alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Cerita Para Penyintas Covid-19

Saat Terpapar, Suami Tutup Usia

14 September 2021, 10: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

JAWA POS RADAR MOJOKERTO

Erlinda Aminatul Wardatie. (INDAH OCEANANDA/radarmojokerto.id)

DI saat yang lain harus berisitirahat akibat terpapar Covid-19, hal itu tak lantas terjadi kepada diri Erlinda Aminatul Wardatie. Dalam kondisi membutuhkan dukungan, wanita yang akrab disapa Linda itu justru harus kehilangan salah satu penyemangat hidupnya.

Sang suami meninggal ketika dirinya dinyatakan positif Covid-19. "Awal Juli lalu, suami saya meninggal bersamaan hari pertama saya terpapar Covid-19," tutur wanita yang berdinas di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, Kabupaten Mojokerto itu. Tentunya, saat ini kenangan tersebut masih membekas bagi Linda. Bagaimana tidak, selama sang suami dirawat juga akibat terpapar Covid-19, dia tak pernah absen menjaga sang suami yang terbaring lemah di tempat tidur.

Awalnya, dia juga mengenakan alat pelindung diri (APD) ketika menemani sang suami. Namun, sebagai permintaan sang suami, dia tak tega menolaknya. Akhirnya, perlindungan Linda selama menunggu sang suami hanya mengenakan baju medis dilengkapi hand scoon dan masker dobel. ”Saya tidak tega melihat suami. Akhirnya saya putuskan pakai baju medis dilengkapi sarung tangan dan masker berlapis. Saya tahu risikonya bakal terpapar, harapan saya waktu itu hanya suami agar lekas sembuh,” bebernya.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Diikuti Seluruh Guru dan Siswa

Selama hari pertama terinfeksi virus korona, dia mengaku sudah tak memikirkan waktu makan sama sekali. Sehari penuh dia tak merasa lapar, akibat cemas dengan kondisi sang suami yang juga sebagai salah satu nakes di rumah sakit swasta di Kabupaten Mojokerto. Namun, takdir berkata lain. Hari kedua dia terpapar, sang suami akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa setelah melawan Covid-19 selama dua minggu lebih. ”Memang agak drama kedengerannya, tapi itulah yang terjadi pada saya dan keluarga. Saya tetap sempatkan melayat dan menjaga jarak dengan orang-orang. Baru habis melayat itu langsung pulang dan isolasi selama dua minggu,” kenang wanita yang menjabat sebagai kepala Ruangan Radiologi RSUD Prof dr Soekandar itu.

Linda memaparkan, ketika terkena Covid-19 Juli lalu, dia sudah tak kaget lagi. Sebab, sebelumnya di Desember lalu Linda sempat dinyatakan positif. Sehingga sudah dua kali dia terpapar virus korona. Wanita yang tinggal di wilayah Kecamatan Sooko ini menyebutkan, gejala yang dialaminya pada positif pertama dan kedua masih sama. ”Mulai dari demam, menggigil, dan tentunya anosmia. Sampai tidak selera makan sama sekali,” papar dia.

Wanita kelahiran 1 September 1975 ini menyatakan, pasca ditinggal sang suami, dia tak memungkiri sangat merasa terpukul. Kendati demikian, dia sadar jika terlalu berlarut-larut dalam kesedihan justru membuat imunitas tubuhnya semakin menurun.

Akhirnya, dia berusaha bangkit dan kembali melakukan aktivitas positif untuk membuat kondisi tubuhnya membaik. ”Konsumsi obat-obatan dan vitamin yang sudah dianjurkan dokter, rutin saya minum meskipun jumlahnya sampai lima jenis obat,” ingatnya. Cara lain yang dilakukan Linda adalah dengan selalu mengonsumsi makanan lembut dan manis selama menjalani masa isolasi. Itu untuk meningkatkan mood dan nafsu makan. Seperti puding, agar-agar atau sponge cake. Selain tampilannya yang dinilai menggugah selera, jenis makanan ini mudah dicerna meski kondisi mulut masih terasa pahit.

”Di awal-awal kena Covid-19 dulu muntah kalau makan nasi. Makanya, saat terpapar lagi, pasti disiasati makan pakai yang manis-manis agar kebutuhan energi tetap tercukupi ketika masih diisolasi,” tukasnya. 

(mj/OCE/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya