alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle
Ketika Drakor Menghipnotis Penggemar (1)

Rasakan Histeria hingga Terbawa Cinta

09 Agustus 2021, 18: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kiki tengah menonton salah satu adegan drama Korea yang digemarinya.

Kiki tengah menonton salah satu adegan drama Korea yang digemarinya. (Sofan/Radar Mojokerto)

Tak dapat dipungkiri, drama Korea atau yang sering dikenal dengan sebutan Drakor ini sangat diganderungi berbagai kalangan, terutama generasi milenial. Saking gemarnya dengan serial dari Korea Selatan itu, mereka bisa menonton hingga beberapa episode sekaligus setiap harinya.

SEOLAH terbius dengan suasana film yang disuguhkan. Para pecinta drakor kerap mencontoh beberapa budaya asli mereka ke kehidupan sehari-hari. Sebab, alur cerita drakor yang dinilai seru dan relate dengan kehidupan sehari-hari.

Sehingga, kini budaya Korea itu seakan menjadi lumrah dapat ditemui di mana saja. Mulai dari makanan, gaya pakaian rambut, serta perilaku. Rizki Normalinda Saputri, salah satu pecinta drakor pun mengakuinya. Wanita yang kerap disapa Kiki itu menuturkan, dia tertarik melihat drakor sejak masih duduk di bangku SMP.

Baca juga: Aroma dan Pedasnya Melegendaris

Baginya, jalan cerita drakor berbeda dengan film negara lain. Tak hanya itu, terkadang ceritanya juga di luar ekspektasi penonton. ”Udah nggak kehitung berapa drakor yang dilihat. Jalan ceritanya seru, nggak bosenin,” ungkap Kiki.

Wanita 27 tahun itu mengungkapkan, drakor juga turut berpengaruh pada kehidupan sehari-harinya. Seperti, kebiasaan mencoba makanan ala Korea. Itu membuatnya penasaran bagaimana rasa makanan yang dinikmati oleh para pemain drakor.

Kiki juga terinspirasi menulis cerita fiktif berkat melihat salah satu film drakor. ”Ya, ceritanya ngambil dari drakor mana gitu terus aku tulis. Jadi kayak khayalan gitu,” ceritanya. Dia juga pernah sempat memutuskan untuk mengambil jurusan Sastra Korea. Dengan alasan, dia ingin belajar lebih banyak tentang negeri ginseng ini.

Apalagi, dia juga kerap mencari informasi tentang budaya dan kehidupan negara tersebut. ”Tapi, kalau menurut aku, budayanya orang sana lebih cenderung individualis sih. Asyik sih kelihatannya, tapi kalau di dunia asli jadi individualis serem rentan depresi,” papar warga Perum Magersari Indah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto itu.

Hal yang sama dirasakan Icha Rohma. Penggemar drakor yang kini duduk kelas X SMKN 1 Jetis itu juga membeberkan hal yang senada dengan Kiki. Tak jarang Icha mencoba tren mewarnai rambut agar terlihat seperti pemeran drakor yang sedang digemari banyak remaja kekinian.

Meski berhijab, tapi Icha merasa dengan mengikuti tren seolah ada kepuasan tersendiri. ”Ya suka aja. Gayanya bagus-bagus. Termasuk gaya berpakaiannya modis dan bisa diterapkan kalau yang pakai hijab,” imbuh gadis 15 tahun ini. Demi drakor, Icha rela tak tidur semalam suntuk agar tak ketinggalan setiap episodenya.

Sebab, lanjut dia, kalau tertinggal sedikit saja, bakal dianggap kudet oleh temannya. Dia menambahkan, per episodenya selalu memberi rasa penasaran pada penonton. Sehingga, sayang untuka dilewatkan. ”Ada greget sendiri. Jadi, biasanya mau tidur pukul 24.00, eh keterusan sampai subuh,” tandasnya. (oce/ris)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya