alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Wednesday, June 29, 2022

Koesno Nonton Ludruk (Lagi)

Oleh : Fendy Hermansyah*

JALAN Taman Siswa Kota Mojokerto mendadak ditutup, Kamis (2/6) malam. Sengaja memang. Di halaman SD Negeri Purwotengah sedang digelar pentas kesenian tradisional ludruk.

Ratusan orang tampak menyemut. Khidmat menghadap panggung. Dari anak kecil, muda mudi sampai orang tua. Tawa mereka membuncah ketika aktor ludruk melempar lelucon.

Pentas kesenian tradisional ini pertama kali digelar di SD Negeri Purwotengah. Sekolah di Jalan Taman Siswa ini berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Dulunya bernama Sekolah Ongko Loro. Soekarno kecil pernah bersekolah di sini selama 6 tahun. Lalu, tiga tahun di ELS (Europesche Lagere School) yang sekarang SMP Negeri 2 Kota Mojokerto.

Adanya jejak Soekarno di Kota Mojokerto dimanfaatkan Pemkot. Mereka menggelar event Bulan Bung Karno. Event digelar tanggal 1 Juni, bertepatan Hari Lahir Pancasila. Bung Karno lahir tanggal 6 Juni 1901.

Sosok pendiri bangsa itu digaungkan melalui bekas sekolahnya dulu. Sebelumnya sudah dibikin pula patung Soekarno kecil. Patung berbahan logam itu berdiri persis di teras sekolah. Soekarno kecil memakai seragam sekolah tempo dulu yang ditandai dengan blangkon, beskap, dan kain batik.

Soekarno kecil dulunya bernama Koesno. Karena sering sakit-sakitan, nama Koesno diganti oleh ayahnya Raden Soekemi menjadi Soekarno. Setelah ganti nama, Soekarno tak lagi sakit-sakitan. Soal penyakit, Koesno dulu pernah terkena malaria di Mojokerto.

Baca Juga :  Wujudkan Generasi Soekarno, Cendekia dan Berkarakter

Sampai-sampai, Raden Soekemi tidur di bawah ranjang Soekarno. Maklum, dalam kepercayaan Kejawen yang dianut ayah Soekarno, tidur di bawah ranjang anak yang sedang sakit dipercata bisa membawa kesembuhan bagi si anak.

Kamis (2/6) malam, patung Koesno berdiri menemani ratusan warga Kota Mojokerto yang menyaksikan ludruk di SDN Purwotengah. Kesenian tradisional itu akhirnya kembali manggung. Sekitar dua tahun, kesenian rakyat akar rumput ini dipaksa menghilang sementara waktu karena pandemi.

SEKOLAH BUNG KARNO: Patung Soekarno Kecil berdiri di halaman SDN Purwotengah yang dulunya bekas sekolah masa kecil Soekarno yang bernama Sekolah Ongko Loro. (Dok Kominfo Kota Mojokerto for jawaposradarmojokerto.id)

Pentas ludruk dibawakan grup Ludruk Karya Budaya asal Canggu Jetis, Kabupaten Mojokerto. Mereka mengangkat lakon Putra Sang Fajar. Nama lakon itu mirip julukan bagi Soekarno. Lakon itu mengangkat kisah Soekarno kecil aliad Koesno semasa sekolah di Mojokerto.

Dalam pentas, Karya Budaya juga di-support grup Padski (Padepokan Seni Kirun) yang diasuh Kirun, pelawak senior asal Madiun. Kirun juga hadir di SDN Purwotengah meski tak manggung. Dia mengomando anak didiknya saat pentas.

Sejumlah artis Karya Budaya pun beradu akting dengan pemain Padski. Aroma seni ketoprak juga mewarnai ludruk yang digelar sekitar 3 jam tersebut. Itu tampak dari penggunaan kostum ala pemain ketoprak pada prajurit Belanda, kesatria, dan lainnya.

Baca Juga :  Ludruk Kembali Manggung

Nuansa ketoprak Jawa Tengahan tersaji tatkala fragmen perkelahian atau pertempuran. Aksi panggung berupa tarung silat dan atraksi salto pun mengundang decak kagum dan tepukan riuh penonton.

Malam itu, ratusan penonton yang kebanyakan warga Kota Mojokerto benar-benar dapat pertunjukan kesenian yang ciamik. Kerinduan akan tontonan yang merakyat sekaligus dekat dengan akar budaya seakan terobati. Klangenan yang juga dimiliki dalam diri Soekarno.

Dulu, ketika menjabat presiden, Soekarno kerap menggelar pentas kesenian tradisional di Istana Negara. Mengundang seniman tradisi untuk tampil di hadapannya. Ludruk salah satu seni tradisi yang kerap keluar masuk istana. Menjadi pengisi pentas momen tertentu hingga pertunjukkan menyambut tamu negara.

Dan, malam itu. Di SDN Purwotengah, di sekolah masa kecilnya, Soekarno kembali nanggap ludruk. Patung Koesno, Soekarno kecil kembali menyaksikan kesenian tradisional bersama-sama bocah, muda-mudi, orang tua, penjual gorengan, pentol, dan tahu solet. (*)

*Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

Oleh : Fendy Hermansyah*

JALAN Taman Siswa Kota Mojokerto mendadak ditutup, Kamis (2/6) malam. Sengaja memang. Di halaman SD Negeri Purwotengah sedang digelar pentas kesenian tradisional ludruk.

Ratusan orang tampak menyemut. Khidmat menghadap panggung. Dari anak kecil, muda mudi sampai orang tua. Tawa mereka membuncah ketika aktor ludruk melempar lelucon.

Pentas kesenian tradisional ini pertama kali digelar di SD Negeri Purwotengah. Sekolah di Jalan Taman Siswa ini berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Dulunya bernama Sekolah Ongko Loro. Soekarno kecil pernah bersekolah di sini selama 6 tahun. Lalu, tiga tahun di ELS (Europesche Lagere School) yang sekarang SMP Negeri 2 Kota Mojokerto.

Adanya jejak Soekarno di Kota Mojokerto dimanfaatkan Pemkot. Mereka menggelar event Bulan Bung Karno. Event digelar tanggal 1 Juni, bertepatan Hari Lahir Pancasila. Bung Karno lahir tanggal 6 Juni 1901.

Sosok pendiri bangsa itu digaungkan melalui bekas sekolahnya dulu. Sebelumnya sudah dibikin pula patung Soekarno kecil. Patung berbahan logam itu berdiri persis di teras sekolah. Soekarno kecil memakai seragam sekolah tempo dulu yang ditandai dengan blangkon, beskap, dan kain batik.

- Advertisement -

Soekarno kecil dulunya bernama Koesno. Karena sering sakit-sakitan, nama Koesno diganti oleh ayahnya Raden Soekemi menjadi Soekarno. Setelah ganti nama, Soekarno tak lagi sakit-sakitan. Soal penyakit, Koesno dulu pernah terkena malaria di Mojokerto.

Baca Juga :  Bukan Tak Masuk Akal, Tetapi Melampaui Akal

Sampai-sampai, Raden Soekemi tidur di bawah ranjang Soekarno. Maklum, dalam kepercayaan Kejawen yang dianut ayah Soekarno, tidur di bawah ranjang anak yang sedang sakit dipercata bisa membawa kesembuhan bagi si anak.

Kamis (2/6) malam, patung Koesno berdiri menemani ratusan warga Kota Mojokerto yang menyaksikan ludruk di SDN Purwotengah. Kesenian tradisional itu akhirnya kembali manggung. Sekitar dua tahun, kesenian rakyat akar rumput ini dipaksa menghilang sementara waktu karena pandemi.

SEKOLAH BUNG KARNO: Patung Soekarno Kecil berdiri di halaman SDN Purwotengah yang dulunya bekas sekolah masa kecil Soekarno yang bernama Sekolah Ongko Loro. (Dok Kominfo Kota Mojokerto for jawaposradarmojokerto.id)

Pentas ludruk dibawakan grup Ludruk Karya Budaya asal Canggu Jetis, Kabupaten Mojokerto. Mereka mengangkat lakon Putra Sang Fajar. Nama lakon itu mirip julukan bagi Soekarno. Lakon itu mengangkat kisah Soekarno kecil aliad Koesno semasa sekolah di Mojokerto.

Dalam pentas, Karya Budaya juga di-support grup Padski (Padepokan Seni Kirun) yang diasuh Kirun, pelawak senior asal Madiun. Kirun juga hadir di SDN Purwotengah meski tak manggung. Dia mengomando anak didiknya saat pentas.

Sejumlah artis Karya Budaya pun beradu akting dengan pemain Padski. Aroma seni ketoprak juga mewarnai ludruk yang digelar sekitar 3 jam tersebut. Itu tampak dari penggunaan kostum ala pemain ketoprak pada prajurit Belanda, kesatria, dan lainnya.

Baca Juga :  Hj Eka Septya Juniarti, Prihatin Nasib Seniman yang Terpinggirkan

Nuansa ketoprak Jawa Tengahan tersaji tatkala fragmen perkelahian atau pertempuran. Aksi panggung berupa tarung silat dan atraksi salto pun mengundang decak kagum dan tepukan riuh penonton.

Malam itu, ratusan penonton yang kebanyakan warga Kota Mojokerto benar-benar dapat pertunjukan kesenian yang ciamik. Kerinduan akan tontonan yang merakyat sekaligus dekat dengan akar budaya seakan terobati. Klangenan yang juga dimiliki dalam diri Soekarno.

Dulu, ketika menjabat presiden, Soekarno kerap menggelar pentas kesenian tradisional di Istana Negara. Mengundang seniman tradisi untuk tampil di hadapannya. Ludruk salah satu seni tradisi yang kerap keluar masuk istana. Menjadi pengisi pentas momen tertentu hingga pertunjukkan menyambut tamu negara.

Dan, malam itu. Di SDN Purwotengah, di sekolah masa kecilnya, Soekarno kembali nanggap ludruk. Patung Koesno, Soekarno kecil kembali menyaksikan kesenian tradisional bersama-sama bocah, muda-mudi, orang tua, penjual gorengan, pentol, dan tahu solet. (*)

*Wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/