alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Penjaga Kantin Lapas Mojokerto Dilatih Padamkan Api

11 September 2021, 14: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

JAWA POS RADAR MOJOKERTO

PEMADAMAN: Peserta pelatihan pemadaman kebakaran melemparkan handuk basah dan menyemprotkan APAR ke kobaran api di halaman Lapas Kelas II-B Mojokerto, Jumat (10/9). (SOFAN KURNIAWAN/radarmojokerto.id)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kobaran api membara di halaman Lapas Kelas II-B Mojokerto, Jumat pagi (10/9). Ada yang melemparkan handuk basah, ada yang menyempotkan APAR (alat pemadam api ringan). Semua berjibaku menjinakkan kebakaran.

Bagian dari materi simulasi pemadakam kebakaran yang dilakukan lapas bersama UPTD Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Mojokerto tersebut sukses dilalui para peserta. Kegiatan ini diikuti sekitar 80 orang. Pelatihan ini untuk meningkatkan kewaspadaan dalam mengantisipasi ganguan keamanan. ’’Terkait mungkin kejadian yang tidak kita inginkan seperti bahaya kebakaran,’’ kata Kalapas Kelas II-B Mojokerto Dedy Cahyadi.

Menurutnya, kemampuan dasar memadamkan api perlu dimiliki seluruh pihak yang berada di lingkungan lapas. Sehingga, selain melatih petugas, baik pria maupun wanita, para penjaga kantin juga dilibatkan. ’’(Diikuti) seluruh jajaran di lapas dan juga mitra kerja kami dari kantin,’’ ujarnya.

Baca juga: Pra TMMD Ke-112, Kodim 0815 Renovasi Musala Punden dan Betonisasi

Salah satu ilmu yang diambil adalah mencegah kobaran api meluas. Hal ini dilakukan dengan menutup api dengan karung goni atau handuk basah serta menyeprotkan APAR. Untuk alat yang terakhir, setidaknya ada 20 tabung yang disebar di seluruh area lapas. ’’Kami punya 20 tabung Apar ukuran 9 kilogram dan handuk-handuk dan keran-keran air yang selalu siap,’’ jelas dia.

Pengetahuan ini, lanjutnya, tak bisa hanya diberikan melalui arahan. Sehingga, pihaknya menggandeng orang-orang yang ahli di bidangnya untuk memberi pelatihan. Dedy mengakui, simulasi pemadaman kebakaran ini tak lepas dari insiden kebakaran yang terjadi di Lapas Kelas I Tangeran. Sejumlah upaya preventif pun telah dilakukan. Salah satunya dengan pengecekan instalasi listrik di seluruh bagian lapas. ’’Kami menyadari lapas ini salah satu lapas yang tua. Karena didirikan tahun 1918 dan istalasi listrik sepertinya belum ada pembaruan,’’ ujarnya.

Kondisi tersebut tentu berbahaya. Mengingat, usia maksimal istalasi listrik adalah 20 tahun. Di tengah upaya pengusulan pemasangan ulang jaringan listrik, pihaknya melakukan pemeliharaan rutin terdapat saluran-saluran listrik yang dinilai usang. 

(mj/ADI/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya