alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features

Dua Keluarga Ini Terpaksa Menghuni Kandang Kambing

12 April 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

radarmojokerto.jawapos.com

MIRIS: Karmin, Kasimah, dan keluarga Sukarti, harus tinggal di gubuk reyot sekaligus kandang ternak yang berada di Dusun Seketi, Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang. (MARTDA VADETYA/radarmojokerto.jawapos.com)

Dapat dipastikan tak akan ada yang mau tinggal seatap dengan kambing maupun sapi. Apalagi menyinggung kebersihan dan kesehatannya. Namun, hal tersebut didapati di Kabupaten Mojokerto. Dua keluarga di Dusun Seketi, Desa Jatidukuh, terpaksa tinggal di gubuk reyot sekaligus kandang ternak tersebut.

MARTDA VADETYA, Gondang, Jawa Pos Radar Mojokerto

DUA gubuk reyot itu baru tampak setelah melalui sebuah gang sempit berukuran sekitar 0,5x8 meter. Berbatasan langsung dengan sawah yang ada di belakangnya di RT 2  RW 4 Dusun Seketi, Desa Jatidukuh. Gubuk sekaligus kandang kambing dan sapi itu sudah tak kukuh lagi. Tampak adanya tambalan di berbagai sisi. Tambalannya pun dari papan kayu seadanya dan tak beraturan.

Baca juga: Dua Siswi Raih Prestasi Tingkat Nasional

Kondisi dua gubuk itu tak jauh beda, sama-sama beralaskan tanah. Satu gubuk dihuni pasangan lansia, Karmin,70, dan Kasimah, 70. Satu lainnya dihuni keluarga Sukarti, 51. Mereka masih punya hubungan darah, yakni orang tua dan anak.

Sukarti yang telah menjanda itu tinggal bersama satu anaknya, Yoga. Mereka tinggal di gubuk dengan ukuran kurang lebih 5x6 meter persegi, yang di dalamnya juga terdapat kandang kambing. Rumah yang dihuninya hampir lebih dari lima tahun itu terbagi menjadi tiga sekat bambu. Ruang tamu yang sekaligus menjadi kamar tidur, dapur, dan kamar anaknya.

Tepat di sebelahnya, hanya berjarak 75 cm, sebuah gubuk lain dihuni kedua orang tua Sukarti. Karmin dan Kasimah. Gubuk itu berukuran kurang lebih 1,9x4 meter persegi. Di belakangnya, terdapat kandang kambing dan sapi berukuran sama. Gubuk selebar 1,9 meter itu menjadi dapur sekaligus kamar tidur pasutri lansia tersebut. ’’Sudah lima tahun lebih bapak, ibu, dan kakak saya yang pertama tinggal di gubuk itu,’’ ungkap Jamdi, 30, anak ke tiga pasangan Karmin dan Kasimah saat ditemui di kediamannya yang berada tepat di depan dua gubuk itu.

Kondisi gubuk yang ditempati keluarganya sangatlah jauh kata dari layak. Selain sempit, gubuk itu juga minim pencahayaan. Saat hujan turun, rumah tersebut kebocoran lantaran kondisi atap yang rapuh dan genting rusak. Untuk mengantisipasi bocor, Sukarti harus memberi pelapis plastik pada bagian atapnya. Bahkan, rumah yang dihuni keduanya juga berada jadi satu dengan kandang kambing dan sapi.

Menurut Jamdi, orang tua dan kakaknya yang seorang janda anak tiga itu bukan tidak ingin hidup sehat dan layak. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang serbasulit, membuat keluarganya terpaksa tinggal di gubuk itu. Di samping itu, Sukarti hanya bekerja sebagai buruh tani dan mencari sisa padi milik petani yang sedang panen (ngasak). Sedangkan orang tuanya sudah tak bekerja lantaran faktor usia dan sering sakit-sakitan. Sehingga kondisi itu kian memperburuk keadaan. Saat ini Karmin, Kasimah, dan Sukarti juga mengalami masalah pendengaran.

’’Dulu bapak itu tani, sekarang cuma ibu saja. Ibu sekarang buruh tani, itu pun kalau dibutuhkan saja. Sekarang yang ngarit dan ngerawat ternak ya ibu, bapak sudah ndak sanggup,’’ bebernya.

Kasmin yang semakin menua diperparah dengan penyakit yang dia derita. Lansia itu kini makin melemah. ’’Bapak sakit ginjal, ya kencing berdarah gitu,’’ imbuh Jamdi.

Orang tuanya yang tinggal di gubuk sekaligus kandang kambing dan sapi itu merupakan pilihan mereka sendiri. ’’Bapak dan ibu sudah kita tawari tinggal di rumah saya maupun kakak saya yang nomor dua, tapi ndak mau. Bapak dan ibu milih tinggal di situ sambil merawat kambing dan sapi,’’ tuturnya.

Untuk makan sehari-hari, Kasmin dan Kasimah terkadang dibantu oleh Jamdi dan Kasih (anak kedua). Lantaran penghasilan yang tidak menentu.’’Makannya ya seadanya. Kadang saya sama mbak saya yang kedua (Kasih) ngasih, gitu,’’ ungkapnya. Tampak sebuah layah dengan nasi aking berada di tungku gubuk Kasmin dan Kasimah.

Kamar mandi gubuk milik Sukarti dan orang tuanya itu menjadi satu. Mereka hanya mengandalkan sumber air dari aliran sungai yang ada. Kondisi air sungai saat ini yang tengah keruh pun terpaksa mereka gunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK). ’’Di sini pakai air sungai, kalau mau bikin sumur habis Rp 15 juta lebih. Itu buat mereka yang punya uang saja,’’ tuturnya.

Rumah Jamdi dan Kasih berada tepat di depan gubuk yang dihuni oleh kedua orang tua dan kakaknya itu. Kondisi perekenomian mereka sedikit lebih beruntung. Tampak dari hunian permanen yang mereka miliki. Kondisi perekonomian Sukarti yang kurang beruntung membuat anak terakhirnya, Yoga, putus sekolah dasar. Sementara anak pertama dan keduanya menimba ilmu di salah satu pondok pesantren di Desa Lengkong, Kecamatan Trowulan, secara gratis. ’’Kalau Yoga itu kelas empat, dia putus sekolah sudah sekitar setahun lalu,’’ sebutnya.

Sejauh ini, keluarga tak mampu itu hanya mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah. Tak ada bantuan lain dari pemerintah. ’’Cuma PKH itu aja, BLT dan BST enggak. PKH itu kan setiap bulan, tapi ya ndak cukup buat mereka sehari-hari,” tandasnya. (abi)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP
Artikel Lainya