Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
SOMEONE, Dyah Ramadhani Saraswati

Membaca Buku Ibarat Bernafas

09 Januari 2022, 05: 00: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Membaca Buku Ibarat Bernafas

PRESTASI: Dyah Ramadhani Saraswati (tengah) didampingi orang tua ketika menyabet gelar Duta Baca Kabupaten Mojokerto, Desember lalu. (Indah Oceananda/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Pepatah buku adalah jendela dunia menjadi pegangan Dyah Ramadhani Saraswati. Siswa SMA Negeri 1 Puri ini berhasil menyandang gelar Duta Baca Kabupaten Mojokerto peringkat kedua.

Melalui berbagai seleksi, gadis yang akrab disapa Dyah ini menuturkan sangat bangga bisa melewati tahap yang dinilainya sangat mendebarkan itu. ’’Saya juga tidak menyangka, karena hobi saya membaca saya tertarik untuk maju dalam kompetisi ini. Seleksinya ketat, namun saya optimis kalau kita sudah membaca, semua yang tidak kita ketahui bakal menjadi lebih tahu. Karena buku kan jendela dunia,’’ ucapnya.

Bagi Dyah, menjadi duta tak hanya sekadar gelar saja melainkan juga memiliki amanah yang diemban. ’’Terutama amanah kolaboratif antara saya dan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Mojokerto dalam mengkampanyekan budaya gemar membaca. Karena untuk bisa mencapai titik ini saya telah melalui beberapa proses tahapan seleksi dari berbagai penjurian,’’ beber dia.

Baca juga: Keseimbangan Baru

Ia mengaku, dirinya memiliki kesempatan besar untuk terus berkontribusi menyebarkan semangat literasi di era digital dan era pandemi. Sehingga bisa berkolaborasi sebagai kolektif milenial yang punya perhatian besar terhadap kesejahteraan dan kecakapan hidup masyarakat.

Meski terbilang baru menyandang gelar duta baca, gadis yang duduk di kelas XI ini sudah punya harapan untuk menumbuhkan minat baca bagi generasi saat ini. Salah satunya dengan menggerakkan kampanye Membaca Ibarat Bernafas. Dirinya sebisa mungkin mengajak masyarakat, terutama kaum muda untuk berpikiran tanpa membaca seseorang akan mati. ’’Meskipun kematian dalam konteks ini bukan kematian secara fisik, tetapi kematian dalam akal pikiran. Itu yang harus ditekankan ke masyarakat saat ini,’’ ulas gadis 17 tahun ini.

Tak hanya mengadakan kampanye, Dyah juga membagikan tips agar masyarakat menjadikan kebudayaan membaca sebagai kebiasaan. Di antaranya, memilih waktu luang yang tepat untuk membaca buku, misalnya saja saat malam hari menjelang tidur. Lalu, membiasakan tentukan tujuan membaca buku demi memperoleh hasil yang optimal. ’’Maka, sebelum membaca sebaiknya kita mengetahui gambaran besar tentang isi buku, karena itu akan mempermudah konsentrasi pada saat membaca,’’ bebernya. (oce/fen)

(mj/OCE/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia