alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

KH. M. Badri, Dibalik Wajibnya Puasa Ramadan

Pengasuh PP. Al Multazam 3 Kota Mojokerto

KEWAJIBAN puasa disebutkan di dalam Quran hanya dalam satu tempat. Tidak sebagaimana ibadah lainnya yang sering disebutkan berulang-ulang. Ini pertanda begitu pentingnya untuk mengingatkan kewajiban berpuasa, ibadah yang berbeda dengan yang lainnya secara keutamaan dan karakteristiknya.

Dengan berpuasa, manusia menjadi tunduk kepada tuhannya. Membiasakan/melatih untuk menghadapi kesulitan, memperkuat tekad seorang muslim dan mampu mengendalikan nafsu.

Senada dengan itu, Nabi Muhammad SAW berpesan agar berpuasa jika tidak mampu untuk menikah, setidaknya untuk meredam nafsu, dan mengajarkan kesabaran. Karena itu, tujuan diwajibakannya berpuasa selama Ramadan karena beberapa hal berikut ini:

Pertama, menguji kualitas takwa. Puasa adalah ibadah rahasia antara Tuhan dan hambanya. Sehingga layak, Allah SWT yang berhak menilai sendiri terhadap kualitas puasa hamba-Nya. Sehingga orang yang berpuasa bebas dari kemunafikan dan pencitraan, berbeda dengan ibadah lainnya, semisal shalat, zakat dan haji, maka perilaku orang yang sedang melakukan ibadah itu tidak bisa dibuat ukuran ketakwaan, bisa dilihat dan dipertontonkan, bahkan bisa dijadikan ajang pencitraan.

Baca Juga :  Tren Positif Akhirnya Menghampiri Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Mojokerto

Kedua, mewujudkan persatuan umat. Puasa merupakan ibadah estafet dari para pembawa risalah sebelum Nabi Muhammad SAW. Orang Yahudi, Nasrani, Mesir Kuno sudah mengenal puasa, bahkan zaman nabi Ibrahim AS sudah ada syariat puasa. Maka, di antara hal yang terpenting dalam syariat adalah menunjukkan keestafetan dalam beribadah, seperti halnya meng-esa-kan Tuhan adalah bagian terpenting dalam syariat.
Ketiga, meningkatkan rasa empati. Ramadan menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk meningkatkan ketakwaan, nilai moral dan sosial. Dengan berpuasa, bagi orang kaya akan merasakan bagaimana perasaan menahan lapar seharian, hal yang setiap hari dirasakan oleh orang yang kurang mampu.

Maka bulan Ramadan, orang-orang berbondong-bondong untuk berbagi, seperti membagikan makanan kepada orang yang kurang mampu untuk berbuka puasa, dengan demikian, komunitas muslim menjadi komunitas yang saling berbagi dan menyayangi.

Baca Juga :  Bulan Ramadan Momentum Membangun Iman

Keempat, untuk merasakan nikmatnya beragama. Ketika orang yang berpuasa menjalankan ibadah puasa dengan benar, tidak hanya puasa meninggalkan makan dan minum, tapi juga puasa dari menggunjing, hasut, riya’, congkak, berkata kasar dan lainnya yang bias merusak kualitas puasa. Maka orang berpuasa akan diberikan derajat yang tinggi, dihapusnya dosa, terbelenggunya syahwat dan seluruh ketaatannya akan diterima dengan baik oleh Allah SWT. Sementara ibadah selain puasa belum bisa merasakan kenikmatan ini. (*)

Pengasuh PP. Al Multazam 3 Kota Mojokerto

KEWAJIBAN puasa disebutkan di dalam Quran hanya dalam satu tempat. Tidak sebagaimana ibadah lainnya yang sering disebutkan berulang-ulang. Ini pertanda begitu pentingnya untuk mengingatkan kewajiban berpuasa, ibadah yang berbeda dengan yang lainnya secara keutamaan dan karakteristiknya.

Dengan berpuasa, manusia menjadi tunduk kepada tuhannya. Membiasakan/melatih untuk menghadapi kesulitan, memperkuat tekad seorang muslim dan mampu mengendalikan nafsu.

Senada dengan itu, Nabi Muhammad SAW berpesan agar berpuasa jika tidak mampu untuk menikah, setidaknya untuk meredam nafsu, dan mengajarkan kesabaran. Karena itu, tujuan diwajibakannya berpuasa selama Ramadan karena beberapa hal berikut ini:

Pertama, menguji kualitas takwa. Puasa adalah ibadah rahasia antara Tuhan dan hambanya. Sehingga layak, Allah SWT yang berhak menilai sendiri terhadap kualitas puasa hamba-Nya. Sehingga orang yang berpuasa bebas dari kemunafikan dan pencitraan, berbeda dengan ibadah lainnya, semisal shalat, zakat dan haji, maka perilaku orang yang sedang melakukan ibadah itu tidak bisa dibuat ukuran ketakwaan, bisa dilihat dan dipertontonkan, bahkan bisa dijadikan ajang pencitraan.

Baca Juga :  Memupuk Sikap Toleran dengan Puasa dan Zakat

Kedua, mewujudkan persatuan umat. Puasa merupakan ibadah estafet dari para pembawa risalah sebelum Nabi Muhammad SAW. Orang Yahudi, Nasrani, Mesir Kuno sudah mengenal puasa, bahkan zaman nabi Ibrahim AS sudah ada syariat puasa. Maka, di antara hal yang terpenting dalam syariat adalah menunjukkan keestafetan dalam beribadah, seperti halnya meng-esa-kan Tuhan adalah bagian terpenting dalam syariat.
Ketiga, meningkatkan rasa empati. Ramadan menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk meningkatkan ketakwaan, nilai moral dan sosial. Dengan berpuasa, bagi orang kaya akan merasakan bagaimana perasaan menahan lapar seharian, hal yang setiap hari dirasakan oleh orang yang kurang mampu.

- Advertisement -

Maka bulan Ramadan, orang-orang berbondong-bondong untuk berbagi, seperti membagikan makanan kepada orang yang kurang mampu untuk berbuka puasa, dengan demikian, komunitas muslim menjadi komunitas yang saling berbagi dan menyayangi.

Baca Juga :  Hari Perempuan Internasional: Bangkitnya Pemimpin Perempuan Majapahit

Keempat, untuk merasakan nikmatnya beragama. Ketika orang yang berpuasa menjalankan ibadah puasa dengan benar, tidak hanya puasa meninggalkan makan dan minum, tapi juga puasa dari menggunjing, hasut, riya’, congkak, berkata kasar dan lainnya yang bias merusak kualitas puasa. Maka orang berpuasa akan diberikan derajat yang tinggi, dihapusnya dosa, terbelenggunya syahwat dan seluruh ketaatannya akan diterima dengan baik oleh Allah SWT. Sementara ibadah selain puasa belum bisa merasakan kenikmatan ini. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Hobi kok Gegeran

Siapkan Uji Coba Pamungkas

Artikel Terbaru


/