alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Diserang Chikungunya, Warga Alami Demam, Meriang, dan Nyeri Persendian

25 Maret 2021, 20: 02: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga di Lingkungan Balongkrai RT 2, RW I, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon mengalami gejala menyerupai chikugunya.

Warga di Lingkungan Balongkrai RT 2, RW I, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon mengalami gejala menyerupai chikugunya. (Indah Oceananda/Radar Mojokerto)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Virus chikungunya perlahan menghantui warga Kota dan Kabupaten Mojokerto sebagai wilayah endemis. Tercatat, sudah ada 13 warga di Lingkungan Balongkrai, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto mengalami gejala demam, meriang, gangguan persendian, dan mual-mual.

Kasus tersebut ditemukan berdasarkan laporan salah seorang warga yang mengalami gejala, seperti chikungunya. ”Total ada 13 orang mengalami gejala meriang dan nyeri persendian yang mengarah ke chikungunya. Ini akan kita laksanakan pemantauan, khususnya dokter dan perawat akan memeriksa,” tutur Plt Kepala Tata Usaha (TU) Puskesmas Mentikan Arif Hartadi, Rabu (24/3).

Arif bersama seorang tenaga kesehatan (nakes) sudah mendatangi warga yang diduga mengalami serangan chikungunya tersebut. Termasuk, memeriksa pasutri, Wahyudi 49, dan Sulistyaning, 50. Dia mana, sebelumnya, satu keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan dua anak ini mengalami gejala serupa.

Baca juga: Tak Ada Biaya, Mampu Lahirkan Dalang Kelas Nasional

Bahkan, hingga kemarin Sulistyaning masih terbaring lemas di atas kasur ruang tengah. Untuk duduk, berdiri, dan berjalan saja, dia harus dibantu suaminya. Arif menyatakan, dari keluhan masyarakat kini hanya Sulistyaning yang dinyatakan belum sembuh. Sementara, 12 warga lainnya sudah pulih, dan dilakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan rumah  warga.

"Saya cek ini tadi (kemarin, Red) ada satu warga yang masih nyeri dan kesulitan berjalan. Tapi, sudah mendapatkan pengobatan, rencana besok (hari ini, Red) akan kita cek darahnya," paparnya. Pengecekkan darah bertujuan untuk memastikan warga tersebut terkena infeksi virus chikungunya atau tidak.

Dia menambahkan, pihaknya akan berkordinasi dengan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Mojokerto Mojokerto untuk mengambil langkah. Seperti melakukan pemeriksaan, pendataan, sekaligus mengantisipasi penyebaran penyakit ini lebih dini.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, Sulistyaning masih mengalami nyeri pada persendian dan tidak mampu berjalan. Sehingga, masih  tergolek lemas di tempat tidur. Dia  mengaku sudah merasakan demam sejak Minggu (21/3). Kemudian, pada Senin (22/3) pagi kedua kakinya tak bisa digerakkan.

”Sudah tiga hari saya berbaring seperti ini, satu rumah kena semua. Suami malah baru sembuh hari ini (kemarin, Red), anak saya dua-duanya juga mengalami gejala yang sama. Hanya saja masih sanggup berjalan,” tutur wanita yang sehari-hari membuka warung di Jembatan Rejoto itu.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) DKP2KB Kota Mojokerto, dr Farida Mariana menegaskan, selama pandemi baru ini ada laporan kasus chikungunya. Hal tersebut dimaklumi, lantaran saat ini memang masih masuk dalam musim hujan. Sehingga, penyakit yang disebabkan melalui penularan nyamuk sangat rawan.

”Iya, selama pandemi, baru ini ada laporan chikungunya yang masuk. Tapi, memang sekarang musim nyamuk jadi gerakan 3M (menutup, menguras, dan mengubur) harus lebih dipromosikan lagi,” tutur Farida.

Pihaknya sudah meminta Puskesmas Mentikan untuk segera menangani kasus tersebut. Namun, mantan kepala Puskesmas Blooto ini mengingkat, tingkat kegawatdaruratan chikungunya masih jauh di bawah demam berdarah dengue (DBD).

Meskipun sama-sama ditularkan melalui virus, namun Farida memastikan bahwa chikungunya bisa sembuh dalam waktu seminggu. Asalkan, diimbangi dengan terapi pengobatan serta konsumsi makanan dan vitamin yang teratur.

”Kalau berdasarkan kegawatdaruratan masih jauh di bawah DBD, cuma memang yang bikin panik warga kan karena tidak bisa jalan itu,” ungkapnya. Farida menambahkan DKP2KB Kota Mojokerto sudah berkoordinasi dengan RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo untuk ikut menangani masalah ini.

Sebab, bisa saja kemungkinan pihak puskesmas tidak bisa menangani komplikasi dari penyakit tersebut. Maka, tindak lanjutnya bakal langsung dilarikan ke rumah sakit pelat merah tersebut.

”Untuk mengatasinya, tetap gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) harus digencarkan lagi. Kami ndak pakai fogging. Sebab, PSN sudah jadi ikon Kota dan itu harus dimasifkan bahwa PSN harus benar-benar sejalan. Jadi, DBD kena chikungunya pasti juga kena,”tukasnya.

Tak hanya terjadi di kota. Di Kabupaten Mojokerto juga didapat ada 217 kasus chikungunya yang terjadi selama Januari hingga bulan ini. Padahal, di tahun 2020 lalu tercatat kasus selama satu tahun sebanyak 151 kasus.

Kasus tersebut merupakan laporan dari masing-masing puskesmas dan permintaan fogging di 18 kecamatan. ”Memang paling banyak terjadi kasusnya ada di empat kecamatan, yaitu Puri, Sooko, Kutorejo, dan Pungging,” jelas Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Langit Kresna Janitra.

Justru, di wilayah pegunungan, seperti Kecamatan Pacet dan Trawas sepanjang Januari hingga saat ini belum pernah ada permintaan fogging. Langit menyebutkan, meski dilakukan pengasapan namun tetap dari Dinkes juga menerapkan metode PSN.

Namun, dia meminta warga untuk tetap waspada pada musim-musim ini. Sebab, hampir seluruh wilayah Mojokerto merupakan wilayah endemis. Sehingga, penularan penyakit yang disebabkan  nyamuk jenis aedes Spp dan aedes albopictus itu rentan menjangkiti semua golongan umur.  ”Jadi mau bersih atau tidak tempatnya, tapi kalau berpotensi menjadi tempat genangan ya tetap bisa tertular,” tukasnya. (oce)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya