alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Cerita Para Penyintas Covid-19

Sembuh Usai Beban Pikiran

13 September 2021, 10: 55: 59 WIB | editor : Imron Arlado

JAWA POS RADAR MOJOKERTO

Ketua DPRD Kota Mojokerto Sunarto. (RIZAL AMRULLOH/radarmojokerto.id)

Sunarto harus berjuang selama 20 hari untuk bisa sembuh dari paparan Covid-19. Kesembuhan itu berhasil dicapai setelah Ketua DPRD Kota Mojokerto ini melepaskan semua beban pikiran dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Pria yang akrab disapa Itok ini dinyatakan terinfeksi virus SARS-CoV-2 pada akhir Juli 2021 lalu. Dia tak sendiri, hasil tes swab PCR istri dan cucunya yang tinggal serumah juga kedapatan terkonfirmasi positif Covid-19. ’’Saya terpapar dari klaster keluarga,’’ ulasnya.

Merasa tanpa ada gejala, Itok sekeluarga awalnya memutuskan untuk menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumahnya. Namun, selang dua hari berikutnya, dia memilih untuk memboyong istri dan cucunya menjalani perawatan di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto.

Baca juga: Gagal Nikah, Gadis Ini Nyebur Brantas

Menurutnya, kaputusan itu diambil karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan lantaran dia dan istrinya sama-sama memiliki riwayat komorbid. ’’Karena itu, lebih baik mejalani perawatan di rumah sakit,’’ bebernya.

Kekhawatiran itu pun terjadi. Sejak dirawat di ruang isolasi RSUD, politisi PDIP ini mengalami perburukan kondisi. Kadar oksigen dalam darahnya mulai tidak stabil. Bahkan tingkat saturasi berada di ambang batas normal. ’’Waktu itu saya mikir kondisi istri dan cucu saya,’’ ulasnya.

Beruntung, Itok masih dalam keadaan sadar. Karena itu, tenaga kesehatan (nakes) harus memasang alat bantu oksigen agar tetap menjaga tingkat saturasinya. Meski begitu, kondisi tak kunjung pulih selama kurang lebih tiga hari.

Setelah dilakukan visite oleh dokter spesialis paru, dia disarankan untuk melepaskan semua beban yang ada di pikirannya. Sebab, Itok diketahui mengalami kondisi paling buruk dibanding istri dan cucunya yang tingkat saturasinya masih normal. ’’Sedangkan saturasi saya sendiri masih di ambang batas, antara 93-94. Akhirnya semua urusan lembaga, partai, dan keluarga, saya lepaskan semua. Pokoknya tidak mikir yang aneh-aneh,’’ ulasnya.

Hingga akhirnya, pada hari berikutnya kadar oksigen dalam darahnya berangsur normal. Secara berturut-turut, saturasi Itok naik menjadi 95-95, kemudian meningkat lagi jadi 97-98, dan terus stabil pada angka 99. ’’Setelah pikiran tenang, kadar oksigen di dalam darah bisa naik. Itu yang saya alami,’’ imbuhnya.

Setelah sudah tidak ada keluhan, Itok dan keluarga diperbolehkan pulang pada hari ke-8 dirawat di ruang isolasi RSUD. Perjuangannya untuk sembuh tidak berhenti di situ, karena dia masih tetap harus menjalani masa isolasi di rumah.

Itok terus rutin mengkonsumsi vitamin, makanan bergizi, dan konsumsi obat yang dianjuran dokter. Namun, setelah genap dua pekan menjalani karantina, uji swab ulang PCR-nya masih menunjukkan hasil positif. Sehingga, dia dan keluarga menambah lagi masa isolasi.

Berbagai ramuan herbal pun dikonsumsinya. Itok juga memiliki resep khusus dalam menjaga kadar oksigen dalam darahnya. Yakni, dengan menyeduh air rebusan daun sungkai. Selain itu, dia juga rutin melakukan aktivitas fisik dengan lari-lari kecil di lingkungan rumahnya.

Hingga akhirnya, tepat di hari ke-20, dia dan keluarganya dinyatakan negatif dari hasil uji swab PCR kali ketiganya. ’’Jadi, kuncinya untuk penyembuhan tidak cukup hanya mengandalkan vitamin dan obat. Pertama pikiran harus tenang dan terus berdoa pada Tuhan,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya