alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Cerita Para Penyintas Covid-19

Terpapar Covid-19, Usir Stres di Tengah Hutan

10 September 2021, 07: 35: 59 WIB | editor : Imron Arlado

JAWA POS RADAR MOJOKERTO

i di tengah hutan. Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kabupaten Mojokerto Hartadi. (RIZAL AMRULLOH/radarmojokerto.id)

Pola hidup Hartadi berubah total setelah dinyatakan terpapar Covid-19. Selama 14 hari menjalani masa isolasi, dia rutin mengkonsumsi makanan bergizi, vitamin, dan rajin berolahraga setiap pagi. Bahkan, untuk menghindari stres, dia kerap menyalurkan ekspresi di tengah hutan.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kabupaten Mojokerto ini diketahui terinfeksi virus SARS-CoV-2 dari hasil tracing di awal tahun 2021. Saat itu, Hartadi menjadi satu dari 13 orang yang hasil tes swab PCR positif Covid-19. ’’Waktu itu saya tanpa ada gejala. Tapi saya sadar harus segera isolasi agar tidak menyebarkan virus ke orang lain,’’ paparnya.

Dia memutuskan untuk menjalani karantina di Wisma Isolasi Mandiri Puskesmas Dawarblandong. Di salah satu tempat isolasi terpusat (isoter) di Kabupaten Mojokerto itu, Hartadi mulai mengubah pola hidupnya.

Baca juga: PT Mertex Terbakar Selama 17 Jam

Dimulai dengan makan teratur tiga kali sehari dengan asupan makanan yang tinggi protein. Selain itu, ditambah pula obat-obatan, vitamin, dan probiotik yang diminum setiap hari. ’’Telur ayam kampung menjadi makanan wajib saat isolasi. Di samping itu juga dianjurkan minum susu,’’ ulasnya.

Tak hanya itu, aktivitas fisik juga dijalaninya tiap pagi. Termasuk menjemur badan di bawah sinar matahari pada pukul 10.00. ’’Pola hidup saya jadi berubah total. Karena biasanya makan tidak teratur jadi teratur, olahraga yang biasanya seminggu sekali menjadi setiap hari,’’ bebernya.

Merasa kondisi kesehatannya sudah pulih, Hartadi menjalani tes swab ulang di hari keenam isolasi. Namun, hasil tesnya ternyata masih dinyatakan positif Covid-19. Sehingga, dia harus tetap melanjutkan masa isolasinya.

Setelah sepekan berjalan, Hartadi melihat rekan-rekan sesama pasien isolasi mulai merasakan kejenuhan. Hingga akhirnya, dia memutuskan minta izin kepada tenaga kesehatan untuk keluar ke area terbuka di dekat wisma isolasi mandiri Puskesmas Dawarblandong. Tujuannya untuk meluangkan waktu sejenak untuk bisa melepas kepenatan. ’’Kebetulan Wisma Dawarblandong kan dekat dengan hutan. Saya bersama teman-teman pergi ke tengah hutan untuk berteriak sekencang-kencangnya. Pokoknya bisa bergembira,’’ ulas pria yang hobi bernyanyi dan bermain gitar ini.

Dengan menyalurkan ekspresi tersebut, kata Hartadi, dapat membantu mengurangi tingkat stres selama menjalani isolasi. Bahkan, treatment itu juga diyakini menjadi salah satu kunci hasil tes swab ulangnya di hari ke-10 dengan hasil negatif. ’’Dengan bergembira, paling tidak bisa menghilangkan stres. Karena teman-teman (sesama pasien) kebanyakan tidak terbiasa jauh dengan keluarga saat isolasi,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya