alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
KPA Eko Yudi Prastowo Adi Nagoro

Kolektor Keris Era Kerajaan Majapahit hingga Mataram

10 September 2021, 13: 50: 59 WIB | editor : Imron Arlado

JAWA POS RADAR MOJOKERTO

WARISAN BUDAYA: Eko Yudi Prastowo menunjukkan koleksi keris yang dipajang di ruangan kantornya, Kamis (9/9). (fendi hermansyah/radarmojokerto)

Pria ini mengoleksi keris dari cara yang tak disangka-sangka sebelumnya. Meski masih keturunan Kasunanan Surakarta, awalnya keris bukan barang koleksinya. Lalu, bagaimana KPA Eko Yudi Prastowo Adi Nugroho mengoleksi keris hingga jumlahnya mencapai seribu pusaka tersebut?

FENDY HERMANSYAH, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

RUANG kerja Kanjeng Pangeran Arya (KPA) Eko Yudi Prastowo Adi Nugroho seperti kantor para pimpinan instansi kebanyakan. Yang membedakan adalah jajaran keris sebagai pajangan utama di ruanga kerjanya sebagai kepala Bank Jatim Cabang Mojokerto di Jalan Ahmad Yani, Kota Mojokerto.

Baca juga: Terpapar Covid-19, Usir Stres di Tengah Hutan

Di atas meja kayu berpelitur di salah satu sudut terdapat jajaran warangka keris berwarna emas. Lengkap pula dengan mata tombak yang terbungkus rangka warna kuning emas. Sedangkan latar belakang tempat duduk meja kerjanya berjajar dua rak keris. Setidaknya terdapat 10 lebih keris yang tampak terawat. Sambil menggenggam sebilah keris, Eko-begitu Eko Yudi Prastowo Adi Nugroho akrab disapa, menceritakan kegemarannya mengoleksi keris-keris pusaka kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

’’Sebenarnya ceritanya ini berawal sejak tahun 2010 silam,’’ ujarnya. Kala itu, tutur dia, istrinya yang bernama RR Ratna Setiawati pada suatu malam bermimpi. Keesokan harinya, mimpi itu diceritakan kepada Eko. ’’Istri saya mimpi dipanggil ke Keraton Sumenep dipanggil Arya Wiraja. Kemudian diminta duduk di kursi raja dan diberi pakaian kebesaran, mahkota, serta sebilah keris pusaka raja,’’ tutur pria keturunan bangsawan Kasunanan Surakarta ini.

Tak hanya diberi keris. Ratna juga diminta mencari tiga sumber mata air yang berbeda rasa. ’’Padahal istri saya itu tidak pernah ke Sumenep. Juga tidak tahu siapa Arya Wiraraja itu. Padahal, itu adalah penasihat Raja Singasari Kertanegara yang pintar, kemudian ditunjuk memimpin di Sumenep,’’ urainya yang kala itu masih berdinas di Lamongan.

Seiring bergulirnya waktu, mimpi Ratna berlalu begitu saja. Hingga pada Oktober 2013, Eko mendapatkan SK mutasi kerja ke Sumenep. Dalam perjalanan menuju Sumenep, Ratna kembali mengingatkan perihal mimpinya tahun 2010 silam. ’’Istri saya lantas meminta saya berkunjung ke Keraton Sumenep,’’ tandasnya. Setelah didatangi, ternyata ada keputren dengan tiga mata air yang rasanya berbeda. Satu mata air untuk spiritual, kedua untuk kederajatan, dan ketiga untuk keduniawian. ’’Karena saat mimpi, Arya Wiraja meminta agar meminum air dari sumber. Ya, saya minum saja sesuai cerita istri saya,’’ tegas dia.

Cerita tak berhenti begitu saja. Dia masih ingat pada suatu hari. Ketika itu hari Jumat. Sebelum menginjak waktu salat Jumat, dia kedatangan tamu tak dikenal ke kantor. Pria sepuh itu meminta bertemu Eko. ’’Lelaki sepuh. Dia nyari saya. Lalu menitipkan sebilah pusaka. Dia bilang keris itu hanya ditukar sarung. Karena di ruangan ada sarung, lalu saya berikan saja,’’ beber bapak dua anak ini.  Kejadian tak disangka-sangka itu membalikkan memori akan mimpi istrinya di tahun 2010 silam. Setelah dilihat betul, keris pemberian lelaki sepuh itu ber-luk 13. ’’Ternyata berdapur sengkelat,’’ tukas Eko. Tak disangka keris pemberian orang tak dikenal itu berdampak terhadap dirinya.

Sejak kejadian tahun 2013 di Sumenep itu, Eko merasakan banyak keris yang lantas mendatanginya. Sarananya berbeda-beda. Ada seseorang yang ingin menjual keris kepadanya. Ada pula yang sekadar memberi dan lainnya. ’’Hingga sekarang ini, ada seribu lebih keris dalam koleksi saya,’’ beber dia. Belakangan setelah dirinya mengenal banyak keris, jenis bahan, dapur, pamor, jenis warangka, dan lain-lainnya, keris pertama yang dimilikinya berbahan jenis besi katup.

’’Besi jenis ini dapat menarik besi yang lain,’’ terangnya. Lantas, bagaimana cara dia merawat ribuan keris itu, Eko mengaku merawat sendiri koleksinya yang kebanyakan ditaruh di kediamannya di Surabaya. Selain dibersihkan secara rutin, keris juga diminyaki. Dia menggunakan virgin coconuot oil (VCO). ’’Minyak itu agar tidak berkarat. Karena kalau berkarat besinya bisa geripis. Juga minyak wangi agar beraroma wangi,’’ tukasnya. Beragam jenis keris pusaka dikoleksinya. Mulai keris era Kerajaan Daha, Singasari, Majapahit, hingga Mataram Islam.

Dapur dan pamor keris koleksinya juga beragam. Luk keris pun beraneka mulai tanpa luk hingga luk 13. ’’Keris lurus atau lajer itu maknanya hidup itu harus leres atau lurus dalam upaya bersatu kepada Allah SWT,’’ imbuh Eko. Dia membeberkan setiap luk yang berupa angka ganjil memiliki filosofi tersendiri. Yang mana, itu selalu terkait dengan pandangan dalam berketuhanan. Seperti keris luk 11 berdapur sabuk inten, mengisyaratkan sabuk kehidupan manusia hanyalah belas kasih.

Lantaran, kata dia, hidup manusia berkat belas kasih Allah SWT. ’’Mandito,’’ terangnya. Begitu juga keris luk 13 yang bermakna las lasaning urip, akhir kehidupan. Hendak kemana kalau tidak bersatu dengan Allah, atau las lasaning urip manungso (mencari kehidupan setelah mati). ’’Itulah pakem sebuah keris maha karya nenek moyang kita yang disebut sebagai mustikaning manembah, dalam arti kepada Allah SWT,’’ tandas Eko. (ris)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya