alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle
Ketika Drakor Menghipnotis Penggemar (habis)

Rentan Pengaruhi Emosi dan Perilaku Imitasi

09 Agustus 2021, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Psikolog Klinis Rumah Sakit Gatoel Kota Mojokerto Narmiasih.

Psikolog Klinis Rumah Sakit Gatoel Kota Mojokerto Narmiasih. (Narmiasih for Radar Mojokerto)

Drakor Korea turut membawa dampak pada pengaruh emosional remaja masa kini. Terlebih, mereka yang kental dengan masa yang penuh dengan segala impian dan cita-cita.

Sehingga, di masa inilah para remaja akan mencari jati dirinya dengan mencari tahu apa yang disukai. Yakni, melalui cara imitasi atau meniru tren yang sedang berkembang.

Psikolog Klinis Rumah Sakit Gatoel Kota Mojokerto Narmiasih mengungkapkan, ketika menginjak masa remaja, mereka rentan untuk mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, tentunya mereka mengikuti dari segala hal yang menjadi panutan bagi semua orang.

Baca juga: Kepincut Kopi Nusantara

Salah satunya adalah drakor. ”Dari alur ceritanya yang sangat kuat, membuat para remaja akan penasaran untuk terus mengikuti. Ditambah visual dari para pelakunya yang sangat menghipnotis mata,” paparnya.

Dia menambahkan, kondisi ini membuat para remaja akan terus ketagihan mengikuti tiap episodenya. Narmiasih menuturkan, kebiasaan melihat drama Korea bisa membawa dampak dari dua sisi. Dampak negatif dan positif. Oleh karenanya, semua dampak tersebut tergantung dari cara pandang dan pola pikir remaja dalam menyikapi hal tersebut.

”Mereka bisa menambah pengetahuan dari segi bahasa dan bisa mengenal kebudayaan asing, khususnya Korea. Tapi, yang meresahkan itu kalau anak malas belajar dan malas melakukan kegiatan sehari-hari,” jelasnya.

Selain itu, para remaja yang sedang berada di usia produktif, seharusnya memiliki istirahat yang cukup. Namun sebaliknya, tak jarang mereka lupa memperhatikan kondisi diri. Mulai dari makan, mandi, dan tidur. ”Ya, karena banyak remaja yang memgikuti drakor sampai larut malam karena tidak mau ketinggalan ceritanya,” papar dia.

Narmiasih menilai tingkat perilaku paling parah jika para remaja sampai melakukan tindakan imitasi. Sebab, mereka meniru tokoh pemeran drakor, mulai dari penampilan, gaya bicara, bahkan urusan asmara.

”Pasti selalu dikait-kaitkan dengan drakor yang romantis, bila pasangan atau pacar yang tidak bisa memiliki gaya yang diidolakan di drakor akan marah atau emosi. Bahkan, ada yang sampai cemas berlebihan,” jelasnya.

Narmiasih menambahkan, risiko bullying juga rawan terjadi akibat drama Korea. Pasalnya, kerap terjadi seorang anak yang ketinggalan dalam mengikuti episode cerita. Lalu, sang anak akan ditendensi oleh teman mereka karena dinilai tak update. ”Kondisi ini yang mengakibatkan anak lupa akan jam tidur malam, dipaksa dirinya untuk begadang,” tandasnya. (oce/ris)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya