alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Memahami Kemanusiaan Perempuan Melalui Fikih Haid

Oleh: Uswah Syauqie

Guru di Pesantren Al-Azhar Mojokerto

DULU, masa sebelum datang risalah Islam, tradisi yang diwariskan Yahudi menganggap perempuan haid sebagai perempuan najis. Alih-alih dilarang tidur atau makan bersama di rumah, perempuan haid dianggap sebagai pembawa sial. Mereka dilarang berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari di keluarga. Mereka juga tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Tatapan mata mereka disebut evil eyes atau ’’si mata iblis” dan dipercaya mendatangkan bencana.

Masyarakat dengan tabu menstruasi kuat menganggap perempuan haid yang menyentuh makanan akan cepat busuk atau basi. Apabila menyentuh pohon, maka pohon tidak akan berbuah, bila mengonsumsi susu sapi maka sapi tidak akan memproduksi susu lagi. Jika terjadi sentuhan fisik maka orang yang disentuh akan terkena penyakit. Jika membaca buku maka dewi pendidikan akan marah. Perempuan haid dianggap sebagai penyebar kutukan.

Tidak heran, perempuan haid pada masa tersebut diasingkan di suatu tempat yang disebut gubuk menstruasi (menstrual huts). Kondisi gubuk menstruasi sangat jauh dari ruang nyaman, bahkan sangat menistakan perempuan.

Gubuk menstruasi biasanya dibangun di dekat rumah warga, akses masuk gubuk begitu sempit, bangunannya hanya terdiri dari tumpukan jerami di atas bambu-bambu yang memiliki celah menganga. Tak ayal, perempuan haid yang tinggal di gubuk menstruasi akan mengalami dehidrasi, paparan cuaca yang buruk, gigitan ular, bahkan kematian.

Tidak cukup hanya diasingkan, perempuan haid juga diberikan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan bahwa dia sedang haid seperti gelang, kalung, giwang, cadar, dan riasan wajah seperti arang yang dioleskan di area mata (celak). Kini simbol-simbol tersebut berkembang menjadi asesoris dan make up yang bisa dipakai siapa pun. Tidak hanya bagi perempuan yang sedang haid.

Pengasingan semacam ini hanya karena budaya sebagian besar masyarakat yang begitu kuat terhadap tabu menstruasi. Hal yang sama dilakukan untuk perempuan yang sedang mengalami masa nifas, disebut kurungan pascapersalinan. Tradisi pengasingan perempuan haid bertahan di beberapa belahan dunia. Contohnya adalah gubuk menstruasi Chhaupadi di Nepal, Chhaupadi merupakan kandang hewan ternak yang sekaligus menjadi persinggahan sementara perempuan yang sedang ’’tidak suci’’.

Di Ethiopia, pada tahun 1976, perempuan Yahudi tinggal di gubuk niddah (diusir saat menstruasi) atau biasa disebut Mergem Gogo. Mereka yang melanggengkan niddah hanya akan berhenti pergi ke gubuk menstruasi jika sudah menopause karena telah mengakhiri kenajisan dan dianggap hampir sama dengan laki-laki. Perempuan suku Aborigin di Australia tak lepas dari tabu menstruasi yang menempatkan perempuannya tinggal di gubuk menstruasi ketika haid, gubuk tersebut dibangun ibu mereka sendiri. Setelah menstruasinya berakhir, barulah mandi di sungai dan gubuknya dibakar.

Baca Juga :  Arya Fahri Rafliansyah, Bahagiakan Orang Tua dengan Prestasi

Di negara Federasi Mikronesia. Tepatnya di Yap. Perempuan setelah melahirkan harus diasingkan di gubuk menstruasi bersama bayinya. Sementara sang ayah berlibur. Jadi yang lahiran dengan taruhan nyawa siapa, yang healing siapa? Gelap bestie.

Di masyarakat kita, urusan membuat tempe saja, sekali lagi, membuat tempe konon tidak diperbolehkan bagi perempuan haid karena tidak akan berhasil menjadi tempe yang perfect secara tekstur dan rasanya. Lalu bagaimana jika karyawan pembuat tempe adalah perempuan? Apakah sebulan sekali selama beberapa hari harus mengambil cuti tidak membuat tempe karena sedang haid?

Dalam ranah fikih yang seharusnya mengikis diskriminasi terhadap perempuan justru punya andil dalam menghadirkan tabu-tabu menstruasi. Seperti tidak boleh memasuki masjid ketika haid. Padahal, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi meminta tolong pada Sayyidah Aisyah untuk mengambilkan pakaiannya yang ada di dalam masjid, Sayyidah Aisyah berkata ’’aku sedang haid”. Lalu Nabi menimpali ’’haidmu itu bukan di tanganmu”. Tentu saja hal ini membentuk sebuah produk hukum bahwa boleh-boleh saja perempuan haid memasuki masjid.

Dalam literatur fikih kitab Al-Fatawil Kubro Al-Fiqhiyyah menuliskan, terdapat delapan binatang yang bisa menstruasi. Urutan pertama dituliskan perempuan, lalu kelelawar, dlobuk, kelinci, unta, cicak, kuda, dan anjing.

Pembahasan yang sama dalam kitab al-Hayawan karya al-Jahidz menulis, ada empat binatang yang mengalami haid dan lagi-lagi yang pertama ditulis adalah perempuan, lalu kelinci, kelelawar dan anjing hutan.

Setelah Muhammad diutus menjadi nabi, kemanusiaan perempuan mulai dibahas secara serius. Ayat demi ayat turun mengkritisi tradisi jahiliyah yang tidak sesuai dengan spirit Islam yang berkeadilan bagi seluruh umat. Turunnya ayat pembatasan jumlah perempuan yang dipoligami dan perintah untuk monogami merupakan respon Tuhan terhadap tradisi jahiliyah menikahi puluhan hingga ratusan perempuan (4: 3).

Turunnya ayat waris yang menyebutkan bahwa perempuan juga berhak mendapatkan waris merupakan respon terhadap tradisi yang awalnya justru perempuan diwariskan (4: 11). Ayat pemberian mahar bagi perempuan mendobrak tradisi yang awalnya perempuan diperjual belikan (4: 4).

Bayi perempuan juga disyariatkan untuk diakikahi dengan satu kambing, dulu boro-boro diakikahi, begitu lahir langsung dikubur hidup-hidup (16: 58). Pensyariatan akikah memiliki esensi wujud syukur yang tinggi, sebab setiap kelahiran, baik bayi laki-laki atau perempuan, apabila dirawat hingga menjadi keturunan yang baik, maka seolah-olah menghidupkan seluruh umat manusia (6: 32).

Baca Juga :  Salat, Menghilangkan Dendam dan Melepaskan Beban

Termasuk yang menjadi fokus Quran adalah pengalaman biologis perempuan yang berupa haid. Haid juga menjadi pembahasan khusus dalam ilmu fikih. Sebagaimana sejarah tabu menstruasi di beberapa penjuru dunia, ayat yang membahas tentang haid adalah surah Al-Baqarah ayat 222.

Ayat tersebut hadir sebagai respon baik Tuhan terhadap sejarah tabu menstruasi di seluruh dunia, termasuk pada saat itu di negara Arab yang awalnya mereka mengasingkan perempuan yang sedang haid. Term “adza” diterjemahkan sebagai kotoran. Ini berarti yang kotor adalah darah haidnya, bukan tubuh perempuan yang sedang haid. Jadi, perempuan yang sedang haid tidak perlu dijauhi apa lagi diasingkan. Mereka hanya tidak boleh disetubuhi.

Jika melihat dari sisi tafsir, term ’’adza” bisa juga dimaknai sebagai ’’sesuatu yang bisa menimbulkan rasa sakit”, maka i’tazil bukan sekadar ’’jauhilah perempuan” dalam konteks seks, melainkan ’’berikanlah waktu istirahat bagi perempuan” untuk membahagiakan dirinya sendiri (me time) selama masa haid, karena kita tahu sendiri bahwa sebelum haid sebagian perempuan ada yang merasakan premenstrual syndrome (sindrom prahaid), dismenore (nyeri haid), dan perasaan ketika haid, belum lagi ketika menggunakan alat kontrasepsi siklus haid menjadi berubah hingga pengaruhnya terhadap kondisi fisik.

Dari ayat inilah, maka para mujtahid meng-istinbath-i hukum haid dan berkembang menjadi fikih darah perempuan yang tidak hanya mencakup haid, namun berkembang menjadi nifas dan istihadlah. Mempelajari fikih darah perempuan tidak hanya bertujuan mengetahui status hukum cairan yang dikeluarkan dari farji (vagina) perempuan, melainkan untuk menggali kabar gembira dari Allah bahwa perempuan dianugerahi kasih sayang yang begitu luar biasa dari segi biologis.

Bayangkanlah, quran yang turun pada tahun 610 Masehi sudah mengabarkan bahwa haid itu sesuatu yang normal dikeluarkan, tentu saja zatnya adalah najis, sama halnya dengan sesuatu yang keluar dari lubang anatomi tubuh manusia. Jadi hanya zatnya yang najis, bukan manusianya yang najis. Tidak ada alasan untuk mengasingkan perempuan yang mengalami siklus menstruasi dari dalam tubuhnya.

Kembali pada kisah di Nepal tahun 70-an, tradisi mengasingkan perempuan haid di kandang binatang. Kita bisa mengambil kesimpulan, bukankah hal tersebut adalah kemunduran yang nyata? Betapa primitifnya negara atau masyarakat yang masih mempertahankan tabu menstruasi sedangkan Quran ribuan tahun yang lalu telah memperhatikan dan memuliakan perempuan.

Maka, akankah nikmat menjadi perempuan kita dustakan?

Oleh: Uswah Syauqie

Guru di Pesantren Al-Azhar Mojokerto

DULU, masa sebelum datang risalah Islam, tradisi yang diwariskan Yahudi menganggap perempuan haid sebagai perempuan najis. Alih-alih dilarang tidur atau makan bersama di rumah, perempuan haid dianggap sebagai pembawa sial. Mereka dilarang berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari di keluarga. Mereka juga tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Tatapan mata mereka disebut evil eyes atau ’’si mata iblis” dan dipercaya mendatangkan bencana.

Masyarakat dengan tabu menstruasi kuat menganggap perempuan haid yang menyentuh makanan akan cepat busuk atau basi. Apabila menyentuh pohon, maka pohon tidak akan berbuah, bila mengonsumsi susu sapi maka sapi tidak akan memproduksi susu lagi. Jika terjadi sentuhan fisik maka orang yang disentuh akan terkena penyakit. Jika membaca buku maka dewi pendidikan akan marah. Perempuan haid dianggap sebagai penyebar kutukan.

Tidak heran, perempuan haid pada masa tersebut diasingkan di suatu tempat yang disebut gubuk menstruasi (menstrual huts). Kondisi gubuk menstruasi sangat jauh dari ruang nyaman, bahkan sangat menistakan perempuan.

Gubuk menstruasi biasanya dibangun di dekat rumah warga, akses masuk gubuk begitu sempit, bangunannya hanya terdiri dari tumpukan jerami di atas bambu-bambu yang memiliki celah menganga. Tak ayal, perempuan haid yang tinggal di gubuk menstruasi akan mengalami dehidrasi, paparan cuaca yang buruk, gigitan ular, bahkan kematian.

- Advertisement -

Tidak cukup hanya diasingkan, perempuan haid juga diberikan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan bahwa dia sedang haid seperti gelang, kalung, giwang, cadar, dan riasan wajah seperti arang yang dioleskan di area mata (celak). Kini simbol-simbol tersebut berkembang menjadi asesoris dan make up yang bisa dipakai siapa pun. Tidak hanya bagi perempuan yang sedang haid.

Pengasingan semacam ini hanya karena budaya sebagian besar masyarakat yang begitu kuat terhadap tabu menstruasi. Hal yang sama dilakukan untuk perempuan yang sedang mengalami masa nifas, disebut kurungan pascapersalinan. Tradisi pengasingan perempuan haid bertahan di beberapa belahan dunia. Contohnya adalah gubuk menstruasi Chhaupadi di Nepal, Chhaupadi merupakan kandang hewan ternak yang sekaligus menjadi persinggahan sementara perempuan yang sedang ’’tidak suci’’.

Di Ethiopia, pada tahun 1976, perempuan Yahudi tinggal di gubuk niddah (diusir saat menstruasi) atau biasa disebut Mergem Gogo. Mereka yang melanggengkan niddah hanya akan berhenti pergi ke gubuk menstruasi jika sudah menopause karena telah mengakhiri kenajisan dan dianggap hampir sama dengan laki-laki. Perempuan suku Aborigin di Australia tak lepas dari tabu menstruasi yang menempatkan perempuannya tinggal di gubuk menstruasi ketika haid, gubuk tersebut dibangun ibu mereka sendiri. Setelah menstruasinya berakhir, barulah mandi di sungai dan gubuknya dibakar.

Baca Juga :  Gagas Sekolah Berwawasan Literasi

Di negara Federasi Mikronesia. Tepatnya di Yap. Perempuan setelah melahirkan harus diasingkan di gubuk menstruasi bersama bayinya. Sementara sang ayah berlibur. Jadi yang lahiran dengan taruhan nyawa siapa, yang healing siapa? Gelap bestie.

Di masyarakat kita, urusan membuat tempe saja, sekali lagi, membuat tempe konon tidak diperbolehkan bagi perempuan haid karena tidak akan berhasil menjadi tempe yang perfect secara tekstur dan rasanya. Lalu bagaimana jika karyawan pembuat tempe adalah perempuan? Apakah sebulan sekali selama beberapa hari harus mengambil cuti tidak membuat tempe karena sedang haid?

Dalam ranah fikih yang seharusnya mengikis diskriminasi terhadap perempuan justru punya andil dalam menghadirkan tabu-tabu menstruasi. Seperti tidak boleh memasuki masjid ketika haid. Padahal, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi meminta tolong pada Sayyidah Aisyah untuk mengambilkan pakaiannya yang ada di dalam masjid, Sayyidah Aisyah berkata ’’aku sedang haid”. Lalu Nabi menimpali ’’haidmu itu bukan di tanganmu”. Tentu saja hal ini membentuk sebuah produk hukum bahwa boleh-boleh saja perempuan haid memasuki masjid.

Dalam literatur fikih kitab Al-Fatawil Kubro Al-Fiqhiyyah menuliskan, terdapat delapan binatang yang bisa menstruasi. Urutan pertama dituliskan perempuan, lalu kelelawar, dlobuk, kelinci, unta, cicak, kuda, dan anjing.

Pembahasan yang sama dalam kitab al-Hayawan karya al-Jahidz menulis, ada empat binatang yang mengalami haid dan lagi-lagi yang pertama ditulis adalah perempuan, lalu kelinci, kelelawar dan anjing hutan.

Setelah Muhammad diutus menjadi nabi, kemanusiaan perempuan mulai dibahas secara serius. Ayat demi ayat turun mengkritisi tradisi jahiliyah yang tidak sesuai dengan spirit Islam yang berkeadilan bagi seluruh umat. Turunnya ayat pembatasan jumlah perempuan yang dipoligami dan perintah untuk monogami merupakan respon Tuhan terhadap tradisi jahiliyah menikahi puluhan hingga ratusan perempuan (4: 3).

Turunnya ayat waris yang menyebutkan bahwa perempuan juga berhak mendapatkan waris merupakan respon terhadap tradisi yang awalnya justru perempuan diwariskan (4: 11). Ayat pemberian mahar bagi perempuan mendobrak tradisi yang awalnya perempuan diperjual belikan (4: 4).

Bayi perempuan juga disyariatkan untuk diakikahi dengan satu kambing, dulu boro-boro diakikahi, begitu lahir langsung dikubur hidup-hidup (16: 58). Pensyariatan akikah memiliki esensi wujud syukur yang tinggi, sebab setiap kelahiran, baik bayi laki-laki atau perempuan, apabila dirawat hingga menjadi keturunan yang baik, maka seolah-olah menghidupkan seluruh umat manusia (6: 32).

Baca Juga :  Bulan Kebaikan dan Cegah Kemaksiatan

Termasuk yang menjadi fokus Quran adalah pengalaman biologis perempuan yang berupa haid. Haid juga menjadi pembahasan khusus dalam ilmu fikih. Sebagaimana sejarah tabu menstruasi di beberapa penjuru dunia, ayat yang membahas tentang haid adalah surah Al-Baqarah ayat 222.

Ayat tersebut hadir sebagai respon baik Tuhan terhadap sejarah tabu menstruasi di seluruh dunia, termasuk pada saat itu di negara Arab yang awalnya mereka mengasingkan perempuan yang sedang haid. Term “adza” diterjemahkan sebagai kotoran. Ini berarti yang kotor adalah darah haidnya, bukan tubuh perempuan yang sedang haid. Jadi, perempuan yang sedang haid tidak perlu dijauhi apa lagi diasingkan. Mereka hanya tidak boleh disetubuhi.

Jika melihat dari sisi tafsir, term ’’adza” bisa juga dimaknai sebagai ’’sesuatu yang bisa menimbulkan rasa sakit”, maka i’tazil bukan sekadar ’’jauhilah perempuan” dalam konteks seks, melainkan ’’berikanlah waktu istirahat bagi perempuan” untuk membahagiakan dirinya sendiri (me time) selama masa haid, karena kita tahu sendiri bahwa sebelum haid sebagian perempuan ada yang merasakan premenstrual syndrome (sindrom prahaid), dismenore (nyeri haid), dan perasaan ketika haid, belum lagi ketika menggunakan alat kontrasepsi siklus haid menjadi berubah hingga pengaruhnya terhadap kondisi fisik.

Dari ayat inilah, maka para mujtahid meng-istinbath-i hukum haid dan berkembang menjadi fikih darah perempuan yang tidak hanya mencakup haid, namun berkembang menjadi nifas dan istihadlah. Mempelajari fikih darah perempuan tidak hanya bertujuan mengetahui status hukum cairan yang dikeluarkan dari farji (vagina) perempuan, melainkan untuk menggali kabar gembira dari Allah bahwa perempuan dianugerahi kasih sayang yang begitu luar biasa dari segi biologis.

Bayangkanlah, quran yang turun pada tahun 610 Masehi sudah mengabarkan bahwa haid itu sesuatu yang normal dikeluarkan, tentu saja zatnya adalah najis, sama halnya dengan sesuatu yang keluar dari lubang anatomi tubuh manusia. Jadi hanya zatnya yang najis, bukan manusianya yang najis. Tidak ada alasan untuk mengasingkan perempuan yang mengalami siklus menstruasi dari dalam tubuhnya.

Kembali pada kisah di Nepal tahun 70-an, tradisi mengasingkan perempuan haid di kandang binatang. Kita bisa mengambil kesimpulan, bukankah hal tersebut adalah kemunduran yang nyata? Betapa primitifnya negara atau masyarakat yang masih mempertahankan tabu menstruasi sedangkan Quran ribuan tahun yang lalu telah memperhatikan dan memuliakan perempuan.

Maka, akankah nikmat menjadi perempuan kita dustakan?

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/