyatakan kasih itu. Maka firman-Nya, ’’…bukankah Aku harus meminum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?’’ (Yohanes 18: 11).

Sebenarnya ada kesempatan dan ada dukungan untuk menghindari via dolorosa. Namun, penderitaan dan pengorbanan itu mesti tetap dijalani, ketika itu adalah upaya mewujudkan kebenaran dan kasih. Dalam perilaku dan aktivitas kehidupan ini, teladan Tuhan Yesus mengingatkan umat Kristen untuk tetap melakukan yang benar dan baik, karena kasih –walaupun ada kesempatan serta ada dukungan untuk melakukan penyelewengan dan pelanggaran.

Baca Juga :  Memupuk Sikap Toleran dengan Puasa dan Zakat

Yang kedua, menghayati peristiwa salib di Jumat Agung, umat Kristen juga diingatkan bahwa hidup kasih semestinya diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam kata-kata. Puncak teladan hidup kasih oleh Tuhan Yesus adalah ketika Dia mengorbankan nyawanya, mati di kayu salib. Ada tertulis ’’Sudah selesai’’. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya… (Yohanes 19 : 30). Inilah bukti bahwa Dia tidak hanya memberi pengajaran tentang kasih, namun kasih itu dibuktikan-Nya dalam aksi nyata hingga mengorbankan nyawa-Nya.

Mengingat situasi dunia saat ini, kekacauan, kebingungan, ketidakpastian, ketidakadilan, kekerasan, dan lain-lain terjadi di mana-mana; perang dingin, perang terbuka, perang ideologi, perang ekonomi, dan perang-perang yang lain sedang terjadi di depan mata. Maka, inilah saatnya umat Kristen bergandeng tangan dengan sesamanya menyatakan kasih untuk dunia. Kini sudah bukan lagi saatnya hanya berteori dan bangga saja dengan pengajaran kasih itu. Namun, inilah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menyatakan kasih, mewujudkan perilaku, aktivitas dan tindakan nyata hidup mengasihi dan saling mengasihi.

Baca Juga :  Juara OSN Matematika Tingkat SMP

Memang tidak mudah di tengah kuatnya pengaruh faham pragmatisme, transaksionalisme, dan isme-isme lainnya di zaman ini. Namun, niat yang sungguh disertai keyakinan kuat, akan menjadikan ini sebagai kenyataan.

Selamat menghayati Jumat Agung…. Kiranya Jumat Agung ini menjadi inspirasi bagi semua untuk setia mewujudkan hidup saling mengasihi. Bukan hanya di dalam kata-kata, tetapi melalui perilaku hidup nyata bersama sesama. (*)

Oleh : Pdt. Widi Nugroho S.S.I*

*Pendeta di GKJW Jemaat Wates-Mojokerto
Ketua Majelis Daerah Mojokerto SB.


MENGHAYATI
peristiwa kematian Tuhan Yesus mengingatkan umat Kristen paling tidak kepada dua hal. Yang pertama, sebagai pengikut Kristus semestinya umat Kristen setia mewujudkan perilaku hidup mengasihi di dalam kehidupan ini. Mengapa? Karena itulah teladan Tuhan Yesus bagi pengikutNya. Walaupun harus mengalami penderitaan dan berkorban sampai mati, Dia tidak mundur dan tidak menghindarinya. Dia memilih tetap setia menyatakan kasih itu. Maka firman-Nya, ’’…bukankah Aku harus meminum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?’’ (Yohanes 18: 11).

Sebenarnya ada kesempatan dan ada dukungan untuk menghindari via dolorosa. Namun, penderitaan dan pengorbanan itu mesti tetap dijalani, ketika itu adalah upaya mewujudkan kebenaran dan kasih. Dalam perilaku dan aktivitas kehidupan ini, teladan Tuhan Yesus mengingatkan umat Kristen untuk tetap melakukan yang benar dan baik, karena kasih –walaupun ada kesempatan serta ada dukungan untuk melakukan penyelewengan dan pelanggaran.

Baca Juga :  Sensus Penduduk 2020 Lanjutan, Sensus Spesial Edition

Yang kedua, menghayati peristiwa salib di Jumat Agung, umat Kristen juga diingatkan bahwa hidup kasih semestinya diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam kata-kata. Puncak teladan hidup kasih oleh Tuhan Yesus adalah ketika Dia mengorbankan nyawanya, mati di kayu salib. Ada tertulis ’’Sudah selesai’’. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya… (Yohanes 19 : 30). Inilah bukti bahwa Dia tidak hanya memberi pengajaran tentang kasih, namun kasih itu dibuktikan-Nya dalam aksi nyata hingga mengorbankan nyawa-Nya.

Mengingat situasi dunia saat ini, kekacauan, kebingungan, ketidakpastian, ketidakadilan, kekerasan, dan lain-lain terjadi di mana-mana; perang dingin, perang terbuka, perang ideologi, perang ekonomi, dan perang-perang yang lain sedang terjadi di depan mata. Maka, inilah saatnya umat Kristen bergandeng tangan dengan sesamanya menyatakan kasih untuk dunia. Kini sudah bukan lagi saatnya hanya berteori dan bangga saja dengan pengajaran kasih itu. Namun, inilah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menyatakan kasih, mewujudkan perilaku, aktivitas dan tindakan nyata hidup mengasihi dan saling mengasihi.

Baca Juga :  Memupuk Sikap Toleran dengan Puasa dan Zakat
- Advertisement -

Memang tidak mudah di tengah kuatnya pengaruh faham pragmatisme, transaksionalisme, dan isme-isme lainnya di zaman ini. Namun, niat yang sungguh disertai keyakinan kuat, akan menjadikan ini sebagai kenyataan.

Selamat menghayati Jumat Agung…. Kiranya Jumat Agung ini menjadi inspirasi bagi semua untuk setia mewujudkan hidup saling mengasihi. Bukan hanya di dalam kata-kata, tetapi melalui perilaku hidup nyata bersama sesama. (*)

Previous articleTunggu Hasil Audit
Next articleDosa Jariah Media Sosial

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/