alexametrics
Selasa, 13 Apr 2021
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Pengarang Sastra Jawi Asal Mojokerto (1)

Kowe Wis Lega Mampu Kobarkan Semangat Pemuda

18 Maret 2021, 19: 32: 59 WIB | editor : Imron Arlado

radarmojokerto.jawapos.com

ABADI: Buku kumpulan cerita pendek dan puisi karya St. Iesmaniasita. (Sofan Kurniawan/Radarmojokerto.jawapos.com)

Di awal kemerdekaan, Mojokerto telah mampu mewarnai sastra Tanah Air. Eksistensi tersebut berkat karya-karya Sulistyo Utami Iesmaniasita.Semasa hidup, pengarang yang dikenal dengan nama pena St. Iesmaniasita itu konsisten menggoreskan tulisannya dengan bahasa Jawa. Hingga akhir hayatnya, ratusan geguritan, cerita pendek (cerpen) serta puluhan karangan cerita basa Jawi lainnya dia wariskan bagi generasi penerusnya.

St. Iesmaniasita lahir di Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto pada 18 Maret 1933. Di era pemerintahan kolonial itu, Iesmaniasita tergolong beruntung dibanding anak-anak lainnya. Sebab, putri Jaya Wirasastra ini berkesempatan mengenyam bangku pendidikan. ’’Orang tuanya memasukkan Iesmaniasita ke Sekolah Rakyat (SR) yang ada di desanya,’’ ujar Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.

Tidak hanya di tingkat dasar, Iesmaniasita juga melanjutkan ke lembaga jenjang setara SMP di Sekolah Guru Bantu (SGB) di Jalan A. Yani, Kota Mojokerto. Di sekolah yang kini menjadi SMPN 2 Kota Mojokerto itu dulu merupakan lembaga pendidikan yang khusus untuk mencetak calon guru tingkat sekolah dasar.

Baca juga: Buruh Proyek Gantung Diri

TIMBA ILMU: Eks Sekolah Guru Bantu (SGB) yang kini menjadi SMPN 2 Mojokerto tempat St. Iesmaniasita mengenyam pendidikan.

TIMBA ILMU: Eks Sekolah Guru Bantu (SGB) yang kini menjadi SMPN 2 Mojokerto tempat St. Iesmaniasita mengenyam pendidikan. (rizal amrullah/radarmojokerto)

Pendidikan SGB diselesaikan hingga tahun 1954. Setelah itu, Iesmaniasita mulai melaksanakan tugas sebagai guru di salah satu sekolah dasar. ’’Di usia 21, ia (Iesmaniasita) sudah aktif menulis,’’ ujar pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Sebuah geguritan berjudul Kowe Wis Lega menjadi salah satu karya yang dilahirkan Iesmaniasita di usia muda. Bahkan, karya puisi tersebut yang tidak semata tulisan curahan perasaan, melainkan juga berisi ungkapan untuk mengobarkan semangat generasi muda.

Kegaiatan menulis Iesmanita berlanjut dengan menghasilkan beberapa cerpen berbahasa Jawa. Karangan itu kemudian dikirimkan ke berbagai media cetak berbahasa Jawa. Seperti Penjebar Semangat, Jayabaya, Kumandhang, dan media lain-lainnya.

Koordinator Bidang Penggalian Objek Pemajuan Budaya Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menyebut, dari beberapa karangan Iesmaniasita juga ada yang dimasukkan dalam buku antologi bersama penulis lainnya. Salah satunya berjudul Kidung Wengi Ing Gunung Gamping yang diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta tahun 1958. ’’Buku Kidung Wengi tersebut membuka jalan lahirnya buku-buku lainnya,’’ tandasnya.

Yuhan  mengatakan, jelas bukan perkara mudah bagi seorang penulis daerah untuk bisa menerbitkan karyanya di penerbit ternama di ibu kota itu. Sebagai seorang penulis produktif, nama St. Iesmaniasita pun cukup kondang kala itu.

Padahal, di sela-sela kegiatannya sebagai pengajar dan penulis, Iesmaniasita masih menyempatkan diri melanjutkan belajar dengan mengikuti Kursus Guru Atas (KGA) hingga dinyatakan lulus pada 1963. Selain untuk mendapatkan ijazah setara SMA, lulusan KGA juga bisa mendapatkan tiket untuk mengajar di SMP.

Setelah itu, menyusul terbit buku-buku Iesmaniasita lainnya. Antara lain, antologi 5 cerpen dalam Kringet Saka Tangan Prakosa (Jayabaya, 1974), antologi 3 cerpen dan 20 puisi dalam Kalimput ing Pedhut (Balai Pustaka, 1976). Selain itu, Bu Is -sapaan akrab Iesmaniasita- juga menulis sebuah puisi berbahasa Indonesia berjudul Kacang Kedelai (Citra Jaya Murti, Surabaya, 1988), antologi puisi dalam Mawar-Mawar Ketiga (Yayasan Penerbit Jayabaya, Surabaya, 1996).

Di samping karya cerpen, Iesmaniasita juga menghasilkan buku geguritannya yang terbit dengan judul Sajak-Sajak Jawi yang diterbitkan oleh Pustaka Sasanamulya Surakarta pada tahun 1975. 

(mj/ram/ron/JPR)

 TOP