alexametrics
Selasa, 21 Sep 2021
radarmojokerto
Home > Journey
icon featured
Journey
Candi Jedong, Wotanmasjedong, Ngoro

Mahakarya Arsitektur Masa Lampau

23 Juli 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Imron Arlado

JAWAPOS RADARMOJOKERTO

Candi Jedong, Wotanmasjedong, Ngoro yang masih terlihat gagah dengan arsitektur masa lampau. (DWI ARIS SUPRIYANTO/radarmojokerto)

BANGUNAN candi lebih dikenal di kawasan Kecamatan Trowulan. Namun, bangunan masa lampau ini juga tersimpan di Kecamatan Ngoro. Tepatnya di Desa Wotanmasjedong. Candi ini mencerminkan mahakarya di masa silam.

Lokasinya berada tepat di atas kawasan Ngoro Industri Persada (NIP). Meski kurang dikenal wisatawan, namun kawasan ini memiliki akses jalan yang memadai.

Candi Jedong merupakan bangunan peninggalan sejarah berbentuk gapura paduraksa. Yakni gapura dengan bagian atasnya terdapat atap yang sekelilingnya penuh dengan hiasan dan ornamen ukiran.

Baca juga: Bingung Cari RS Kosong? Cukup Telpon Nomor Ini

Masyarakat setempat juga memberi masing-masing nama terhadap kedua bangunan gapura sebagai Candi Lanang untuk Gapura Jedong I dan Candi Wadon untuk Gapura Jedong II.

Penyebutan ini disebabkan bangunan candi yang dianggap berpasangan serta bentuknya yang hampir sama dengan ukuran yang berbeda. Serta adanya talut (dinding) penghubung dari batu bata yang menyatukan kedua gapura candi. Para ahli sejarah memperkirakan, candi ini sebagai peninggalan dari abad 14 masehi.

Kedua  bangunan candi tersebut dianggap sebagai pintu gerbang dari Desa Perdikan (Sima). Yang berarti sebuah desa bebas dari pembayaran pajak atau upeti di zaman Kerajaan Majapahit.

Hal tersebut diperkuat adanya goa dengan sumber mata air tidak jauh dari lokasi candi yang kerap dipercaya sebagai patokan masyarakat zaman dulu jika akan membangun sebuah pedesaan. Hingga kini, goa dengan sumber air tersebut masih digunakan masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari.

Di sekitar area candi, juga terdapat tiga buah petak sisa bangunan candi. Sisa bangunan candi yang hanya berupa kumpulan bebatuan andesit masih tertata rapi di pondasinya.

Belum ada keterangan pasti terkait tumpukan bebatuan tersebut. Namun, menurut pengelola, bebatuan itu adalah sisa bangunan candi yang tertanam di bawah tanah saat ditemukan. Struktur bangunan yang sangat ini mencerminkan mahakarya arsitektur masa lampau.

Tahun 1992 dilaksanakan studi Kelayakan Arkeologi (SKA) yang menghasilkan kesimpulan jika Candi Jedong layak dipugar dengan ketentuan pemugaran total. Pelaksanaan pemugaran Candi Jedong dimulai tahun anggaran 1993/1994 sampai dengan 2004 selama 11 tahap pemugaran yang dilaksanakan oleh Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

Objek wisata yang terletak tepat di kaki Gunung Penanggungan sebelah utara tersebut diharapkan menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang dapat memikat serta menarik atensi para wisatawan.

Tentunya setelah masa pandemi berakhir, karena dampak dari adanya PPKM Darurat, membuat semua objek wisata sejarah di Kabupaten Mojokerto harus ditutup total. Untuk masuk ke kawasan candi, para pengunjung tidak dikenakan biaya sepeser pun.

Apalagi jika cuaca sedang cerah, pesona keindahan gunung Penanggungan di kejauhan kerap digunakan sebagai latar belakang foto yang menawan. Eva Agustina salah satu pengunjung mengatakan ”suasana di Candi Jedong sangatlah asri dan memukau, cocok untuk berfoto ria sekaligus belajar sejarah,” katanya. (dwi/ron)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya