alexametrics
Selasa, 13 Apr 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Air Sungai Keruh, Warga Kesal Aktivitas Galian

08 April 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

radarmojokerto.jawapos.com

DIBLOKADE: Warga menutup akses menuju galian C menggunakan batang bambu dan pohon pisang. (vad/radarmojokerto.jawapos.com)

GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Warga Dusun SeketiDesa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto masih menolak aktivitas galian C di desa mereka. Dampak akibat aktivitas pertambangan di Dusun Pulo Rejo, Desa Bening menjadi pemicunya. Di antaranya, dugaan tercemarnya air sungai yang tiap hari dimanfaatkan warga untuk mandi, cuci, kakus (MCK).

AS, warga setempat, menjelaskan, sekitar 225 kepala keluarga (KK) penduduk Dusun Seketi, Desa Jatidukuh bergantung pada aliran air sungai.

Air sungai tersebut dialirkan ke setiap rumah warga melalui pipa. Namun, sejak beroperasinya galian C di Dusun Pulorejo, Desa Bening tak jauh dari Dusun Seketi itu membuat sungai tercemar. ”Sejak ada galian itu air sungai jadi keruh berlumpur. Padahal, warga setiap harinya pakai air sungai itu buat madi, cuci-cuci, dan lainnya (MCK). Kalau untuk masak dan minum beli air galon atau isi ulang terus digodok lagi,” ujarnya.

Baca juga: Warna Cabai Luntur saat Dimasak

Galian pasir dan batu (sirtu) tersebut mulai beroperasi sekitar Mei tahun lalu. Sementara lokasi galian tersebut berada lebih tinggi ketimbang aliran sungai yang mengaliri Dusun Seketi. ”Bahkan truk yang muat batuan besar yang masih ada lumpurnya itu nyucinya juga di sungai dekat gapura dusun sini,” tambah AS. Hingga kini, 225 KK warga Dusun Seketi masih belum ada yang memiliki sumur bor. Sehingga, warga menuntut pemilik galian untuk mencantumkan sumur bor sebagai syarat diberikannya izin dalam perjanjian tertulis.

Namun, hingga kini sumur bor dan beberapa syarat lainnya tak kunjung terwujud. ”Perjanjian (membangun sumur bor) dengan warga itu sudah lama, tahun lalu itu. Bahkan sudah berkali-kali bikin perjanjian (dan persyaratan) lagi ya masih saja pemiliknya itu ingkar janji. Nggak ditepati. Nggak ada wujudnya sampai sekarang,” ungkap pria 30 tahunan itu.  AS menambahkan, meski sudah sekitar dua pekan tak beroperasi, air sungai yang dialirkan ke rumah warga tampak masih kecokelatan. Air sungai tersebut tak serta merta bisa berubah menjadi jernih meski aktivitas galian sudah tak beroperasi sejak warga menutup aksesnya.

Pasalnya, musim penghujan saat ini turut memengaruhi kualitas air sungai. ”Waktu galiannya beroperasi malah lebih parah lagi, warnanya lebih pekat,” sebut dia. Di samping itu, dampak adanya aktivitas galian C yang menjadi polemik tersebut turut membuat jalan dusun menjadi licin dan rusak. Jalan menjadi licin akibat truk muatan sirtu membawa lumpur dari galian. ”Minimal itu sehari ada 10 truk yang lewat lewat jalan situ. Nah, truk-truk itu juga bawa lumpur, jadi jalannya licin,” bebernya.

Adanya galian aktivitas galian C tersebut turut membuat warga Dusun Seketi tak rukun. Bahkan pro dan kontra timbul di tingkat internal keluarga. ”Ada suami-istri yang bertengkar tiap hari gara-gara beda berselisih pendapat itu. Bahkan ada keluarga yang mendukung pemilik galian itu dikucilkan sama warga,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jatidukuh Zainal Arifin mengatakan adanya sumur bor di Dusun Seketi dirasa perlu. Apalagi, semenjak timbulnya pencemaran air sungai akibat aktivitas galian sirtu tersebut. ”Ya, memang benar begitu (air keruh tercemar), wong saya saja juga beli air galon buat dimasak lagi,” ujarnya kemarin. Dia menambahkan, warga yang menuntut sebuah sumur bor sebagai salah satu bentuk kompensasi pada pemilik galian. Itu sebagai salah satu upaya alternatif agar  warga tetap bisa mendapatkan air bersih tiap harinya.

Sayangnya, proses hitam di atas putih itu tanpa sepengetahuan pihak desa. ”Tahu-tahu saya sudah dapat fotokopi (perjanjian) saja,” imbuhnya. Hal tersebut kian diperparah dengan sikap pemilik galian dinilai tak menepati perjanjian dengan warga. Namun, pihak desa sendiri sudah mencanangkan bakal membangun sebuah sumur bor untuk warga Dusun Seketi. Hal tersebut sudah direncanakan sekitar tiga tahun lalu. Diperkirakan bakal terealisasi akhir tahun ini.

”Itu sebenarnya sudah dicanangkan desa menggunakan dana desa (DD) tahun ini. Insyaallah nanti satu sumur bor itu bisa terealisasi antara Agustus-Desember nanti. Itu nanti juga dengan mobil desa karena selama ini masih belum punya,” tukasnya. (vad)

(mj/ris/ron/JPR)

 TOP