alexametrics
22.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Salat, Menghilangkan Dendam dan Melepaskan Beban

Oleh: Fahmi Ali Nufail Haiqal

Pengampu Kajian Terong Gosong Mojokerto/Anggota Lakpesdam NU Kota Mojokerto

DALAM salat, kita pasti mengirim salam kepada umat muslim sedunia. Dan kita tentu tahu, salam ini wajib dilakukan saat salat. Tidak sah salat tanpa salam. Nah, apa rahasia diwajibkannya salam dalam salat? Rahasia salam seperti yang disebut Kanjeng Nabi Muhammad SAW, assalamu tahiyatun limillatina wa amanun lidzilatina. Yang artinya, salam adalah kehormatan untuk agama kita dan rasa aman atas beban tanggunganmu. Dawuh Imam Subki, orang muslim sedunia itu memiliki hak untuk diberi salam oleh kita. Maka dalam salat, salam itu wajib.

Jika kita tidak salat, artinya kita zalim, menghilangkan hak orang muslim sedunia untuk mendapat salam. Maka dari itu, kita pantas mati jika tidak salat. Nah, berkaitan dengan salam dalam salat, orang yang mengaku sudah salat harusnya tidak punya dendam dan tidak pernah merasa dizalimi lagi. Ketika dizalimi muslim lainnya, semisal di-bully, harusnya tetap santai, tenang dan senang. Logikanya, salam ini bermakna doa untuk keselamatan, kebahagiaan, kegembiraan dan kesejahteraan bagi seluruh orang muslim sedunia.

Sementara saat mereka menzalimi kita, mereka hatinya sedang gembira. Artinya doa kita untuk mereka dikabulkan Gusti Allah. Kalau kita mengaku rajin salat, tapi malah suka marah dan menyimpan dendam saat dizalimi muslim lain, artinya kita menyalahi doa kita sendiri, ini justru aneh. Kita sudah susah payah berdoa kebahagiaan untuk umat muslim sedunia, ketika dikabulkan namun tidak terima. Nanti malaikat bingung, ’’Katanya mendoakan orang lain senang, kok sampeyan malah marah saat orang lain senang?’’

Baca Juga :  Supriyanto, SH, Usulkan Pengembangan Kawasan Pariwisata Terintegrasi

Jadi, jika kita dizalimi, lalu mereka tertawa saat menzalimi kita, bilang saja, ’’Alhamdulillah, mereka bahagia, berarti doa saya terkabul’’. Jika hal itu menjadi mindset, kita tidak akan merasa dizalimi dan kita tidak punya dendam pada orang muslim. Dan menghilangkan dendam ini adalah jalan para orang mulia. Sahabat Ansor dan Muhajirin Rodhiyallahu ‘anhum punya doa, ’’Duh Gusti, berilah ampunan bagi kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian (dendam) dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Duh Gusti, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’’ (Al Hasyr 10).

Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan bahaya membawa dendam ke mana-mana, abghodu rojuli ilallahiladil khisyam. ’’Orang yang paling dibenci Gusti Allah ialah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar)’’. Dalam Uqolaul Majanin, ada wali berjuluk Wali Buhlul yang bernama asli Abu Wahib Buhlul bin Amru bin Al Mughiroh Al Majnun. Saat si Wali dilempari orang-orang di pasar hingga orang-orang itu tertawa, beliau justru berdoa. ’’Aku berdoa semoga Gusti Allah berkenan memperhatikan kesakitan dan kesedihanku, dan semoga Dia juga melihat betapa cerianya mereka saat menyakitiku, sehingga Dia berkenan memberi kebahagiaan kepada kami semua’’.

Atau seperti cerita Imam Hanafi saat melihat orang berpesta-pesta dan mabuk-mabuk, Imam Hanafi berdoa, ’’Duh Gusti Allah, seperti halnya Engkau membuat mereka berbahagia di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat’’. KH Wahab Chasbullah Tambakberas adalah lawan debat yang tangguh bagi KH Bisri Syansuri Denanyar. Kalau mereka berdua di forum debat, mereka debat seru hingga gebrak-gebrak meja. Tapi di luar forum, mereka saling menyiapkan sandal satu sama lain, saling menimbakan air untuk wudu dan sering saling silaturahmi. Bahkan Kiai Wahab yang menikahkan Mbah Bisri.

Baca Juga :  Menggapai Keberkahan Ramadan

Mbah Hamid Pasuruan dulu rumahnya sering dilempari batu sama orang yang dengki pada beliau. Mbah Hamid pun cuma dawuh, ’’Bahno, atine lagi seneng (biarkan, hatinya lagi senang)’’. KH Djazuli Utsman Ploso dulu juga punya kebun semangka. Saat akan dipanen, ternyata semangka sudah ludes dahulu. Ternyata sudah dicuri lebih dulu oleh orang lain. Namun Kiai Djazuli tidak marah. Beliau malah senang dan bersyukur karena ini artinya dia tidak susah-susah mengantarkan semangka-semangka itu ke orang-orang.

Seperti juga para kiai kita kalau sedang di forum debat bahtsul masail, mereka saling debat seru hingga gebrak-gebrak meja. Tapi mereka tidak saling dendam. Buktinya habis debat ya ngopi bareng, ketawa-ketawa hingga saling bertukar rokok. Mereka semua ini orang mulia di sisi Gusti Allah dan gak punya dendam pada orang muslim. Itu jadi sumber kebahagiaan mereka.

