alexametrics
Rabu, 16 Jun 2021
radarmojokerto
Home > Sambel Wader
icon featured
Sambel Wader
Farit Jatmiko

Menjaga Eksistensi dan Konsistensi di Tengah Kesenian Kontemporer

30 Januari 2021, 21: 17: 50 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ketua PC. ISHARI NU Kabupaten Mojokerto Farit Jatmiko.

Ketua PC. ISHARI NU Kabupaten Mojokerto Farit Jatmiko. (Farit Jatmiko for Radar Mojokerto)

”Menyanjung keagungan Sang Kekasih, laksana orang merasa haus di tengah lautan dan meminum air laut. Semakin diminum, semakin merasa haus.”

MELIHAT dan atau membincang Ishari (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) terutama dengan anak-anak muda atau kaum milenial, kita akan banyak mendapatkan penilaian kuno, ketinggalan zaman, jumud, dan tidak berkembang.

Pendapat umum ini sebenarnya wajar adanya. Karena Ishari sejak dikenal di tanah air di zaman masa penjajahan Belanda, hingga hari ini tidak banyak berubah, atau bisa disebut tidak pernah berubah.

Baca juga: Kabupaten Kembali Terima 4.360 Vaksin

Irama rebana yang jamak disebut ’terbang’, hingga saat ini iramanya sama: tak-dik, tak-dik, tak-dik-tak. Bandingkan dengan salawat Albanjari, atau jenis salawat modern lainnya yang telah menggunakan berbagai alat musik. Belum lagi irama lagu yang dibawakan vokalis yang biasa disebut ’pembawa’, lagunya begitu-begitu saja dengan cengkok yang hampir seragam.

Menurut Al Alim Al Allamah Al Habib Muhammad Luthfi Ali bin Yahya, Mursyid ’Am Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN), hadrah ini pertama kali dibawa ke tanah Jawa oleh Habib Syekh bin Ahmad Bin Abdulloh bin Ali Bafaqih, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Syekh Boto Putih.

Ulama kelahiran Yaman ini datang ke Surabaya pada tahun 1812 dan mulai berdakwah di Jawa yang saat itu sedang dalam kekuasaan Kolonial Belanda. Pada tahun 1888, Habib Syekh Boto Putih wafat, akan tetapi amalan salawat yang diisi dengan pembacaan kitab Diwan Hadroh ini tetap lestari.

Bahkan, pada perjalanannya, pembacaan salawat hadrah ini kemudian dipadukan dengan pembacaan kitab Maulid Syarofal Anam. Hal ini tak lepas dari sentuhan ijtihad yang dilakukan KH. Abdurrokhim bin Abdul Hadi Pasuruan, yang tak lain adalah cucu dari murid Habib Syekh Boto Putih: Syekh Abdurrohman Bawean.

Dari tahun ke tahun, jamaah yang mengikuti salawat hadrah ini hampir merata di Jawa Timur, sejumlah daerah di Jawa Tengah dan sebagian kabupaten di Kalimantan. Sehingga peran jamaah hadrah ini semakin strategis di tengah pendudukan Belanda.

Diceritakan, lancarnya kegiatan musyawarah pembentukan komite hijaz pada tahun 1926, serta sejumlah pertemuan ulama di Jawa setelahnya berkat adanya kegiatan terbangan alias hadrah ini. Karena pemerintah Belanda menganggap, bahwa perkumpulan tersebut merupakan hiburan atau pertunjukan yang tidak mengandung kegiatan politik.

Atas usulan dari para ulama NU seperti KH. Mahrus Ali(Lirboyo), KH. Bisyri Sansuri(Jombang), KH.Idham Kholid(Cirebon), KH. A. Syaiku (Jakarta), KH. Syaifuddin Zuhri, dan beberapa ulama di Kabupaten Pasuruan seperti:KH. Ahmad Jufri, KH. Mas Imam, KH Abdulloh bin Yasin, sertaatas perintah dari KH. Wahab Chasbulloh (Rois Am PBNU), pada tahun 1962 jamaah hadrah ini kemudian dimasukkan menjadi Badan Otonom NU pada Muktamar ke-23 di Solo, dengan nama ISHARI yang merupakan kepanjangan dari Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia.

Penggunaan kata ’Republik’ ini dimaksudkan untuk membentengi agar Ishari tidak disusupi gerakan komunis yang saat itu sedang gencar. Dan, dejak saat itu Ishari mulai terstuktur, dari mulai pusat, wilayah, hingga ke tingkat ranting. Ishari yang juga disebut sebagai salah satu tarekat (thoriqoh), memang menitikberatkan pada mahabbah Rasul (kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW).

Akibatnya, para pengurusnya enjoy pada kerinduan dan rasa syukurnya atas diutusnya Nabi Muhammad oleh Allah SWT. Sehingga banyak melupakan perkara administrasi dan organisasi. Karena bagi mayoritas pegiat Ishari; irama dan lagu dalam diwan hadroh serta rowi dalam Maulid Syarofal Anam ditambah irama tak-dik-tak dari terbang yang dipukul sepanjang majelis hadrah, memberikan efek tersendiri bagi para pengurus maupun muhibbin Ishari. 

Hal inilah yang menjadikan organisasi Ishari menjadi tidak terurus dengan baik dan mengakibatkan Ishari sempat dikeluarkan dari Badan Otonom NU, dan masuk dalam pembinaan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI), serta sempat juga berada di bawah pembinaan JATMAN.

Muktamar NU di Jombang, 2015, ISHARI NU kembali diresmikan menjadi badan otonom dengan tantangan berat: menata organisasi. Agar wadah berkumpulnya para pecinta Nabi Muhammad SAW ini dapat merawat dan melestarikan warisan budaya ulama Nusantara, dan mewariskan nilai-nilai cinta Rasul ini kepada generasi penerus.

Melalui semangat Pelantikan Pimpinan Cabang dan Musyawarah Kerja Cabang ISHARI NU Kabupaten Mojokerto dengan tema ”Penguatan Organisasi Menuju Era Emas Nahdlatul Ulama”, kami akan berusaha sekuat tenaga agar secara organisasi ISHARI NU ini semakin berdaya-guna di masa depan. Sehingga tidak ada lagi kata kuno; jumud; ketinggalan zaman yang mengarah pada ISHARI NU.

Bagaimana warisan budaya ulama Nusantara ini bisa kontekstual melalui penghayatan dan penanaman rasa cinta kepada Nabi SAW dan keluarganya. Penguatan organisasi dan penataan administrasi, tentu menjadi salah satu penglima, agar wadah ini bisa lestari.

Ditambah dengan kemandirian ekonomi organisasi merupakan syarat mutlak organisasi modern agar bisa berkembang dan tak lekang zaman. Ditunjang dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) pimpinan dan jamaah ISHARI NU.

Terakhir, adalah peningkatan kualitas ber-ISHARI sebagaimana pesan dari KH. Chusen Ichsan. Kesakralan berhadrah harus terjaga dan dilakukan dengan adab dan takzim, sebagaimana salah satunya tertulis di kitab Risalatul Muhimmah yang ditulis pengasuh Pondok Pesantren Al-Ichsan Brangkal tersebut.

Akhiron, di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini, cita-cita melestarikan seni hadrah sebagai warisan ulama Nusantara, maupun sebagai salah satu wadah pendidikan karakter anak bangsa akan sulit terwujud tanpa dukungan multipihak. Untuk itu, kritik saran serta sumbang pikiran tentu kami harapkan, agar ISHARI NU semakin berkembang dan bermanfaat di tengah masyarakat. (*)

*)Penulis adalah Ketua PC. ISHARI NU Kabupaten Mojokerto.

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya