alexametrics
Selasa, 13 Apr 2021
radarmojokerto
Home > Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Stok Buku Nikah Menumpuk

20 Maret 2021, 13: 10: 59 WIB | editor : Imron Arlado

radarmojokerto.jawapos.com

PROTOKOL KESEHATAN: Prosesi penyerahan buku nikah kepada pasangan pengantin di wilayah KUA Sooko, Kabupaten Mojokerto. (rizal amrulloh/radarmojokerto)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pandemi yang berkepanjangan membuat banyak pasangan berpikir ulang untuk menikah. Itu ditandai dengan merosotnya angka pernikahan di Kabupaten Mojokerto. Bahkan, stok buku nikah tahun lalu masih menumpuk di Kantor Kemenag Kabupaten Mojokerto.

Kasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Kantor Kemenag Kabupaten Mojokerto Abdul Aziz menjelaskan, sejak awal pandemi 2020 jumlah pengajuan pernikahan di 18 Kantor Urusan Agama (KUA) mengalami penurunan. Terlebih, di awal wabah Covid-19 April tahun lalu, kemenag sempat moratorium pelaksanaan nikah meski kemudian pendaftaran dibuka kemballi dengan protokol kesehatan (prokes) ketat. ’’Makanya di tahun 2020 pernikahan menurun dibanding 2019,’’ terangnya.

Sebelum pandemi, kemenag mencatat sebanyak 9.635 pernikahan di tahun 2019. Namun, di sepanjang 2020 lalu trennya menurun cukup tajam dengan hanya 8.951 pasangan yang menjalani ijab kabul. Padahal, kata dia, tahun lalu pihaknya menyiapkan sebanyak 9.500 lebih blangko buku nikah. ’’Jadi 2020 itu tidak habis, sehingga sekarang masih ada stoknya buku nikah di sini (Kemenag Kabupaten Mojokerto, Red),’’ paparnya.

Baca juga: Pemotor asal Canggu Disambar Truk, lalu Terlindas Mobil

Karena itu, pihaknya belum mengadakan stok buku nikah untuk tahun ini. Selain di kemenag, dokumen sebagai bukti sah pernikahan itu juga masih tersedia di sejumlah KUA. Sehingga, setiap pasangan pengantin yang telah menjalani akad tahun ini bakal diberikan buku nikah tahun lalu untuk menghabiskan stok lama. ’’Biasanya kalau sudah menipis kita langsung komunikasi dengan Kanwil (Kemenag Jatim). Nanti kanwil komunikasi dengan pusat untuk segera dikirim,’’ beber Aziz.

Terlebih, jumlah pernikahan di awal 2021 ini juga masih belum menyentuh garis normal. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi pasangan yang memilih menunda pernikahan.

Pada periode Januari-Februari tahun ini, total pernikahan di Kabupaten Mojokerto sebanyak 1.247. Dengan demikian, dalam dua bulan terakhir rata-rata di tiap KUA hanya terdapat 69 peristiwa nikah. ’’Tahun ini kayaknya masih menurun juga. Karena masih suasana pandemi,’’ paparnya.

Kendati demikian, masing-masing KUA tidak dibatasi menerima pendaftaran menikah. Aziz menyebut pembatasan hanya diterapkan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19. Meski telah diperbolehkan untuk melangsungkan akad di luar kantor KUA, tetapi jumlah peserta yang menghadiri prosesi ijab kabul dilakukan pembatasan. Berdasarkan Surat Edaran (SE) Dirjen Bimas Islam tentang Pelayanan Nikah Menuju Masyarakat Produktif Aman Covid-19, pernikahan di rumah hanya diperbolehkan maksimal 10 orang. Sedangkan jika prosesi janji suci dilakukan di masjid atau gedung pertemuan, jumlah peserta tidak boleh melebihi 20 persen dari kapasitas ruangan. ’’Hingga sekarang kita tetap memberlakukan pembatasan. Tapi kalau peristiwa nikah tidak kita batasi, hanya saat pelaksanaan saja dibatasi yang hadir,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP