alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Sunardi, Ciptakan Sekolah Berbudaya Religius

BUDAYA religius tidak hanya diterapkan pada sekolah berbasis agama ataupun lembaga agama saja. Namun, itu juga bisa diciptakan pada semua sekolah dengan menerapkan visi misi sekolah tanpa menghilangkan sisi-sisi religius melalui misi pada tiap program yang dijalankan.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala SD Negeri Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Sunardi. Sejak menjabat mulai Januari lalu, Sunardi mencanangkan program siswa berkarakter religius yang diterapkan dalam berbagai kegiatan. Itu dengan tujuan mempersiapkan generasi yang cerdas, bijak sekaligus bajik. ’’Semua kegiatan harus berkesinambungan dengan nilai religius. Itu kita aplikasikan setiap hari saat anak masuk sekolah,’’ ujarnya.

Dikatakannya, salah satu kegiatan yang sampai saat ini terus berlangsung yakni penerapan kebiasaan salat berjamaah. Meski dengan kondisi musala yang terbatas kapasitasnya, namun Sunardi bercita-cita menumbuhkan semangat agar mereka rajin beribadah. Adapun, strateginya dengan membuat jadwal salat berjamaah per kelas.

Baca Juga :  Dyan Ahmad Mangkuluhur, Juara OSN IPA Jenjang SMP

’’Kita terapkan dari salat duha dan zuhur dilakukan sesuai jadwal yang sudah ditentukan guru. Yang kita fokuskan untuk menjalankan kegiatan salat berjamaah itu kelas besar mulai dari kelas IV sampai VI, karena mereka yang sudah menuju masa pubertas,’’ ungkap mantan Kepala SD Negeri Banjaragung 1 ini.

Lanjut Sunardi, selain salat berjamaah ada pula kegiatan rutin bernilai religi setiap Jumat. Sebelum masuk kelas, siswa dan guru khusus beragama Islam berkumpul di lapangan selama 15 menit. Pasalnya, hari Jumat menjadi rutinitas mereka untuk membaca doa dan istigasah bersama. ’’Ini untuk semua kelas. Nah, untuk yang agama non muslim nanti juga tetap berdoa bersama guru pembimbingnya. Jadi, khusus hari Jumat memang kita luangkan waktu untuk kegiatan bernuansa religius,’’ beber pria 59 tahun itu.

Baca Juga :  Gunawan, S.Pd, Wujudkan Sekolah Merdeka dari Penanaman Karakter

Masih kata Sunardi, dengan penerapan budaya religius pada siswa ini diharapkan bisa menciptakan iklim sekolah atau lingkungan belajar benar-benar menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak. Sekaligus, membuat lingkungan sekolah terhindar dari dorongan berbuat kekerasan, intimidasi dari sesama siswa dan ketidakacuhan guru.

Namun sebaliknya, bisa menjadi lingkungan yang terasa sejuk, nyaman, dan siswa merasa betah untuk terus belajar. ’’Sehingga kalau ini sudah diterapkan, otomatsi internalisasi nilai-nilai dan karakter religius yang diharapkan lebih mudah dicapai dan terbentuk ke dalam diri masing-masing siswa karena didukung dengan suasana yang damai dari lingkungan sekolah,’’ tukasnya. (oce/fen)

BUDAYA religius tidak hanya diterapkan pada sekolah berbasis agama ataupun lembaga agama saja. Namun, itu juga bisa diciptakan pada semua sekolah dengan menerapkan visi misi sekolah tanpa menghilangkan sisi-sisi religius melalui misi pada tiap program yang dijalankan.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala SD Negeri Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Sunardi. Sejak menjabat mulai Januari lalu, Sunardi mencanangkan program siswa berkarakter religius yang diterapkan dalam berbagai kegiatan. Itu dengan tujuan mempersiapkan generasi yang cerdas, bijak sekaligus bajik. ’’Semua kegiatan harus berkesinambungan dengan nilai religius. Itu kita aplikasikan setiap hari saat anak masuk sekolah,’’ ujarnya.

Dikatakannya, salah satu kegiatan yang sampai saat ini terus berlangsung yakni penerapan kebiasaan salat berjamaah. Meski dengan kondisi musala yang terbatas kapasitasnya, namun Sunardi bercita-cita menumbuhkan semangat agar mereka rajin beribadah. Adapun, strateginya dengan membuat jadwal salat berjamaah per kelas.

Baca Juga :  Satsuana Jatiningtyas, Cetak Generasi Cendikia Berkarakter

’’Kita terapkan dari salat duha dan zuhur dilakukan sesuai jadwal yang sudah ditentukan guru. Yang kita fokuskan untuk menjalankan kegiatan salat berjamaah itu kelas besar mulai dari kelas IV sampai VI, karena mereka yang sudah menuju masa pubertas,’’ ungkap mantan Kepala SD Negeri Banjaragung 1 ini.

Lanjut Sunardi, selain salat berjamaah ada pula kegiatan rutin bernilai religi setiap Jumat. Sebelum masuk kelas, siswa dan guru khusus beragama Islam berkumpul di lapangan selama 15 menit. Pasalnya, hari Jumat menjadi rutinitas mereka untuk membaca doa dan istigasah bersama. ’’Ini untuk semua kelas. Nah, untuk yang agama non muslim nanti juga tetap berdoa bersama guru pembimbingnya. Jadi, khusus hari Jumat memang kita luangkan waktu untuk kegiatan bernuansa religius,’’ beber pria 59 tahun itu.

Baca Juga :  Abdul Majid, S.Pd, Cetak Generasi Beriman dan Bertakwa

Masih kata Sunardi, dengan penerapan budaya religius pada siswa ini diharapkan bisa menciptakan iklim sekolah atau lingkungan belajar benar-benar menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak. Sekaligus, membuat lingkungan sekolah terhindar dari dorongan berbuat kekerasan, intimidasi dari sesama siswa dan ketidakacuhan guru.

- Advertisement -

Namun sebaliknya, bisa menjadi lingkungan yang terasa sejuk, nyaman, dan siswa merasa betah untuk terus belajar. ’’Sehingga kalau ini sudah diterapkan, otomatsi internalisasi nilai-nilai dan karakter religius yang diharapkan lebih mudah dicapai dan terbentuk ke dalam diri masing-masing siswa karena didukung dengan suasana yang damai dari lingkungan sekolah,’’ tukasnya. (oce/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/