alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Mudik Sebagai Tradisi Islam

TRADISI mudik yang kita kenal sejak dulu bukan lahir tanpa sejarah. Tradisi mudik yang berasal dari bahasa Jawa ’’mulih disik’’ atau ’’pulang sebentar’’ telah abadi hingga kini sejak zaman Majapahit. Saat itu para petani Jawa yang bekerja dalam perantauan pulang ke rumah untuk menziarahi makam leluhurnya. Di tempat pemakaman, mereka meminta doa keselamatan dan keberkahan dalam rezeki.

Di Indonesia, istilah mudik senada dengan ’’pulang kampung’’, berasal dari kata ’’udik’’ yang berarti kampung. Tradisi ini mulai subur sebab masyarakat yang nomaden, di Jakarta sendiri yang merupakan kota megapolitan mampu menjadi magis, kota yang menjanjikan banyaknya lowongan pekerjaan dengan gaya hidup modern, maka banyak pula masyarakat yang merantau untuk mencari keberuntungan.

Momen puasa adalah momen ibadah yang khusus dan berkesan dalam masyarakat muslim, perekonomian meningkat, banyak kebutuhan yang harus dibeli dengan uang, hasrat belanja meningkat pesat ketika puasa, dan ketika mendekati lebaran, banyak orang menjadi konsumtif, berlomba-lomba untuk membeli banyak barang untuk dikenakan saat lebaran. Tidak hanya bagi kaum muslim, atmosfer puasa dan Lebaran menjadi kesan tersendiri bagi nonmuslim, momen mudik juga dirasakan menjadi begitu berharga bagi seluruh lapisan masyarakat dan seluruh agama, mudik sebagai obat paling mujarab kerinduan terhadap tempat asal, pertemuan dengan keluarga besar untuk merajut kembali silaturahmi.

Orang Indonesia terkenal ramah tamahnya, erat persaudaraannya, dan tentu saja silaturahminya. Tradisi silaturahmi ini bergerak menjadi tradisi mudik, berkunjung kembali ke tanah kelahiran, merajut kembali persaudaraan dengan sanak keluarga. Bahkan meskipun orang tua telah tiada, kembali ke tanah asal seolah membuat darah berdesir sebab cinta tanah kelahiran. Tak heran banyak orang yang berwasiat ketika meninggal nanti ingin dimakamkan di tanah kelahiran asalnya. Dan saat yang tepat untuk mudik adalah saat Lebaran, karena di dalam lebaran terdapat tradisi silaturrahim, berkunjung ke seluruh sanak keluarga.

Baca Juga :  Memupuk Sikap Toleran dengan Puasa dan Zakat

Perusahaan juga tempat-tempat usaha menempatkan cuti panjang untuk momen Lebaran. Maka sejak tahun 1970, mudik menjadi suatu tradisi wajib untuk selebrasi Hari Raya Fitri. Jika pada zaman Majapahit, para petani Jawa mudik, saat ini para pekerja di tanah perantauan yang mudik. Fakta pada tahun 2000-an banyak diterapkan otonomi daerah, pendatang pun tak dapat dibendung untuk mencari nafkah di kota-kota besar, baik di raksasa perusahaan ataupun wiraswasta.

Mudik tidak hanya dikenal di Indonesia, ratusan tahun yang lalu di belahan dunia Arab, Nabi Muhammad pun mudik, mudik menjadi keinginan yang kuat Rasulullah.

Pada saat itu, setelah bertempat di Madinah, Rasulullah menguatkan umat muslim dengan mendakwahkan syariat Islam secara militan mulai dari kabilah hingga perluasannya menembus luar negeri. Hal ini dilakukan sebab beliau ingin kembali ke Kota Makkah.

Pascahijrah, karena dimusuhi oleh kaum Qurays di Makkah, Nabi mengatur strategi untuk mengambil kembali Kota Makkah. Setelah kekuatan dari segi finansial dan kekuasaan telah memadai, maka Nabi menggerakkan umat muslim untuk membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah) yang dipimpin secara langsung oleh Rasulullah.

Setelah perang Khandaq pada tahun 628 M, Nabi memproklamirkan akan kembali ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Keputusan ini cukup mengejutkan kaum muslim. Sebab, pada saat itu sedang terjadi sengketa perang yang belum juga usai sejak 6 tahun terakhir. Umat muslim juga mengkhawatirkan keselamatan Nabi. Tentu saja kekhawatiran ini beralasan mengingat bagaimana kerasnya kaum Qurays memusuhi Nabi.

Baca Juga :  Annora Magga Gautami Ketagihan Ikut Lomba

Nabi juga tak henti diteror dengan ancaman pembunuhan dan menjadi orang yang paling dicari oleh Qurays untuk dibunuh. Pada saat yang menggetirkan tersebut, Nabi bersikukuh untuk tetap kembali ke Makkah. Dengan menghimpun lebih dari seribu orang pengikut berbaris di belakangnya, Nabi melakukan perjalanan untuk kembali menuju kota kelahirannya sambil mengumandangkan talbiah pertanda kedatangan rombongan jemaah haji tanpa rasa takut di sepanjang jalan.

Dari sejarah ini kita melihat bahwa mudik juga dilanggengkan Nabi, kerinduannya pada tanah kelahirannya mendorongnya untuk berkunjung ke asalnya, bagaimana pun medan yang dialaminya saat itu.

Sifat alamiah manusia senantiasa merindukan tempat asalnya, maka tidak heran mudik memiliki dorongan yang luar biasa membentuk kekuatan dari dalam diri untuk segera kembali berkumpul dengan keluarga. Bagaimana pun medan yang dilaluinya, sejauh apa pun tempat asalnya, berjubel orang untuk mudik dengan berbagai alat transportasi, semua dilalui demi bisa melihat kembali keluarga terkasih. Mudik menjadi tradisi Islam yang terjaga hingga saat ini. Melanggengkan tradisi mudik bernilai sunah, sebab di dalamnya terdapat silaturahmi, saling bermaafan, saling bersalaman, dan saling memberi hadiah.

Mudik sendiri memiliki filosofi bahwa kita semuanya bakal mengalami mudik, berasal dari tanah kembali ke tanah, jika mudik ketika lebaran membutuhkan banyak persiapan baik dari segi fisik, mental, dan finansial. Maka sudah siapkah bekal kita ketika kita mudik ke tanah? (*)

*) Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al-Azhar Kota Mojokerto

TRADISI mudik yang kita kenal sejak dulu bukan lahir tanpa sejarah. Tradisi mudik yang berasal dari bahasa Jawa ’’mulih disik’’ atau ’’pulang sebentar’’ telah abadi hingga kini sejak zaman Majapahit. Saat itu para petani Jawa yang bekerja dalam perantauan pulang ke rumah untuk menziarahi makam leluhurnya. Di tempat pemakaman, mereka meminta doa keselamatan dan keberkahan dalam rezeki.

Di Indonesia, istilah mudik senada dengan ’’pulang kampung’’, berasal dari kata ’’udik’’ yang berarti kampung. Tradisi ini mulai subur sebab masyarakat yang nomaden, di Jakarta sendiri yang merupakan kota megapolitan mampu menjadi magis, kota yang menjanjikan banyaknya lowongan pekerjaan dengan gaya hidup modern, maka banyak pula masyarakat yang merantau untuk mencari keberuntungan.

Momen puasa adalah momen ibadah yang khusus dan berkesan dalam masyarakat muslim, perekonomian meningkat, banyak kebutuhan yang harus dibeli dengan uang, hasrat belanja meningkat pesat ketika puasa, dan ketika mendekati lebaran, banyak orang menjadi konsumtif, berlomba-lomba untuk membeli banyak barang untuk dikenakan saat lebaran. Tidak hanya bagi kaum muslim, atmosfer puasa dan Lebaran menjadi kesan tersendiri bagi nonmuslim, momen mudik juga dirasakan menjadi begitu berharga bagi seluruh lapisan masyarakat dan seluruh agama, mudik sebagai obat paling mujarab kerinduan terhadap tempat asal, pertemuan dengan keluarga besar untuk merajut kembali silaturahmi.

Orang Indonesia terkenal ramah tamahnya, erat persaudaraannya, dan tentu saja silaturahminya. Tradisi silaturahmi ini bergerak menjadi tradisi mudik, berkunjung kembali ke tanah kelahiran, merajut kembali persaudaraan dengan sanak keluarga. Bahkan meskipun orang tua telah tiada, kembali ke tanah asal seolah membuat darah berdesir sebab cinta tanah kelahiran. Tak heran banyak orang yang berwasiat ketika meninggal nanti ingin dimakamkan di tanah kelahiran asalnya. Dan saat yang tepat untuk mudik adalah saat Lebaran, karena di dalam lebaran terdapat tradisi silaturrahim, berkunjung ke seluruh sanak keluarga.

Baca Juga :  Ramadan, Hadiah Allah untuk Umat Muhammad

Perusahaan juga tempat-tempat usaha menempatkan cuti panjang untuk momen Lebaran. Maka sejak tahun 1970, mudik menjadi suatu tradisi wajib untuk selebrasi Hari Raya Fitri. Jika pada zaman Majapahit, para petani Jawa mudik, saat ini para pekerja di tanah perantauan yang mudik. Fakta pada tahun 2000-an banyak diterapkan otonomi daerah, pendatang pun tak dapat dibendung untuk mencari nafkah di kota-kota besar, baik di raksasa perusahaan ataupun wiraswasta.

Mudik tidak hanya dikenal di Indonesia, ratusan tahun yang lalu di belahan dunia Arab, Nabi Muhammad pun mudik, mudik menjadi keinginan yang kuat Rasulullah.

- Advertisement -

Pada saat itu, setelah bertempat di Madinah, Rasulullah menguatkan umat muslim dengan mendakwahkan syariat Islam secara militan mulai dari kabilah hingga perluasannya menembus luar negeri. Hal ini dilakukan sebab beliau ingin kembali ke Kota Makkah.

Pascahijrah, karena dimusuhi oleh kaum Qurays di Makkah, Nabi mengatur strategi untuk mengambil kembali Kota Makkah. Setelah kekuatan dari segi finansial dan kekuasaan telah memadai, maka Nabi menggerakkan umat muslim untuk membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah) yang dipimpin secara langsung oleh Rasulullah.

Setelah perang Khandaq pada tahun 628 M, Nabi memproklamirkan akan kembali ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Keputusan ini cukup mengejutkan kaum muslim. Sebab, pada saat itu sedang terjadi sengketa perang yang belum juga usai sejak 6 tahun terakhir. Umat muslim juga mengkhawatirkan keselamatan Nabi. Tentu saja kekhawatiran ini beralasan mengingat bagaimana kerasnya kaum Qurays memusuhi Nabi.

Baca Juga :  Motivasi 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan

Nabi juga tak henti diteror dengan ancaman pembunuhan dan menjadi orang yang paling dicari oleh Qurays untuk dibunuh. Pada saat yang menggetirkan tersebut, Nabi bersikukuh untuk tetap kembali ke Makkah. Dengan menghimpun lebih dari seribu orang pengikut berbaris di belakangnya, Nabi melakukan perjalanan untuk kembali menuju kota kelahirannya sambil mengumandangkan talbiah pertanda kedatangan rombongan jemaah haji tanpa rasa takut di sepanjang jalan.

Dari sejarah ini kita melihat bahwa mudik juga dilanggengkan Nabi, kerinduannya pada tanah kelahirannya mendorongnya untuk berkunjung ke asalnya, bagaimana pun medan yang dialaminya saat itu.

Sifat alamiah manusia senantiasa merindukan tempat asalnya, maka tidak heran mudik memiliki dorongan yang luar biasa membentuk kekuatan dari dalam diri untuk segera kembali berkumpul dengan keluarga. Bagaimana pun medan yang dilaluinya, sejauh apa pun tempat asalnya, berjubel orang untuk mudik dengan berbagai alat transportasi, semua dilalui demi bisa melihat kembali keluarga terkasih. Mudik menjadi tradisi Islam yang terjaga hingga saat ini. Melanggengkan tradisi mudik bernilai sunah, sebab di dalamnya terdapat silaturahmi, saling bermaafan, saling bersalaman, dan saling memberi hadiah.

Mudik sendiri memiliki filosofi bahwa kita semuanya bakal mengalami mudik, berasal dari tanah kembali ke tanah, jika mudik ketika lebaran membutuhkan banyak persiapan baik dari segi fisik, mental, dan finansial. Maka sudah siapkah bekal kita ketika kita mudik ke tanah? (*)

*) Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al-Azhar Kota Mojokerto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/