alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Koordinator Arisan Bodong yang Digawangi Mia

Ditagih Anggota, Harus Ganti Setoran, Terpaksa Jual Tanah

26 Mei 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Jami’ah dan Ngatining harus rugi hingga ratusan juta akibat uang arisannya ditilap Mia.

Jami’ah dan Ngatining harus rugi hingga ratusan juta akibat uang arisannya ditilap Mia. (Martda/Radar Mojokerto)

Ratusan emak-emak di Kecamatan Ngoro harus merugi akibat ikut arisan. Mereka adalah korban arisan Lebaran bodong yang digawangi Tarmiati alias Mia, 42. Mereka gigit jari lantaran uang arisan sekitar Rp 1 miliar itu ditilap Mia. Pun dengnan para koordinator arisan, harus menalangi uang arisan hingga ratusan juta rupiah.

KICAUAN burung mewarnai sore hari itu. Namun, merdunya nyanyian burung itu tak selaras dengan hati Jami’ah, 52. Ia gusar lantaran uang arisan ratusan juta yang disetorkannya pada Mia hilang tak tahu rimbanya.

Baca juga: Satu Ruang Dua Kelas, Satu Bangku Dua Siswa

Padahal, warga RT 1/RW 2 Dusun Sumberbendo, Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Ngoro, itu sudah menyetorkan uang dengan total sekitar Rp 173 juta pada Mia. Bukan tanpa maksud, itu adalah uang arisan periode 2020-2021 dari 102 anggotanya. ’’Mulai ikut arisan itu sejak tahun 2014 lalu waktu saya masih kerja di pabrik,’’ sebutnya.

Ia tak mengira arisan yang diikutinya sejak 7 tahun lalu itu harus berakhir di meja hijau. Pasalnya, baru tahun ini arisan Lebaran itu bermasalah hingga tak mampu membagikan jatah seluruh anggotanya. ’’Sebelumnya ndak ada masalah, lancar-lancar saja. Baru tahun ini yang sampai kayak gini,’’ imbuhnya.

Padahal, dari ratusan anggota yang dibawahinya rutin setor arisan setiap minggunya. Besarannya pun berbeda-beda, mulai puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah. ’’Setiap orang beda-beda, sesuai kemampuannya saja. Ada yang Rp 10 ribu, Rp 50 ribu, bahkan ada yang Rp 700 ribu,’’ sebutnya.

 Hasil arisan Lebaran itu pun bervariasi. Mulai berbentuk tabungan dengan bunga 5 persen hingga berbentuk barang kebutuhan Lebaran. Seperti kue, parsel sembako, hingga minuman kemasan.

Jami’ah mulai mengendus kebusukan Mia sekitar April lalu. Menjelang Lebaran yang mestinya hasil arisan itu dibagikan, malah tak kunjung digikan. ’’Sudah ndak pernah ketemu lagi. Kita datangi ke rumahnya orangnya ndak ada, nomor telepon juga diblokir,’’ terang wanita paro baya itu.

Lantaran semakin tidak jelas, Jami’ah dan beberapa peserta arisan lainnya melaporkan Mia ke Mapolsek Ngoro 15 April lalu. Bukan berarti selesai sampai di situ, Jami’ah juga ditagih uang arisan para anggotanya yang seharusnya dibagikan untuk tahun ini. Terus menerus ditagih ratusan anggotanya, mau tak mau ia pun menalangi.

Dengan terpaksa Jami’ah menjual tanah berukuran 29 x 14 meter di belakang rumahnya untuk menalangi uang arisan senilai Rp 173 juta. ’’Akhirnya saya terpaksa jual tanah buat mengganti uang arisan itu supaya ndak ditagihi orang-orang. Mau gimana lagi,’’ ungkapnya.

Jami’ah yang membangun bisnis kos-kosan di rumahnya itu pun jadi sasaran cibiran anggotanya. Dia sempat dilabrak sejumlah anggota lantaran dituduh bersekongkol dengan Mia untuk mendirikan sekitar 10 kamar kos di rumahnya itu.

’’Saya digeruduk anggota itu, dimaki-maki habis-habisan. Dikira saya bangun kos ini pakai uang arisan itu. Soalnya mereka ndak mau tahu karena mereka tahunya setor ke saya, gitu aja,’’ ungkapnya.

Dijelaskannya, dari 20 kelompok arisan yang dibawahi Mia setidaknya terdapat 400 emak-emak dari berbagai daerah. Bahkan dari luar Mojokerto. Namun, mayoritas korban adalah warga Kecamatan Ngoro. ’’Mayoritas anggota arisan ini orang Ngoro sendiri. Tapi ada juga yang dari Surabaya, Sidoarjo, sama Malang,’’ ucap Jami’ah.

Senasib dengan Jami’ah, Ngatining, 42, juga harus merasakan pahitnya arisan bodong itu. Arisan tersebut mulai bermasalah belakang ini. Pasalnya, koordinator dengan 54 anggota ini menilai sejak lima tahun terakhir arisan Lebaran itu tak pernah ada masalah.

’’Mau gak mau harus gadaikan BPKB motor, sertifikat rumah, sampai pinjam bank Rp 50 juta,’’ ucapnya saat berada tengah nimbrung di rumah Jami’ah. Rp 108 juta harus ditanggung Ngatining untuk menalangi hasil arisan bagi puluhan anggotanya itu. ’’Itu (hasil pinjaman) masih sekitar 50 persennya saja. Kalau keseluruhannya ya nunggu Mia,’’ imbuhnya.

Ia mengaku sempat mencari-cari keberadaan bos arisan Lebaran itu setiap hari. Meski hasilnya berujung hampa. ’’Kita sempat cari Mia ini di mana, bahkan setiap hari. Tapi ya ndak ketemu-ketemu sampai putus asa, akhirnya lapor polisi itu,’’ tandas Ngatining. (martda/abi)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya