alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Lawatan Jokowi ke Ukraina dan Rusia: Penegasan Sikap Netral Indonesia

Oleh: I’tisham Natha Rulief
(Mahasiswa Hubungan Internasional UMM)

LAWATAN Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia tengah hangat diperbincangkan oleh media lokal dan Internasional. Lawatan ini merupakan langkah Presiden Jokowi untuk memulai perdamaian di antara kedua negara atau setidaknya genjatan senjata serta memperbaiki kembali lingkaran suplai makanan di dunia yang terganggu akibat perang Rusia-Ukraina.

Indonesia yang pada tahun ini memegang Presidensi G20 berupaya untuk menunjukan sikap netralnya terhadap konflik yang terjadi antara kedua negara. Meskipun telah didesak oleh negara-negara barat seperti Amerika Serikat dengan pernyataan Presiden Joe Biden yang menolak kehadiran Presiden Rusia, Vladimir Putin pada forum KTT G20 yang akan dihelat di Bali, November mendatang.

Presiden Joe Biden juga menyatakan akan menolak hadir jika Indonesia tetap mengundang Presiden Rusia. Namun disamping pernyataan Presiden Joe Biden tersebut, ia menyebutkan jika anggota lain menolak untuk mengusir Vladimir Putin dari G20, maka setidaknya Indonesia juga mengundang Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky ke dalam forum KTT G20.

Atas pernyataan Presiden Amerika Serikat inilah, akhirnya Presiden Jokowi melakukan lawatan ke Ukraina dan Rusia yang dimaksudkan untuk mengundang pemimpin kedua negara tersebut dalam forum KTT G20. Sehingga, diharapkan nantinya kedua kepala negara tersebut dapat membuka dialog untuk membahas tentang perang yang terjadi dan telah merugikan banyak pihak tersebut.

Baca Juga :  164 Orang Berebut Jabatan Kades, Ngarjo, dan Randuharjo Jadi Favorit

Sebelum lawatan ke Ukraina dan Rusia, Presiden Jokowi juga menghadiri KTT G7 di Jerman dengan membawa misi untuk mencegah terjadinya krisis pangan dunia akibat perang Ukraina-Rusia. Rangkaian lawatan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi merupakan langkah diplomasi Indonesia terhadap perdamaian dunia dan kesejahteraan dunia.

Dalam KTT G7 tersebut terdapat 2 isu yang diangkat menjadi topik utama. Isu pertama yakni, isu perubahan iklim yang terjadi dan menyebabkan berbagai fenomena alam yang berbahaya. Pada isu kedua mengangkat perihal krisis pangan yang ditakutkan akan terjadi dalam waktu dekat akibat suplai rantai makanan yang terhambat akibat perang Rusia dan Ukraina.

Kemampuan diplomasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia saat ini melalui lawatan Presiden Jokowi ke sejumlah negara juga menggambarkan bahwa tetap sampai kapan pun Indonesia tidak akan memihak kepada salah satu poros kekuatan dunia. Dan, dapat melakukan hubungan baik kepada negara manapun selagi tidak melukai kedaulatan Republik Indonesia.

Sebagai tuan rumah Presidensi G20, Indonesia juga perlu melakukan hal-hal ini karena dunia sedang mengalami stagnansi ekonomi akibat perang Ukraina dan Rusia yang menyebabkan berbagai kesusahan di berbagai belahan dunia. Sehingga Indonesia juga perlu memberikan ruang dialog kepada kedua negara yang berkonflik agar setidaknya dapat mengembalikan kondisi perekonomian dunia menjadi lebih baik.

Baca Juga :  Kantor Polisi Disatroni Maling, Helm Pemohon SKCK di Polsek Jetis Disikat

Langkah diplomasi Indonesia ini patut diapresiasi mengingat Indonesia juga merupakan salah satu pencetus Gerakan Non Blok (GNB) dan mempunyai prinsip politik luar negeri yang bebas aktif. Bebas aktif di sini mempunyai arti bahwa Indonesia dalam melakukan kegiatan politik luar negerinya, Indonesia bebas dalam menentukan sikap dan kebijaksanaan terhadap permasalahan internasional. Indonesia tidak cenderung pada salah satu poros kekuatan dunia. Sehingga, Indonesia dapat aktif berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan dunia, konflik, dan sengketa demi mewujudkan ketertiban dunia dan perdamaian abadi seperti yang disebut dalam UUD 1945.

Langkah Indonesia ini juga diharapkan dapat membawa pandangan yang baik terhadap Indonesia sebagai negara dunia ketiga. Bahwa negara dunia ketiga juga dapat memberikan kontribusi terhadap perdamaian dan ketertiban dunia. Sehingga, negara dunia ketiga yang mana mayoritas merupakan negara berkembang dapat didengar suaranya di ranah politik internasional.

Indonesia sebagai negara dunia ketiga diharapkan juga dapat dipertimbangkan dan didengar sebagai negara yang mampu membawa perubahan terhadap kehidupan umat manusia. (*)

Oleh: I’tisham Natha Rulief
(Mahasiswa Hubungan Internasional UMM)

LAWATAN Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia tengah hangat diperbincangkan oleh media lokal dan Internasional. Lawatan ini merupakan langkah Presiden Jokowi untuk memulai perdamaian di antara kedua negara atau setidaknya genjatan senjata serta memperbaiki kembali lingkaran suplai makanan di dunia yang terganggu akibat perang Rusia-Ukraina.

Indonesia yang pada tahun ini memegang Presidensi G20 berupaya untuk menunjukan sikap netralnya terhadap konflik yang terjadi antara kedua negara. Meskipun telah didesak oleh negara-negara barat seperti Amerika Serikat dengan pernyataan Presiden Joe Biden yang menolak kehadiran Presiden Rusia, Vladimir Putin pada forum KTT G20 yang akan dihelat di Bali, November mendatang.

Presiden Joe Biden juga menyatakan akan menolak hadir jika Indonesia tetap mengundang Presiden Rusia. Namun disamping pernyataan Presiden Joe Biden tersebut, ia menyebutkan jika anggota lain menolak untuk mengusir Vladimir Putin dari G20, maka setidaknya Indonesia juga mengundang Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky ke dalam forum KTT G20.

Atas pernyataan Presiden Amerika Serikat inilah, akhirnya Presiden Jokowi melakukan lawatan ke Ukraina dan Rusia yang dimaksudkan untuk mengundang pemimpin kedua negara tersebut dalam forum KTT G20. Sehingga, diharapkan nantinya kedua kepala negara tersebut dapat membuka dialog untuk membahas tentang perang yang terjadi dan telah merugikan banyak pihak tersebut.

Baca Juga :  dr Dwi Rizki Wulandari, M.Pd, Kombinasikan Ilmu Kesehatan dan Pendidikan

Sebelum lawatan ke Ukraina dan Rusia, Presiden Jokowi juga menghadiri KTT G7 di Jerman dengan membawa misi untuk mencegah terjadinya krisis pangan dunia akibat perang Ukraina-Rusia. Rangkaian lawatan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi merupakan langkah diplomasi Indonesia terhadap perdamaian dunia dan kesejahteraan dunia.

- Advertisement -

Dalam KTT G7 tersebut terdapat 2 isu yang diangkat menjadi topik utama. Isu pertama yakni, isu perubahan iklim yang terjadi dan menyebabkan berbagai fenomena alam yang berbahaya. Pada isu kedua mengangkat perihal krisis pangan yang ditakutkan akan terjadi dalam waktu dekat akibat suplai rantai makanan yang terhambat akibat perang Rusia dan Ukraina.

Kemampuan diplomasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia saat ini melalui lawatan Presiden Jokowi ke sejumlah negara juga menggambarkan bahwa tetap sampai kapan pun Indonesia tidak akan memihak kepada salah satu poros kekuatan dunia. Dan, dapat melakukan hubungan baik kepada negara manapun selagi tidak melukai kedaulatan Republik Indonesia.

Sebagai tuan rumah Presidensi G20, Indonesia juga perlu melakukan hal-hal ini karena dunia sedang mengalami stagnansi ekonomi akibat perang Ukraina dan Rusia yang menyebabkan berbagai kesusahan di berbagai belahan dunia. Sehingga Indonesia juga perlu memberikan ruang dialog kepada kedua negara yang berkonflik agar setidaknya dapat mengembalikan kondisi perekonomian dunia menjadi lebih baik.

Baca Juga :  Kantor Polisi Disatroni Maling, Helm Pemohon SKCK di Polsek Jetis Disikat

Langkah diplomasi Indonesia ini patut diapresiasi mengingat Indonesia juga merupakan salah satu pencetus Gerakan Non Blok (GNB) dan mempunyai prinsip politik luar negeri yang bebas aktif. Bebas aktif di sini mempunyai arti bahwa Indonesia dalam melakukan kegiatan politik luar negerinya, Indonesia bebas dalam menentukan sikap dan kebijaksanaan terhadap permasalahan internasional. Indonesia tidak cenderung pada salah satu poros kekuatan dunia. Sehingga, Indonesia dapat aktif berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan dunia, konflik, dan sengketa demi mewujudkan ketertiban dunia dan perdamaian abadi seperti yang disebut dalam UUD 1945.

Langkah Indonesia ini juga diharapkan dapat membawa pandangan yang baik terhadap Indonesia sebagai negara dunia ketiga. Bahwa negara dunia ketiga juga dapat memberikan kontribusi terhadap perdamaian dan ketertiban dunia. Sehingga, negara dunia ketiga yang mana mayoritas merupakan negara berkembang dapat didengar suaranya di ranah politik internasional.

Indonesia sebagai negara dunia ketiga diharapkan juga dapat dipertimbangkan dan didengar sebagai negara yang mampu membawa perubahan terhadap kehidupan umat manusia. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/