Alhasil, kalau kita meresapi makna salam dalam salat dan mau melakukannya, kita bisa hidup dan mati tanpa bawa dendam seperti orang-orang mulia di atas. Meninggalkan dendam artinya kita melepaskan belenggu beban saat hidup hingga saat sakaratul maut. (*)

Oleh: Fahmi Ali Nufail Haiqal

Pengampu Kajian Terong Gosong Mojokerto/Anggota Lakpesdam NU Kota Mojokerto

DALAM salat, kita pasti mengirim salam kepada umat muslim sedunia. Dan kita tentu tahu, salam ini wajib dilakukan saat salat. Tidak sah salat tanpa salam. Nah, apa rahasia diwajibkannya salam dalam salat? Rahasia salam seperti yang disebut Kanjeng Nabi Muhammad SAW, assalamu tahiyatun limillatina wa amanun lidzilatina. Yang artinya, salam adalah kehormatan untuk agama kita dan rasa aman atas beban tanggunganmu. Dawuh Imam Subki, orang muslim sedunia itu memiliki hak untuk diberi salam oleh kita. Maka dalam salat, salam itu wajib.

Jika kita tidak salat, artinya kita zalim, menghilangkan hak orang muslim sedunia untuk mendapat salam. Maka dari itu, kita pantas mati jika tidak salat. Nah, berkaitan dengan salam dalam salat, orang yang mengaku sudah salat harusnya tidak punya dendam dan tidak pernah merasa dizalimi lagi. Ketika dizalimi muslim lainnya, semisal di-bully, harusnya tetap santai, tenang dan senang. Logikanya, salam ini bermakna doa untuk keselamatan, kebahagiaan, kegembiraan dan kesejahteraan bagi seluruh orang muslim sedunia.

Sementara saat mereka menzalimi kita, mereka hatinya sedang gembira. Artinya doa kita untuk mereka dikabulkan Gusti Allah. Kalau kita mengaku rajin salat, tapi malah suka marah dan menyimpan dendam saat dizalimi muslim lain, artinya kita menyalahi doa kita sendiri, ini justru aneh. Kita sudah susah payah berdoa kebahagiaan untuk umat muslim sedunia, ketika dikabulkan namun tidak terima. Nanti malaikat bingung, ’’Katanya mendoakan orang lain senang, kok sampeyan malah marah saat orang lain senang?’’

Baca Juga :  Memahami Kemanusiaan Perempuan Melalui Fikih Haid

Jadi, jika kita dizalimi, lalu mereka tertawa saat menzalimi kita, bilang saja, ’’Alhamdulillah, mereka bahagia, berarti doa saya terkabul’’. Jika hal itu menjadi mindset, kita tidak akan merasa dizalimi dan kita tidak punya dendam pada orang muslim. Dan menghilangkan dendam ini adalah jalan para orang mulia. Sahabat Ansor dan Muhajirin Rodhiyallahu ‘anhum punya doa, ’’Duh Gusti, berilah ampunan bagi kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian (dendam) dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Duh Gusti, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’’ (Al Hasyr 10).

- Advertisement -

Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan bahaya membawa dendam ke mana-mana, abghodu rojuli ilallahiladil khisyam. ’’Orang yang paling dibenci Gusti Allah ialah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar)’’. Dalam Uqolaul Majanin, ada wali berjuluk Wali Buhlul yang bernama asli Abu Wahib Buhlul bin Amru bin Al Mughiroh Al Majnun. Saat si Wali dilempari orang-orang di pasar hingga orang-orang itu tertawa, beliau justru berdoa. ’’Aku berdoa semoga Gusti Allah berkenan memperhatikan kesakitan dan kesedihanku, dan semoga Dia juga melihat betapa cerianya mereka saat menyakitiku, sehingga Dia berkenan memberi kebahagiaan kepada kami semua’’.

Atau seperti cerita Imam Hanafi saat melihat orang berpesta-pesta dan mabuk-mabuk, Imam Hanafi berdoa, ’’Duh Gusti Allah, seperti halnya Engkau membuat mereka berbahagia di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat’’. KH Wahab Chasbullah Tambakberas adalah lawan debat yang tangguh bagi KH Bisri Syansuri Denanyar. Kalau mereka berdua di forum debat, mereka debat seru hingga gebrak-gebrak meja. Tapi di luar forum, mereka saling menyiapkan sandal satu sama lain, saling menimbakan air untuk wudu dan sering saling silaturahmi. Bahkan Kiai Wahab yang menikahkan Mbah Bisri.

Baca Juga :  Prioritaskan Program yang Menyentuh Langsung Masyarakat

Mbah Hamid Pasuruan dulu rumahnya sering dilempari batu sama orang yang dengki pada beliau. Mbah Hamid pun cuma dawuh, ’’Bahno, atine lagi seneng (biarkan, hatinya lagi senang)’’. KH Djazuli Utsman Ploso dulu juga punya kebun semangka. Saat akan dipanen, ternyata semangka sudah ludes dahulu. Ternyata sudah dicuri lebih dulu oleh orang lain. Namun Kiai Djazuli tidak marah. Beliau malah senang dan bersyukur karena ini artinya dia tidak susah-susah mengantarkan semangka-semangka itu ke orang-orang.

Seperti juga para kiai kita kalau sedang di forum debat bahtsul masail, mereka saling debat seru hingga gebrak-gebrak meja. Tapi mereka tidak saling dendam. Buktinya habis debat ya ngopi bareng, ketawa-ketawa hingga saling bertukar rokok. Mereka semua ini orang mulia di sisi Gusti Allah dan gak punya dendam pada orang muslim. Itu jadi sumber kebahagiaan mereka.

Alhasil, kalau kita meresapi makna salam dalam salat dan mau melakukannya, kita bisa hidup dan mati tanpa bawa dendam seperti orang-orang mulia di atas. Meninggalkan dendam artinya kita melepaskan belenggu beban saat hidup hingga saat sakaratul maut. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/