alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Features
icon featured
Features
Tradisi Khas Menjelang Bulan Suci Ramadan

Ruwat Kampung di Punden hingga Gelar Megengan di Musala

09 April 2021, 20: 41: 12 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tradisi ruwatan kampung menjelang bulan Ramadan digelar warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon.

Tradisi ruwatan kampung menjelang bulan Ramadan digelar warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon. (Sofan/Radar Mojokerto)

Sejumlah tradisi khas menjelang Ramadan digelar masyarakat di saat pandemi berlangsung. Salah satunya ditunjukkan masyarakat Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon. Tradisi ini dinilai menunjukkan akar budaya leluhur yang masih terawat.

MASYARAKAT memiliki sejumlah tradisi khas yang masih dilestarikan di tengah modernitas. Bahkan, masih berlangsung di tengah suasana pandemi. Hal itu seperti terjadi di Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon.

Daerah yang masuk wilayah administratif Kota Mojokerto ini tak menyurutkan warga setempat untuk tetap melestarikan budaya warisan leluhur. Khususnya, digelar menjelang memasuki bulan suci Ramadan. Sebulan sebelum bulan Ramadan adalah bulan ruwah.

Baca juga: Ramadan Tahun Ini, Masjid Boleh Gelar Tarawih Berjamaah dan Tadarus

Bagi masyarakat budaya Jawa maupun Islam setempat, bulan ruwah memiliki cirinya sendiri. Yakni, masa untuk menggelar ruwatan alias pembersihan baik bagi pribadi maupun suatu kawasan. Tradisi ruwatan atau pembersihan diri tersebut rupanya masih rutin dilangsungkan di Lingkungan Kemasan.

Rutin setiap tahun apabila memasuki bulan ruwah pekan kedua selalu digelar ruwatan. ’’Orang sini sering menyebutnya ruwat kampung. Kalau di desa disebut bersih desa,’’ ungkap Wahyudi, 50, tokoh masyarakat Lingkungan Kemasan kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Wahyudi menceritakan, ruwah kampung digelar pada kamis pekan kedua bulan Ruwah. Sebelumnya didahului dengan khataman Alquran terlebih dahulu. Kemudian, digelar ruwatan di punden kampung yang berada di area makam Lingkungan Kemasan.

’’Kami lakasanakan di punden kampung di tempat makam tokoh yang membuka kawasan sini atau istilahnya yang babad kampung,’’ tuturnya. Lokasi makam itu sebelum acara dibersihkan terlebih dahulu.

Seluruh warga setempat turut menghadiri ruwatan di punden kampung. Mereka membuat tumpeng besar dan sajian khas kue serabi yang dibuat di rumah. ’’Sebelum pandemi, ada tumpeng besar dan serabi kami arak keliling kampung,’’ lanjut dia.

Pekan lalu, ruwatan digelar lebih sederhana karena dilaksanakan dalam suasana pandemi. Arak-arakan tumpeng ditiadakan. Tapi, prosesi khataman Alquran dan ruwatan tetap digelar. ’’Ruwatan menggunakan tumpeng yang lebih kecil.

Setelah doa yang dipimpin sesepuh kampung, tumpeng dimakan bersama,’’ imbuh sekretaris Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini.Tumpeng dalam ruwatan ini dibuat khusus. Biasanya berukuran besar hingga setinggi orang dewasa sekitar 160 centimeter (cm). Berisi nasi kuning, sayuran, dan masakan khas tradisional.

Untuk lauknya digunakan ikan baik ikan sungai maupun ikan laut. Sedangkan, sajian kue serabi menjadi penanda kekhasan pelaksanaan ruwatan kampung di Lingkungan Kemasan. Kue yang terbuat dari campuran tepung terigu dan tepung beras bersama gula, garam, dan kelapa parut ini dimasak secara tradisional.

Yakni, menggunakan maron/anglo dengan loyang bulat tanah liat. ’’Serabi ini kan bulat. Filosofinya, bunder tanpo jangka. Jadi, berbentuk bulat tanpa alat. Serabi ini dimaknai agar selalu ingat dengan kematian,’’ beber Wahyudi.

Tradisi tak berhenti di situ saja. Sepekan sebelum Ramadan, warga kembali ke makam. Biasanya melakukan ziarah makam. Membersihkan hingga berdoa di makam. Paling banyak biasanya dilaksanakan Kamis sore terakhir bulan ruwah.

Sehari menjelang Ramadan, masyarakat setempat menggelar tradisi megengan. Jika saat ruwatan warga membuat tumpeng beralas tempeh, saat megengan mereka membuat tumpeng beralas baskom.

Isiannya hampir mirip tumpeng ruwatan. Hanya saja, lauk yang digunakan lebih beragam. ’’Kalau megengan bebas pakai lauk sesuai selera,’’ imbuh dia. Sajian kue pun tersaji saat megengan. Pilihan kue tradisional tetap jadi pilihan. Yang khas adalah kue apem.

Bahan dasarnya mirip serabi hanya berbeda pada proporsi bahan dan keenceran adonan. ’’Apem ini dimasak pada cetakan. Kuenya putih melambangkan kesucian. Jadi harapan kita, sebelum Ramadan badan dan rohani kita suci,’’ tandasnya.

Tumpeng kecil, kue apem dan jajanan tradisional lainnya biasanya dibawa ke musala terdekat. Masing-masing warga membawa bekal itu saat Maghrib. ’’Selepas salat dilakukan doa bersama lalu makanan yang dibawa dimakan bersama. Warga bisa saling bertukar bekal. Sisanya dibawa pulang,’’ timpal Wahyudi.

Tradisi khas menjelang bulan Ramadan itu berlangsung setiap tahun. Wahyudi menyebutkan, untuk perayaan ruwatan kampung yang dikemas lebih semarak praktis dimulai tahun 2000 silam.

’’Ini uri-uri budaya sekaligus melestarikan warisan leluhur. Bentuk rasa syukur sekaligus pembersihan diri dan lingkungan,’’ pungkas dia. (ris)

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya